Home » Nata de Kota » Wajah Baru Kawasan Penjaringan

Wajah Baru Kawasan Penjaringan

Jumat,
01 Maret 2013

PENATAAN WILAYAH

Dalam dua pekan, wajah Penjaringan berubah drastis. Ratusan bangunan liar lenyap, berubah menjadi jalan beton. Sampah dan endapan jauh berkurang. Air mengalir lancar di Kali Pakin, Opak, dan Jelakeng menuju Waduk Pluit.

Sedikitnya 96 keluarga dengan lebih dari 200 jiwa penghuni bangunan liar di bantaran Kali Pakin pindah ke Rumah Susun Buddha Tzu Chi. Bangunan lain di bantaran itu, seperti warung, bengkel, toilet umum, dan sarana ibadah, rata dengan tanah. Inilah wajah baru Penjaringan yang memberi harapan baik di masa depan.

”Perubahannya cepat sekali. Minggu lalu, 60 bangunan masih berderet di tepi kali, hari ini sudah jadi jalan beton,” kata Maswan (50), warga Jalan Bhakti, RT 007 RW 007 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (26/2).

Dua sisi Kali Pakin di antara Jalan Pluit Raya dan Pluit Selatan Raya, Kamis siang, telah bersih dari hunian liar. Jalan beton dengan lebar masing-masing 7,5 meter terbangun sepanjang sekitar 200 meter. Tanggul kali tak lagi tertimbun endapan lumpur.

Pemandangan serupa terlihat dari Jalan Gedong Panjang, Jalan Pakin, dan Jalan Paus yang berada di tepi kali. Sejumlah pengendara berhenti untuk memotret alat-alat berat mengeruk endapan kali dan merobohkan bangunan liar.

Hingga Kamis sore, proses pembersihan bantaran kali masih berlangsung. Demikian pula pengerukan endapan di area genangan Waduk Pluit yang dinilai sudah terlalu parah. Saat banjir melanda kawasan itu, pertengahan Januari 2013, kedalaman waduk diperkirakan hanya 2-3 meter, jauh lebih dangkal dibanding desainnya, 8-10 m.

Normalisasi sungai dan waduk diharapkan menambah kapasitas waduk hingga 6-8 juta meter kubik. Genangan banjir di beberapa wilayah DKI Jakarta dipastikan cepat surut dengan membaiknya kondisi saluran dan waduk.

Pembersihan kawasan Waduk Pluit menjadi pekerjaan berat pascabanjir. Pasalnya, sekitar 20 hektar dari 80 hektar luas waduk ditempati bangunan liar. Sekitar 15.000 orang diperkirakan menghuni kawasan itu.

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI pun menawarkan rumah, lengkap dengan perabot, kepada warga untuk mengosongkan bantaran waduk dan kali. Sedikitnya 2.100 keluarga telah diplot masuk ke Rusun Marunda, Pluit, Pinus Elok, dan Buddha Tzu Chi.

Mariyani Panjaitan (59) dan sejumlah tetangganya di Kampung Tanggul Kali Pakin sempat menolak pindah saat pekerja dan alat berat bersiap merobohkan bangunan. Namun, tawaran tinggal di rumah susun dengan tarif sewa Rp 90.000 per bulan dari pemerintah provinsi (pemprov) membuatnya luluh.

Seperti Mariyani, Daeng Lewa (45), warga RT 021 RW 007 Penjaringan, menyambut baik cara pemprov tersebut. ”Dulu, aparat sering main bongkar tanpa dialog dengan warga, sekarang kami difasilitasi untuk mendapatkan tempat tinggal baru,” ujarnya.

Koordinator penanganan pascabanjir Waduk Pluit, Heriyanto, menambahkan, selain membangun jalan inspeksi di kedua sisi, endapan sungai dikeruk agar kedalamannya bertambah menjadi 4-5 meter. Adapun waduk diperdalam 1-2 meter. Kini, separuh dari 60 hektar area waduk telah dikeruk endapannya.

”Dengan upaya ini, banjir bisa diantisipasi karena saluran lancar dan daya tampung waduk optimal,” kata Heriyanto. (Mukhamad Kurniawan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s