Home » Nata de Kota » Perlukah Jokowi Tiga Kali Meminta?

Perlukah Jokowi Tiga Kali Meminta?

Perlukah Jokowi Tiga Kali Meminta?
Penulis : Indra Akuntono | Sabtu, 6 April 2013 | 08:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Semua tentu ingin memiliki Ibu Kota negara yang
indah, modern tapi ramah. Tapi apa daya, DKI Jakarta belum mampu menjadi
kota seperti itu. Secara estetika masih menyedihkan, belum lagi
ketimpangan sosialnya seakan membenarkan bahwa kota ini memang
benar-benar keras.
Kalau dicoret, ya cat. Lebih kuat mana, yang nyoret atau yang ngecat?
Yang nyoret kan anak-anak, kita punya anggaran, masa kita kalah?
Optimislah, kita pasti bisa
— Joko Widodo

Sebagai Gubernur, Joko Widodo beberapa kali menyampaikan keresahannya.
Dia khawatir, bila tak segera dibenahi, Jakarta akan menjadi kota yang
kumuh dan suram, dengan masa depan yang tak kalah suram. Setidaknya, dua
kali pria yang akrab disapa Jokowi itu meminta hal yang sama di dua
momen besar yang berbeda.

Pertama, keresahannya dia lontarkan, Rabu (19/12/2012). Masa-masa bulan
madu, sekitar dua bulan setelah dia dilantik menjadi Gubernur DKI. Di
kantor Wali Kota Jakarta Pusat, di depan semua lurah dan camat
se-Jakarta Pusat, Jokowi membeberkan potret hasil bidikannya selama
berkeliling, blusukkan. Dia menampilkan foto yang mewakili sedikit
masalah Ibu Kota. Seperti taman yang rusak, coretan liar di dinding, dan
pedagang kaki lima yang menjamur di tempat tak seharusnya. Dia meminta
semua memiliki rasa tanggung jawab dan tak saling melemparnya.

Potret yang ditampilkan Jokowi saat itu membuat semua lurah dan camat
seperti tak bisa berkelit. Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah langsung
berjanji dalam waktu satu pekan wilayahnya bebas dari coretan liar di
dinding kota. “Kalau dicoret, ya cat. Lebih kuat mana, yang nyoret atau
yang ngecat? Yang nyoret kan anak-anak, kita punya anggaran, masa kita
kalah? Optimislah, kita pasti bisa,” kata Jokowi, waktu itu.

Di kesempatan kedua, Jokowi meminta hal yang sama. Namun, saat ini lebih
sakral karena permintaan itu dikaitkan dengan kado untuk Hari Ulang
Tahun (HUT) ke-486 Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2013. Permintaan
itu disampaikan pada Jumat (5/4/2013) sore, di ruang rapat pimpinan
utama, Gedung Balai Agung, Balaikota Jakarta.

Sejumlah bawahan dan mitra kerja diundang dalam rapat koordinasi
penanganan kebersihan dan keindahan prasarana jembatan, jalan layang,
dan underpass dalam rangka peringatan HUT ke-486 Kota Jakarta. Hadir di
rapat tersebut, Kepala Bappeda DKI Sarwo Handayani, Kepala BPKD Endang
Widjayanti, Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono, Kepala Dinas
Pertamanan dan Pemakaman Widyo Dwiyono Budi, perwakilan Jasa Marga,
Jakarta Propertindo, dan lainnya.

Dalam kesempatan itu, mantan Wali Kota Surakarta ini menunjukkan potret
serupa, dan meminta permintaan yang sama. Jokowi kembali memunculkan
potret mengenai coretan liar, tiang-tiang fly over dan pembatas jalan
yang kusam karena bertahun-tahun tak dicat, kondisi taman di jalan tol
dan non-tol yang tak terawat, papan reklame liar, dan kekumuhan Jakarta
lainnya.

Dalam paparannya, Jokowi menampilkan potret fly over Tubagus Angke, fly
over Cawang-Tanjung Priok, dan pembatas jalan di Tol Jagorawi. Sebagai
perbandingan, dia menampilkan kondisi fly over di Singapura yang bersih,
dan tiangnya ditumbuhi tanaman rambat.

“Kalau seperti ini semua (menunjukkan foto fly over di Jakarta) ya
suram, masa depannya juga bisa suram. Saya minta hadiah ulang tahun
semuanya dicat. Saya minta sebelum ulang tahun, supaya kota ini terkesan
lebih ramah,” ujar Jokowi, kemarin.

Sebenarnya, geliat membenahi dan menata kota telah mulai tampak di
seluruh wilayah Jakarta. Pembersihan coretan liar dan penataan taman
terlihat di beberapa kesempatan, di sejumlah ruas jalan. Namun, tugas
besar berikutnya adalah pemeliharaan serta penjagaan agar semuanya tetap
bersih dan terawat.

Sadar dengan itu, Jokowi meminta Satpol PP untuk terjun dan melibatkan
diri lebih jauh. Tak hanya menjaga ketertiban di tempat-tempat umum,
tapi dirinya juga sempat mengeluarkan wacana untuk menempatkan beberapa
personel Satpol PP khusus untuk mengamankan Jakarta dari aksi para
pencoret liar. Terutama di bawah fly over Cawang-Tanjung Priok yang
dianggap Jokowi sebagai daerah paling memerlukan perhatian khusus.

Semangat membenahi kota, terlebih di momen besar HUT ke-486 Kota
Jakarta, tentunya harus ditunjukkan oleh semua pihak terkait. Waktunya
unjuk gigi, gigih mewujudkan Jakarta yang bersih dan lebih ramah.
Kecuali, jika ingin Jokowi meminta untuk ketiga kalinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s