Home » Prilaku kaum miskin kota » Waduk Pluit Semakin Terbuka

Waduk Pluit Semakin Terbuka

Kaum miskin kota memang mentalnya sudah rusak.. dikasih rusun mereka malah tetap ingin bertahan didaerah kumuh.  Karena di kekumuhan ini mereka mendapatkan “kebebasannya” .. Bebas tidak bayar sewa, bebas tidak usah bertanggung jawab, bebas tidak usah memikirkan orang lain, bebas buang hajat semaunya, dan bebas deh.. 

PENATAAN KAWASAN

 

 

 

 

 

JAKARTA, KOMPAS Waduk Pluit semakin terbuka dan bersih seiring dibongkarnya 68 bangunan yang dihuni 77 keluarga di sisi barat dan utara, RT 019 RW 017 Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (22/8). Aparat sempat dihadang warga, tetapi pembongkaran berjalan lancar.

Sekitar 700 personel satpol PP dan polisi diturunkan dalam pembongkaran itu. Mereka sempat dihadang saat akan masuk 
ke jalan utama RT 019 RW 017 
di sisi utara waduk. Warga menolak pindah serta menuntut rumah susun dan ganti rugi bangunan.

Sejumlah ibu meronta dan meminta petugas menunda pembongkaran. Beberapa lelaki berteriak dan meminta aparat meninggalkan lokasi. Abdullah (23), penghuni RT 019 RW 017, mempertanyakan janji pemerintah memberi waktu dua tahun kepada warga untuk mengosongkan lahan.

”Berat untuk pindah ke rumah susun karena harus membayar sewa bulanan. Penghasilan warga umumnya pas-pasan. Tak sedikit yang hanya bekerja sebagai buruh cuci, tenaga kebersihan, dan pembantu rumah tangga,” ujarnya.

Akan tetapi, warga akhirnya melunak. Mereka memilih membongkar dan mengangkut sendiri bangunannya. Personel satpol PP membantu mengangkut kasur, perabot, dan barang-barang lain.

Enggan di rusun

Sejumlah warga mengaku belum tahu akan pindah ke mana. Mereka tidak mau tinggal di rusun yang ditawarkan pemerintah karena alasan jauh dari lokasi kerja dan tak punya cukup dana untuk membayar sewa.

Sejumlah warga memilih mengontrak rumah di sekitar Waduk Pluit.

”Baiknya di rusun yang sekarang sedang dibangun karena dekat dengan tempat kerja, tetapi sampai sekarang belum jadi,” kata Rumsini (26), salah satu warga setempat.

Koordinator Normalisasi Waduk Pluit Heryanto mengatakan, Dinas Perumahan DKI Jakarta telah mengalokasikan sekitar 100 unit rusun untuk penghuni 68 bangunan yang dibongkar tersebut. Lokasinya tersebar di beberapa rusun di Marunda, Muara Angke, dan Cengkareng.

Sedikitnya 24 keluarga telah bersedia pindah ke rusun. Sisanya, kata Heryanto, segera menyusul untuk pindah ke rusun dan sebagian warga memilih mengontrak rumah di daerah Penjaringan.

”Kami sudah menawarkannya dan kami tak bisa memaksa,” ujarnya.

Camat Penjaringan Rusdiyanto datang menemui warga yang menolak pindah. Menurut dia, pemerintah daerah sudah berulang menyatakan tak akan memberikan ganti rugi karena mereka tinggal di lahan milik negara.

”Pemerintah daerah sudah memfasilitasi warga untuk pindah ke rusun. Jika tak mau juga, bukan salah pemerintah untuk membongkar hunian mereka karena memang liar,” kata Rusdiyanto.

Warga yang menentang relokasi justru dinilai mengomersialkan lahan negara. Mereka membangun rumah kontrakan, bengkel, dan membuka usaha di area waduk.

Seperti sisi barat waduk yang telah kosong, sisi utara akan dibangun menjadi jalan inspeksi serta taman dan hutan kota.

(MKN)

 

+++++++++++++++

 

Warga Pluit yang Tolak Digusur: 13 Tahun Kami Bayar PBB

Sejak Kamis, Jokowi mengerahkan pamong praja untuk gusur pemukiman.

ddd
Jum’at, 23 Agustus 2013, 11:53Dwifantya Aquina , Erick Tanjung
Warga Waduk Pluit menghadang petugas yang akan melakukan eksekusi di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara, Kamis (22/08/2013).
Warga Waduk Pluit menghadang petugas yang akan melakukan eksekusi di bantaran Waduk Pluit, Jakarta Utara, Kamis (22/08/2013).(VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
VIVAnews – Warga yang tinggal di sisi barat Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat 23 Agustus 2013, protes keras terhadap Pemerintah Provinsi DKI yang membongkar paksa bangunan mereka. Sebab, warga merasa tinggal di kawasan tersebut secara resmi, bukan ilegal.
 
“Kami tinggal disini punya KK (Kartu Keluarga). Sejak tahun 2000 sampai 2013 ini kami membayar pajak PBB,” kata Budianto, 60, kepada VIVAnews di lokasi penggusuran.
 
Budianto yang berprofesi sebagai pedagang besi tua ini mengaku, sudah tinggal di waduk Pluit ini sejak 43 tahun yang lalu. Warga asal Madura ini mengaku mempunyai surat izin menempati lahan tersebut, yakni surat zaman Belanda.
 
“Saya punya Verpondin (Surat Tagihan Pajak Tanah Zaman Belanda). Dulunya kawasan ini rawa-rawa,” katanya.
 
Setelah penggusuran kemarin, Kamis 22 Agustus 2013, Budi belum tahu hendak pindah ke mana. Barang-barang rumah tangga dan dagangan besi tuanya juga banyak yang hancur karena dibongkar paksa oleh Pemprov DKI dengan menggunakan alat berat, eskavator.
 
“Semestinya Pemerintah kalau punya hati nurani, diurus dulu warganya ini mau diapakan. Kami menuntut ganti rugi dan tempat yang layak untuk usaha kami,” tegas Budi.
 
Senada dengan Budianto, Rosdiana, 32, mengatakan, ia dan keluarganya beserta warga lain terpaksa menginap di jalan depan lokasi bekas rumah mereka yang dibongkar paksa kemarin. Sebab hingga saat ini, mereka belum memiliki tujuan pindah di mana.
 
“Kami sejak tadi malam tidur di sini (jalan) dengan tumpukan barang-barang kami yang tersisa,” tuturnya.
 
Penggusuran di sisi barat tersebut merupakan pembongkaran tahap dua. Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta sudah menyelesaikan di sisi utara. Lahan bekas bangunan warga yang digusur beberapa waktu lalu itu juga sudah dibikin penghijauan taman, meski baru beberapa ratus meter saja. (umi)

 

 
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s