Home » Kualitas Air dan sungai » Ngeri, Pasokan Air Bersih Jakarta Dicemari Amoniak

Ngeri, Pasokan Air Bersih Jakarta Dicemari Amoniak

Ngeri, Pasokan Air Bersih Jakarta Dicemari Amoniak
Limbah Industri & Rumah Tangga Sulit Dicegah
Rabu, 20 Maret 2013 , 08:28:00 WIB

ILUSTRASI, AIR BERSIH

RMOL.Sumber utama pasokan air bersih ke Jakarta hingga saat ini masih
tergantung dari Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Jumlahnya mencapai 82
persen. Sayangnya, semakin lama kualitas air baku yang dipasok ke
Jakarta semakin menurun karena tingkat amoniak-nya melebihi ambang batas.

Hal ini dinyatakan staf Ahli Hu­bungan Antar Lembaga PD PAM Jaya
Wibisono Harisantoso. “Kua­litas air baku yang kita teri­ma semakin lama
semakin buruk.

Akibatnya ongkos produksi juga meningkat. Belum lagi dalam perjalanannya
ke Jakarta, air ini mengalami pencemaran karena banyaknya limbah, baik
limbah rumah tangga maupun limbah pabrik,” ujarnya.

Dikatakan Wibisono, jika pada 2010 tingkat amoniak mencapai 2,9 miligram
per liter, satu tahun berikutnya meningkat menjadi 4,8 miligram per
liter. Meski begitu, dia meminta masyarakat tidak khawatir, karena dalam
mem­produksi air bersih, pihak­nya mengaku menyesuaikan de­ngan baku
mutu se­suai Kepu­tusan Menteri Kese­hatan.

“Air yang sampai ke ma­syarakat sudah sesuai aturan baku mutunya. Jadi
sudah aman,” katanya meyakinkan.

Untuk menurunkan tingkat kandungan amo­niak, lanjut Wibi­sono, pihaknya
juga ber­koor­dinasi dengan Badan Pe­nge­lola Ling­kungan Hidup Daerah
(BPLHD) DKI Jakarta dan Jawa Barat serta pihak terkait untuk menertibkan
pihak-pihak yang diduga mence­mari sungai.

Dengan kondisi ini, pihaknya mendukung rencana Pemerintah Provinsi
(Pemprov) DKI Ja­karta membangun pipanisasi air baku dari Waduk
Jatiluhur ke Jakarta. Dengan begitu, dapat mengurangi pencemaran air
baku dalam perjalanannya ke Jakarta.

Selain itu, masih menurut Wibi­sono, langkah yang bisa diam­bil agar air
baku di Jakarta ter­cukupi yakni dengan meman­faatkan 13 sungai yang
mengalir di Jakarta.

Sayangnya, kualitas air di sungai itu tidak lebih baik dari air Waduk
Jatiluhur. Ka­rena itu, pihaknya menya­rankan mem­bangun pengolahan air
dengan sistem ultrafilterasi, yang mampu memproduksi air dengan harga
kompetitif.

Terkait hal ini, pakar air dari Universitas Indonesia (UI) Firdaus Ali
menilai, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah lalai menjaga kualitas
air baku Jakarta yang semakin hari semakin tercemar. Sumber air baku ke
ibu­kota yang berasal dari Jati­luhur melalui Tarum Barat, menurutnya
sudah tidak layak lagi digunakan sebagai air minum.

“Saya kecewa terhadap peme­rintah dalam menyediakan sum­ber air baku
ini. Air baku yang sampai di Jakarta sudah dipenuhi limbah industri,
limbah rumah tangga dan limbah irigasi berupa amoniak. Dimana peran
peme­rintah menjaga kulitas sumber air baku ini?” cetusnya.

Menurut penelitian, sejak 1996 air baku yang digunakan sebagai air minum
di Jakarta sudah 82,6 persen tercemar. Pemerintah, dalam hal ini
Kementerian PU melalui Dirjen Sumber Daya Air sudah mengetahui kondisi
kuali­tas air baku ini, namun tidak ada kemauan untuk memperbaikinya.

Jika pada 2010 tingkat amo­niak hanya sebatas 2,9 miligram perliter,
satu tahun berikutnya, kandungannya meningkat hingga 4,8 miligram
perliter. Padahal, ambang batas yang ditetapkan hanya 1 miligram perliter.

Firdaus mengungkapkan, kekeruhan air di Tarum Barat sudah melewati
ambang batas, sehingga tak layak lagi digunakan sebagai sumber air baku.
Air di Ta­rum Barat awalnya hanya di­peruntukkan bagi irigasi.

Permukiman Tepi Sungai Perburuk Kualitas Air

Air permukaan sebagai sumber air baku berjumlah paling besar dibanding
mata air, air hujan, dan air tanah. Sayangnya, kualitas air permukaan
saat ini makin buruk.

Pakar infrastruktur sungai Prof Djoko Mulyo Hartono meng­emukakan,
permu­ki­man sepan­jang daerah aliran sungai, erosi, sedimentasi, bahan
kimia, penye­baran penyakit serta ke­kurangan oksigen telah menjadi
problem air di Jakarta. Akibatnya, terjadi penu­runan kualitas air
permukaan.

Penurunan kualitas air permu­kaan ditandai dengan pening­katan
kekeruhan, pembuangan dan penumpukan sampah, pen­dangkalan badan air,
penyem­pitan badan saluran, serta penge­lolaan air permukaan yang belum
terkoordinasi dan terintegrasi.

Di sisi lain, kata dia, pilihan teknologi pengolahan air minum saat ini
masih ter­golong kon­vensional. Bangunan instalasi pengolahan air minum
yang digunakan didesain dan dibangun berdasarkan kualitas air baku pada
15-40 tahun lalu.

“Teknologinya hanya memper­timbangkan para­meter keke­ruhan,” jelas Guru
Besar Bidang Ilmu Teknik Ling­kungan Fa­kultas Teknik Univer­sitas
In­donesia (FTUI) ini.

Djoko mengatakan, tingkat kekeruhan air saat ini melampaui batas 1.000
NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Pada musim hujan bisa 15.000 NTU.
Namun, teknologi yang ada hanya mampu mengolah air dengan tingkat
kekeruhan 5-1.000 NTU. Kadar maksimum untuk tingkat kekeruhan adalah 5 NTU.

Implikasi tingginya tingkat kekeruhan air baku, lanjutnya, adalah
menambah unit bangunan pada instalasi pengolahan air untuk menurunkan
kekeruhan. Ba­ngunan tambahan harus memiliki bangunan prasedimen­tasi,
bangunan aerasi, dan unit pengolahan lumpur. [Harian Rakyat Merdeka]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s