Home » Kualitas infrastruktur » project infratruktur » MRT Lanjut Tanpa Perubahan

MRT Lanjut Tanpa Perubahan

Kamis,11 April 2013
Proyek menunggu “godot” .. Saya sih agak sanksi dengan project ini. Karena banyak pihak yang akan ” mengutil” duit di depan

 

Sejumlah Warga Tetap Menuntut Pembangunan di Bawah Tanah

Jakarta, Kompas – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap meneruskan proyek pembangunan transportasi cepat massal meskipun masih terjadi penolakan dari sejumlah kalangan. Menurut rencana, akhir April ini, Pemprov DKI akan mengumumkan pemenang lelang konstruksi fisik.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Rabu (10/4), mengatakan tidak akan ada perubahan desain transportasi cepat massal (MRT). ”Tetap ada yang dibangun secara layang dan ada yang dibangun di bawah tanah. Untuk sekitar Jalan Fatmawati, desainnya tetap MRT layang. Tidak ada perubahan,” katanya.

Basuki mengungkapkan, penolakan warga didasari kekhawatiran bahwa lingkungan tempat tinggal mereka bakal kumuh dengan adanya jalur layang MRT, seperti di jalur kereta api di Juanda, Jakarta Pusat. Basuki justru meminta agar warga merawat lingkungan sekitar jalur itu supaya tidak kumuh.

”Di Bangkok pun situasinya sama. Jalurnya juga melintang di atas dan tidak ada masalah. Justru harga tanah mereka naik. Koefisien luas bangunan juga boleh lebih tinggi,” ujar Basuki.

Akhir April ini, Pemprov DKI Jakarta akan mengumumkan pemenang lelang enam paket proyek konstruksi fisik senilai Rp 15 triliun itu. Pemenang lelang akan bekerja bersama perusahaan Jepang, yaitu Shimizu, Obayashi, dan Tokyu, untuk membangun MRT.

Setelah pemenang lelang diumumkan, masih perlu proses beberapa waktu untuk pelengkapan dokumen dan banding terhadap hasil lelang. Ketika semua proses itu selesai, MRT bakal mulai dibangun.

Pengerjaan konstruksi fisik MRT di Jakarta dibagi menjadi delapan paket, yaitu 3 paket konstruksi bawah tanah, 3 paket konstruksi layang, dan 2 paket pengadaan sistem dan kereta (rolling stock). Pengerjaan paket konstruksi bawah tanah akan didahulukan karena waktu pengerjaannya lebih panjang.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, pembangunan MRT tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Harus ada keputusan segera untuk kelanjutan proyek tersebut.

”Kalau hanya memikirkan penolakan warga, kami tidak bisa membuat keputusan soal MRT. MRT juga tidak akan berjalan. Bagi warga yang menolak, kami akan terus melakukan pendekatan,” ujar Jokowi.

Pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) kepada Pemprov DKI Jakarta juga menyatakan akan membantu percepatan pembangunan MRT. Proses pembangunan MRT cukup berlarut-larut, terutama setelah Jokowi mempersoalkan pembagian beban pengembalian pinjaman antara Pemprov DKI dan pemerintah pusat.

Setelah negosiasi ulang, DKI menanggung 51 persen pinjaman dan pemerintah pusat 49 persen. Semula, DKI harus menanggung 58 persen pinjaman dan pemerintah pusat 42 persen.

Amdal tidak valid

Warga di area Lebak Bulus, Fatmawati, Panglima Polim, dan Sisingamangaraja tetap menolak pembangunan jalur layang MRT yang melintasi kawasan mereka. Warga meminta Pemprov DKI membangun jalur bawah tanah untuk seluruh rute MRT.

Alex dari MRT Peduli mengatakan, analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) MRT tidak memperhatikan potensi kerugian warga dari berbagai aspek, seperti polusi, kebisingan, keamanan, kerusakan lingkungan hidup, dan mata pencarian yang hilang. Seharusnya, warga yang terkena dampak juga dilibatkan dalam proses kajian amdal.

”Walaupun pihak MRT memiliki dokumen amdal, dokumen itu tidak valid lagi saat ini karena dokumen dibuat tahun 2005 atau tujuh tahun silam. Amdal dibuat untuk syarat mengajukan pinjaman JICA. Masa berlaku amdal adalah tiga tahun,” kata Alex dalam keterangan pers, Rabu.

Hilda, warga Fatmawati, mengatakan, pembangunan MRT layang akan berimbas ke 94 gang atau jalan yang mengarah ke Jalan Fatmawati. ”Sekarang saja kemacetannya sudah luar biasa, apalagi nanti saat pembangunan,” ujarnya.

Sementara itu, pembangunan MRT bawah tanah diyakini mereka akan mampu mengurangi dampak terhadap lalu lintas.

Lieus Sungkharisma, pendukung MRT bawah tanah, mengatakan, dari sisi teknis, sebenarnya tidak ada persoalan membangun MRT bawah tanah. MRT dapat dibangun di kedalaman 40 meter dengan diameter tunnel 19,2 meter. Terowongan lalu dapat dibagi tiga untuk jalur MRT, jalan tol, dan saluran air.

”Kami sudah mendatangkan konsultan dari Arup (Inggris), serta Herrenknecht dari Jerman. Mereka sudah presentasi di depan Pemprov DKI Jakarta tentang kemungkinan dibangun MRT bawah tanah tersebut,” kata Lieus.

Menurut Lieus, pihak dari Inggris dan Jerman menghitung biaya pembangunan MRT bawah tanah Rp 1 triliun per kilometer.

Irson Maas, pedagang Pasar Blok A, memperkirakan akan ada sekitar 1.000 pedagang yang terimbas pembangunan jalur layang MRT.

”Kami akan dikemanakan? Sementara itu, PD Pasar Jaya berencana membangun pasar tradisional yang digabungkan dengan hotel. Kalau dibangun jalur bawah tanah, malah akan menghidupkan pedagang karena pintu stasiun langsung ke pasar dan tidak menggusur pedagang,” ucapnya.

Menurut rencana, warga akan menggelar demonstrasi pada tanggal 15 April. (FRO/ART)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s