Home » Bandung Pedestrian » Soal Parahnya penurunan tanah di Bandung

Soal Parahnya penurunan tanah di Bandung

 

Laporan riset semacam ini sudah sering diberi tahu ke pihak pemda, tapi sampai sekarang PEMDA BANDUNG sikap nya masih “sabodo teing” ..atau “emang gua pikirin”. Buat orang Pemkot /Pemda Bandung hal tersebut baru penting jika mereka tidak bisa ” ngutip ” uang lagi..

 

Tanah Turun Perparah Banjir

Oleh Brigitta Isworo Laksmi

Dataran Bandung berbentuk seperti mangkuk. Di sekelilingnya terdapat pegunungan, sementara di tengah-tengah terbentang dataran rendah. Ketinggian tengah cekungan sekitar 665 meter di atas permukaan laut. Adapun tinggi pegunungan hingga 2.400 meter di atas permukaan laut.

Pegunungan terbentuk pada zaman tersier, antara 65 juta-2,6 juta tahun lalu, dan pada zaman quaternari, 2,6 juta tahun hingga sekarang.

Bandung kini dihuni sekitar 7,7 juta manusia dengan arus urbanisasi cukup besar. Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan berbagai persoalan seperti ekonomi sosial yang berakibat terhadap lingkungan.

Bandung saat ini menghadapi berbagai persoalan. Untuk memenuhi kebutuhan air, terutama untuk kalangan industri, terjadi penyedotan air tanah secara berlebihan. Salah satu akibat dari penyedotan air tanah berlebihan adalah penurunan tanah.

Beberapa waktu lalu di Bandung, Irwan Gumilar, anggota tim peneliti dari Divisi Penelitian Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), memaparkan hasil penelitian tim mengenai penurunan tanah di cekungan Bandung.

Metode yang digunakan adalah survei dengan Global Positioning System (GPS) dan metode InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). Metode InSar memotret dengan cakupan lebih luas, sementara penelitian yang menggunakan sistem GPS mampu menghasilkan gambar permukaan dengan ketelitian lebih tinggi. Penelitian dilakukan pertama menggunakan data InSAR, data GPS digunakan untuk validasi.

Beberapa faktor penyebab penurunan permukaan tanah adalah kompaksi alamiah, terjadinya proses tektonik, penyedotan air tanah dalam jumlah besar, serta beban berat dari konstruksi bangunan. ”Tanah di basin Bandung terdiri dari lanau (butiran penyusun tanah/batuan berukuran di antara pasir dan lempung), pasir, dan lempung sehingga masih dalam proses kompaksi (terus turun),” ujar Irwan.

Temuan lain, pada sejumlah daerah resapan juga terjadi penurunan permukaan tanah. ”Padahal, daerah tersebut seharusnya dipertahankan sebagai kawasan hijau untuk resapan, pembangunan harusnya rendah,” ujar Irwan.

Daerah tersebut di antaranya Majalaya, Katapang, Kopo, dan Bojongsoang. ”Di daerah-daerah tersebut kini terlihat penurunan besar,” kata Irwan. Daerah resapan di cekungan dan seputar pegunungan luasnya sekitar 2.300 kilometer persegi.

Indikasi terjadinya penurunan tanah adalah semakin pendeknya bangunan, sebagian bangunan ada yang pintunya melesak ke tanah, bangunan turun hingga berada di bawah permukaan jalan, terdapat retakan di dinding, bangunan miring, dan jalan aspal retak membentuk garis panjang. Retakan di jalan biasanya terjadi pada perbatasan daerah dengan tingkat penurunan permukaan tanah cepat dan daerah dengan tingkat penurunan lambat.

Kawasan industri

Penurunan permukaan tanah yang cukup cepat terjadi, seperti prakiraan semula, di daerah-daerah yang tingkat pembangunannya tinggi, antara lain kawasan industri atau daerah dengan beban konstruksi berat seperti bangunan hotel besar.

Hasil penelitian menunjukkan, terjadi penurunan permukaan tanah sedalam 5 cm-8 cm. Penelitian berlangsung tahun 2006-2010. Daerah-daerah yang mengalami penurunan signifikan adalah Leuwigajah, Dayeuhkolot, Rancaekek, serta Gedebage. ”Daerah Gedebage merupakan daerah yang paling cekung,” kata Irwan. Daerah tersebut merupakan kawasan industri dengan penyedotan air tanah dalam jumlah besar.

”Di daerah industri, penurunan bisa 12 cm per tahun pada 2007-2008,” kata Irwan. Antara tahun 1999-2010 terjadi penurunan permukaan tanah di daerah Cimahi hingga 20 cm.

Penurunan permukaan tanah di kawasan Bandung telah memperluas kawasan yang terkena banjir. Dari penelitian menggunakan software SOBEL dari Deltares (Belanda), dilakukan estimasi terhadap luasan kawasan terkena banjir. Input yang digunakan adalah curah hujan, geometri Sungai Citarum, tata guna lahan, serta model ketinggian digital.

Dari penelitian tersebut didapati, tahun 2010 terjadi hujan dengan curah hujan yang tidak tergolong tinggi, namun kawasan yang terkena banjir ternyata luas. Kontribusi penurunan permukaan tanah terhadap luasan kawasan banjir, dari hasil penelitian, sekitar 21 persen.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, peraturan penyedotan air tanah harus lebih tegas. Tanpa penanganan dan ketegasan, penurunan tanah di cekungan Bandung akan berlanjut sehingga dalam jangka panjang akan merugikan masyarakat dan pemerintah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s