Jurnal Pejalan Kaki Jakarta

Aspirasi Kota Jakarta yang selalu ingin masuk dalam jajaran kota Metropolitan dunia, pada kenyataannya harapan ini masih sangat jauh bakal bisa terwujud. Kota ( Metropolitan ) Jakarta

Gimana HALTE BUS DAN Trotoir pejalan kaki saja dijadikan kandang sapi


Trotoir jadi lintasan biker.

top

Dari tahun 60 an sampai sekarang beraneka macam masalah pelik mengganggu penghuninya dan tak kunjung dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah DKI Jakarta; mulai dari urusan banjir, transportasi umum, kemacetan, tata ruang hijau, air dan sanitasi, birokrasi perijinan, mafia tanah, dan masih banyak lagi.

Pejalan kaki (pedestrian) adalah selain kasta paling bawah juga bukan prioritas bagi pemerintah daerah DKI Jakarta, walaupun si Ahli nya ( Mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo) dalam beberapa kesempantan pernah menyampaikan konsep cemerlangnya untuk memberikan ruang bagi pejalan kaki, tapi sampai sekarang ruang bagi pejalan kaki baru ada di jalur protokol ibu kota ( jalan MH Thamrin- Sudirman). Di jalur itu itupun pejalan kaki mesti bersaing dengan ulah ugal ugalan dari para ojek Motor “+ biker yang sering mengambil jalan di jalur pejalan kaki. (Huh!)

Nah Sekarang dengan Gubernur Baru DKI  Joko Wi  kita tunggu saja apakah beliau bisa merealisasikan ruang dan juga keselamatan bagi warga pejalan kaki.

Foto diunduh dari Komunitas Pejalan Kaki KAKI

Foto diunduh dari Komunitas Pejalan Kaki KAKI

 

Dengan blog ini penulis akan berupaya untuk memetakan permasalahan dan kehidupan di ibu kota negara tercinta

DAFTAR TROTOAR DI JAKARTA YANG HARUS DITERTIBKAN
[ SEJUMLAH TROTOAR DI JAKARTA RATA TELAH BERALIH FUNGSI MENJADI TEMPAT BERJUALAN PEDAGANG KAKI LIMA ATAU TEMPAT PARKIR.
1. JALAN TB SIMATUPANG, JAKARTA SELATAN
2. SEPANJANG CASABLANCA
3. SEPANJANG JALAN MAMPANG PRAPATAN DAN BUNCIT RAYA
4. SEPANJANG JALAN PASAR MINGGU


5. SEPANJANG JALAN GATOT STrotoir Jalan Protokoler Gatot SubrotoUBROTOTrotoir Jalan Protokoler Gatot Subroto 2


6. SEPANJANG JALAN KALIBATA
7. SEPANJANG JALAN OTISTA
8. SEPANJANG JALAN JATINEGARA
9.TROTOAR TANJUNG BARAT
10. TROTOAR KOTA TUA..

Artikel tua tahun 1981, mewakili kemirisan saya sebagai pejalan kaki. Semua seperti tidak berubah sama sekali

Arsip Majalah Tempo : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1981/08/01/NAS/mbm.19810801.NAS49854.id.html
01 Agustus 1981
Nasib Pejalan Kaki
PERCAYALAH: korban kecelakaan terbesar di Jakarta ternyata pejalan kaki.

Terutama yang menyeberang jalan secara ceroboh –tidak di jembatan penyeberangan atau di zebra-cross. Jumlahnya sepertiga, 33%, dari berbagai jenis kecelakaan lalulintas. Lihatlah buktinya yang tercatat di papan tulis Kodak Metro Jaya. Hampir 1.700 orang dari lebib 5.000 korban kecelakaan adalah pejalan kaki (1980/1981). Lebih dari 200 korban mati. Selebihnya, yang tercatat saja, lebih dari 850 luka berat dan 600 luka ringan. Di Surabaya, pejalan kaki yang tewas tata-rata 9 orang tiap bulan, sedangkan sepanjang tahun lalu tercatat 100 orang mengalami nasib yang sama. Dan tahun ini, dari Januari s/d Juni sudah pula tercatat 51 pejalan kaki yang tewas.

Tapi di Medan sebaliknya. Korban di kalangan pejalan kaki “sangat kecil sekali,” demikian menurut keterangan Kasilantas Medan. Padahal pejalan kaki di kota itu terkenal bandel dan nekat. Sedangkan pengendara mobil dan sepeda notor juga ugal-ugalan. Dari angka-angka tersebut jelaslah tahwa di Jakarta dan Surabaya, yang sarana untuk pejalan kaki lebih memadai justru lebih banyak korban tewas ketimbang Medan — yang sarananya boleh di bilang jauh dari cukup. Lebih mengherankan lagi, karena menurut Letkol. Pol Poeloeng Soehartono, Dan Satlantas Kodak VII Jaya, kecelakaan yang menimpa pejalan kaki sebagian besar terjadi di bawah atau di sekitar jembatan penyeberangan. Ini tak lain karena pejalan kaki tidak menyeberang lewat jembatan. Mereka lebih suka melompati pagar. “Kesadaran pejalan kaki kurang sekali,” kata Poeloeng. Ia menambahkan: “arang pejalan kaki jadi korban ketika ia sedang berjalan di trotoar.

jembatan_penyebrangan_jorok

‘ Meski Poeloeng mengakui bahwa trotoar sebagai salah satu sarana pejalan kaki memang masih kurang jumlahnya. Bukan Hiasan Buktinya, setiap kali razia penyeberangan jalan, Polantas paling sedikit tiap hari bisa menjaring 50 – 60 orang. KTP mereka. ditahan dan mesti ditebus Rp 2.000. Tapi umumnya mereka tidak jera. Sebegitu jauh Poeloeng hanya bisa menyesalkan sikap pejalan kaki. Barangkali jumlah dan kondisi jembatan penyebetangan dianggap sudah memadai. Poeloeng hanya bisa berpesan: “Jembatan bukan cuma hiasan dan pagar bukan untuk dilompati.” Tapi di Surabaya, karena sangat terbatasnya sarana semacam itu, para pejalan kaki boleh dikatakan hampir tak terlindungi. Sampai kini baru ada 5 jembatan penyeberangan. Sedangkan jalan yang berubah jadi jalur kencang jauh lebih banyak jumlahnya. Sementara itu trotoar di pelbagai jalan penuh sesak dengan pedagang kaki lima. Zebra cross toh tidak menjamin pejalan kaki bisa menyeberang dengan aman. Apalagi lampu merah-hijau yang menunjang fungsi garis penyeberangan sudah dipreteli tangan-tangan jahil — hanya satu yang utuh di Jalan Tunjungan. Begitu pula tongkat-tongkat mata sapi untuk para penyeberang jalan dalam tempo dua bulan lenyap entah ke mana. Sebagai penggantinya disediakan tongkat berbendera merah. Yang ini pun kemudian jua tak bersisa. Di Medan, para pejalan kaki menurut Kasilantas Medan Letkol. Pol Gandhi, juga menyeberang seenaknya. Sementara para pengendara malah “tancap gas ketika mendekati tempat penyeberangan,” ungkap Kasilantas Medan itu. Tapi ia pun tidak menyembunikan kurangnya rambu-rambu lalulintas yang dibutuhkan untuk sebuah zebra-cross. Tapi jembatan penyeberangan yang ada pun mubazir saja nampaknya. Sami Kapri mengakui sampai berkeringat dingin karena harus menyeberang jalan-lalulintas bukan main. Mengapa tidak menyeberang lewat jembatan? “Lantainya banyak yang jebol dan penuh taik di sana,” kilah Sami. Nyonya Pakpahan bukannya tak mau taat. Tapi “salah-salah lewat di jembatan itu bisa kena todong,” katanya. Sarpan, 35 tahun, seorang penjual buah dingin dengan gerobak dorong, juga tidak begitu menghiraukan zebracross. “Memang saya salah,” kata orang Jakarta ini, “tapi kalau mesti menyeberang di tempat itu saya tidak sabar – lampu merahnya lama sekali. “Tapi Ripto, 25 tahun, yang tiap hari jalan kaki pulang pergi dari rumahnya di Pramuka ke tempat kerjanya di Proyek Senen, Jakarta, menjadi pejalan kaki yang baik. Ia menyeberang di tempat yang tersedia. Namun sering kali ia kesal melihat pengemudi yang ugal-ugalan – masih ‘nyelonong padahal lampu sudah merah. Tapi sebagai pejalan kaki ia mengalah. “Kan menang yang pakai mobil,” katanya lirih.

Kapan ya bisa jalan jalan di pinggir pantai Jakarta, Pak Gubernur !

Di jalan protokol sih memang sudah tidak banjir lagi ye, pindah ke jalan tol.. Baguuus!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s