Home » Nata de Kota » Oud Batavia, Setelah 370 Tahun

Oud Batavia, Setelah 370 Tahun

Senin,
21 Januari 2013

KOTA TUA

Kompas/Agus Susanto

Genangan air terdapat di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Barat, Sabtu (19/1) malam. Jalanan di kawasan Kota Tua yang biasanya ramai pada malam Minggu itu berubah lumpuh akibat banjir yang mengelilingi gedung-gedung tua di kawasan tersebut.

Tinggal 20 sentimeter lagi permukaan air Kali Besar yang membelah Oud Batavia (Batavia lama) mencapai Jembatan Kota Intan. Dari atas jembatan yang dibangun tahun 1630 itu, Kamis (17/1) siang, Kali Besar dan dua jalan yang mengapitnya, Jalan Kalibesar Timur dan Kalibesar Barat, tampak disatukan luapan air Waduk Pluit di Jakarta Utara sejak Kamis dini hari.

Inilah untuk pertama kalinya setelah 370 tahun sejak Kota Tua yang selesai dibangun Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (JP Coen) tahun 1640, terjadi banjir besar. Air genangan mencapai sepinggang orang dewasa atau sekitar 80 sentimeter.

”Tahun 1930, kawasan ini dan sejumlah kawasan di Jakarta memang pernah dilanda banjir, tetapi tidak semerata dan separah sekarang,” tutur sejarawan Jakarta Chandrian Attahiyat yang kini menjadi Kepala Balai Konservasi Jakarta, Minggu (20/1) malam. Dari koleksi foto lama, lanjutnya, tinggi permukaan genangan air tidak lebih dari 30 sentimeter kala itu.

Kota kembar

Oud Batavia dirancang arsitek Simon Stevius dalam bentuk kota kembar yang dibelah Kali Besar. Saat dirancang tahun 1650, luas The Old Batavia cuma 105 hektar. Sampai akhir hayatnya, Simon tidak pernah menyaksikan hasil karyanya.

JP Coen (1619-1622, 1627-1629) memilih nama kota tersebut Batavia untuk mengenang nenek moyang bangsa Belanda yang berasal dari Jerman, yaitu Suku Batavieren.

Kota kembar ini terdiri dari empat bagian, yaitu Benteng Batavia di utara dekat pantai, Batavia Timur, Batavia Barat di Kalibesar, dan kawasan selatan di luar tembok benteng kota. Batavia Timur (kini kawasan Jalan Kalibesar Timur) dibangun sebagai kawasan permukiman dan tempat usaha orang Eropa, terutama Belanda, sedangkan Batavia Barat (kini kawasan Jalan Kalibesar Barat) dibangun untuk orang China dan Portugis.

Kata Chandrian, rancangan saluran air di Oud Batavia hanya mengandalkan tiga kanal utama, yaitu Kali Besar, Kali Semut, dan Kali Ji La Keng atau Kali Perniagaan. ”Seluruh aliran air kali dan saluran-saluran penghubung dialirkan ke ketiga kanal ini,” tuturnya.

Ratu dari timur

Saat ini, kata Chandrian, Kota Tua seluas 846 hektar ini memilik 284 bangunan cagar budaya. Di ujung selatan ditandai dengan bangunan cagar budaya berupa rumah Gubernur Jenderal VOC Reiner de Klerk (1777-1780). Rumah yang dibangun tahun 1760 itu kini menjadi gedung arsip nasional di Jalan Gajahmada, Jakarta Barat.

Di ujung utara ditandai dengan cagar budaya Masjid Luar Batang, Jakarta Utara, sedangkan di ujung timur ditandai dengan cagar budaya Bank BNI. Di ujung paling Barat ditandai dengan Masjid Bandengan.

Biro Jasa Arsitek Cuypers & Hulswit mendominasi rancangan sejumlah bangunan megah di kawasan Kalibesar. Gedung berkubah megah di ujung Jalan Kalibesar Barat yang pernah dijadikan kantor pusat Chartered Bank atau gedung mewah yang kini menjadi Museum Bank Indonesia, misalnya.

Di kawasan Kalibesar, pejalan kaki dibuat nyaman. Sebab, kawasan pedestrian dibuat dengan selasar. ”JP Coen sangat keras dan teliti mengikuti proses pembangunan Oud Batavia ini. Transportasi, taman kota, saluran air, hingga kawasan pedestrian dia ikuti proses pembangunannya,” kata Chandrian. Tak heran bila kawasan nan cantik ini, kala itu populer dengan sebutan ”Ratu dari Timur” atau ”Permata dari Asia”.

Tahun 1661, arsitek air Phoa Beng Ham membangun kanal baru yang menghubungkan Kali Ciliwung dengan Kali Besar. Kali yang diapit Jalan Gajah Mada (dulu Molenvliet Oost) dan Jalan Hayam Wuruk (Molenvliet West) itu dinamai Molenvliet yang artinya kincir air kecil untuk usaha penggergajian kayu.

Kanal ini bukan saja menjadi jaringan pembuangan air baru yang terintegrasi dengan saluran-saluran pembuangan air pecinan baru, melainkan juga menjadi prasarana transportasi angkutan kayu, rempah, gula, dan bata.

Atas jasanya, Vereniging Oost Indische Compagnie (VOC) memberi Beng Ham tanah di Tanah Abang. Tanah tersebut kemudian ia jadikan perkebunan tebu. Di beberapa lokasi, Kapitan China ketiga ini juga membangun pabrik bata.

Tahun 1810, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman William Daendels memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Weltevreden (Lapangan Banteng). Kantor gubernur jenderal pun dibangun di sebelah timur lapangan (kini menjadi gedung kementerian keuangan)

Meski demikian, Oud Batavia tidak diabaikan, sebab tahun 1905, Pemerintah Hindia Belanda merenovasi kota tua ini dengan struktur bangunan Art Deco. ”Kali Besar diluruskan dan dibangun kembali sehingga kapal berukuran sedang bisa kembali merapat sampai tepian Kali Besar,” tutur Chandrian.

Saat ini, sentra Oud Batavia dikepung tumpahan air dari waduk Pluit. Genangan air tertinggi terjadi di Jalan Kunir yang berbatasan dengan Jakarta Utara. Tinggi genangan mencapai 80 sentimeter.

Genangan air dari Waduk Pluit itu pun tumpah ke Kali Ji La Keng dan membuat kawasan Pasar Asemka, Pasar Pagi, dan Pancoran, Glodok, Jakbar, yang masih berada di kawasan Kota Tua, ikut banjir. Inilah banjir terbesar setelah Oud Batavia selesai dibangun tahun 1640.(WINDORO ADI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s