Home » Transportasi Publik Jakarta » Ojek Ontel Tetap Eksis di Ibu Kota

Ojek Ontel Tetap Eksis di Ibu Kota

Senin,
08 April 2013

TRANSPORTASI

FABIO COSTA

Para tukang ojek sepeda ontel yang biasa mangkal di depan pintu Stasiun Kereta Api Kota, Jakarta Pusat, Rabu (3/4). Mereka tidak khawatir meskipun harus bersaing merebut penumpang dengan sesama penyedia jasa transportasi lainnya.

“Mari Pak, saya antar. Dijamin lebih cepat sampainya,” tutur Sutarlani dengan senyum, di tengah terik matahari yang membakar kulit hitam legamnya. Warga Kelurahan Petojo Selatan ini sudah puluhan tahun menawarkan itu kepada masyarakat yang melintas di depan Stasiun Kota, Jakarta Pusat.

Sutarlani adalah salah seorang tukang ojek yang menggunakan sepeda ontel untuk mengantar penumpangnya. Dia bersama 12 tukang ojek sepeda ontel lain biasa mangkal di sekitar pintu masuk Stasiun Kota.

Dia sudah menjadi tukang ojek sepeda ontel dari tahun 1980-an. Selama puluhan tahun tersebut, Sutarlani menjalaninya dengan konsisten karena dia sangat menikmati pekerjaannya.

”Saya bebas menentukan kapan jam bekerja dan waktu untuk beristirahat. Saya tidak perlu bergantung sama orang lain. Yang terpenting, saya harus giat bekerja untuk menafkahi keluarga di Sragen, Jawa Tengah,” kata ayah dari tiga anak ini.

Walaupun di Ibu Kota sudah berjamur berbagai moda transportasi umum, seperti taksi, bus transjakarta, bahkan sedang disiapkan monorel dan mass rapid transit (MRT), tetapi Sutarlani yakin jasa ojek sepeda ontel, masih akan diminati sebagian masyarakat Ibu Kota.

”Biasanya sekitar pukul 17.00, saya menjemput pegawai kantoran di sekitar kawasan Mangga Dua untuk diantar ke Stasiun Kota. Mereka biasanya warga dari luar Jakarta, seperti Bogor. Dengan sepeda ontel, mereka lebih cepat sampai di tempat tujuan, tanpa harus terhalang kemacetan,” kata Sutarlani.

Hal ini diamini salah seorang penumpang, Jimy. ”Kalau menggunakan angkutan umum bisa makan waktu,” kata pria yang tinggal di Kelurahan Tomang.

Menguras tenaga

Namun, Syamto, tukang ojek sepeda ontel lainnya, mengatakan, pekerjaan ini sangat menguras tenaga. Penghasilannya juga tidak menentu.

”Saya biasa bekerja dari pukul 05.00 hingga 20.00. Kalau penumpang banyak, saya bisa mendapat Rp 80.000. Kalau lagi sepi, hanya mendapat Rp 30.000 per hari,” kata Syamto.

Tarif jasa ojek sepeda ontel ditentukan oleh jauhnya jarak tempuh. Jarak terdekat, seperti di sekitar kawasan Kota Tua, dikenai tarif Rp 4.000. Jarak terjauh, kadang bisa mencapai Ancol, tarifnya Rp 15.000.

Pria asal Solo ini juga mengaku, banyak sekali kerikil-kerikil tajam yang menghambat pekerjaannya sebagai seorang tukang ojek sepeda ontel.

”Preman di sekitar tempat mangkal kami juga sering memalak uang,” keluh Syamto.

Wagiman, salah seorang keponakan Syamto, juga turut mengikuti jejak pamannya menjadi tukang ojek ontel.

Daryanto Lamin, salah satu teman Wagiman, bahkan bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus perguruan tinggi.

”Kami sangat bangga. Dengan hanya mengayuh sepeda ontel, anak-anaknya bisa meraih sukses,” ungkap Wagiman. (K06)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s