Home » Transportasi Publik Jakarta » KRL Ekonomi Jadi Tumpuan Siam

KRL Ekonomi Jadi Tumpuan Siam

Rabu,
08 Mei 2013

PELAYANAN PUBLIK

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Akibat terlalu penuh, penumpang kereta api ekonomi Tanah Abang-Rangkas Bitung memenuhi atap kereta saat melintas di Kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, Selasa (7/5). Kondisi ini merupakan salah satu imbas dari penutupan KRL ekonomi lintas Parung Panjang-Tanah Abang yang mulai diberlakukan hari itu.

Siam (52) bersandar di tembok Stasiun Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Selasa (7/5) siang. Tas tangan hitam terselip di ketiak kanannya. Sesekali ia melirik ke arah utara, menunggu KRL ekonomi dari Jakarta menuju Stasiun Besar Bogor. Antony Lee dan Imam Prihadiyoko

Saya mau pulang ke Bogor, habis mengajar,” ujar Siam, guru honorer di dua sekolah swasta di Kota Depok.

Ia waswas terhadap pengurangan jadwal perjalanan kereta rel listrik (KRL) ekonomi lintas Bogor mulai 7 Mei. Pengurangan ini bersamaan dengan penarikan satu dari tujuh rangkaian KRL ekonomi di lintas Bogor serta satu-satunya rangkaian KRL ekonomi di lintas Serpong.

Hampir setiap hari Siam mengajar di dua sekolah swasta di Kota Depok. Dua hari ia mengajar di Citayam, empat hari di Sawangan. Siang itu, ia baru selesai mengajar di Citayam. Karena jadwal mengajarnya bisa dikejar dengan KRL ekonomi, ia bisa berhemat.

”Mulai dari angkot, KRL ekonomi, sampai ojek ke sekolah pergi pulang bisa habis Rp 16.000. Saya tertolong harga tiket KRL ekonomi Rp 1.500,” tutur Siam yang tinggal di Tajur, Bogor Timur, Kota Bogor, itu.

Penghasilannya dari mengajar dua kali seminggu di Citayam Rp 500.000 per bulan. Dari jumlah itu, Rp 128.000 habis untuk biaya transportasi. Jika harus beralih ke commuter line, ia harus menyisihkan tambahan uang transportasi Rp 15.000 per hari karena tiket commuter line Bogor-Bojong Gede Rp 8.000.

”Kalau begitu, mungkin saya terpaksa berhenti mengajar di Citayam. Kalau naik sepeda motor, saya sudah tidak kuat sejauh itu,” ungkapnya.

Siam menggunakan commuter line untuk menuju Sawangan. Dia turun di Stasiun Depok Baru, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota. Setiap pergi pulang, ia menghabiskan Rp 30.000, belum termasuk makan siang. Padahal, dari mengajar di Sawangan, ia mendapat honor Rp 1 juta per bulan.

”Sebagai orang berpenghasilan menengah ke bawah, saya keberatan kalau KRL ekonomi dihapus, lalu harus naik commuter line. Dari Rp 1.500 sekali jalan jadi Rp 8.000,” kata Siam.

KRL ekonomi bukan hanya tumpuan Siam. Di Stasiun Bojong Gede, 9.000 dari 22.000 penumpang KRL merupakan penumpang KRL ekonomi. Sementara di Stasiun Besar Bogor, sekitar 30 persen dari 40.000 penumpang per hari merupakan pengguna KRL ekonomi. Total, ada 106.262 orang yang mengandalkan KRL ekonomi di lintas Bogor setiap hari.

Bukan hanya Siam yang bergantung pada KRL ekonomi. Endang (38), kurir barang, yang biasa menggunakan KRL ekonomi untuk membawa barang dari Tanah Abang ke Serpong, juga keberatan terhadap penghapusan KRL ekonomi. ”Kalau dihapus, lalu diganti commuter line dengan tiket seharga KRL ekonomi, saya amat senang,” ujar Endang yang dalam sehari bisa dua kali bolak-balik Tanah Abang ke Serpong untuk mengangkut dagangan.

”Kalau pakai KRL commuter line, sudah harga tiketnya Rp 8.000, kalau bawa barang banyak harus tambah seharga satu tiket lagi. Jelas ini amat membebani saya yang setiap jalan mendapat upah Rp 25.000,” paparnya.

Subarjo, pedagang asongan yang berdagang sejak tahun 1990-an di KRL ekonomi, mengaku tidak bisa berbuat banyak saat kereta ini dihapus. ”Saya tidak protes, hanya berharap ada uang kerohiman. Kalau tidak diberi, ya, mau apa lagi karena saya yang menumpang hidup,” ujar Subarjo yang memperkirakan ada 100 pedagang asongan dan pengamen yang mengais rezeki di KRL ekonomi.

Siane Indriyani, pengguna KRL Tanah Abang-Serpong, juga keberatan terhadap penghapusan KRL ekonomi. Warga Bintaro, Tangerang Selatan, yang juga anggota Komnas HAM ini, mengatakan, jika alasannya KRL ekonomi itu tidak layak, pemerintah seharusnya tidak menghapus, tetapi mengganti dengan kereta yang layak dengan tarif ekonomi.

Saban hari, ada 24.734 pengguna KRL ekonomi di lintas Tanah Abang-Serpong. Pemberitahuan penghapusan KRL ekonomi di Stasiun Tanah Abang dilakukan dengan pengeras suara. Di Stasiun Palmerah, pemberitahuan disampaikan lewat selembar kertas yang ditulis tangan dan ditempel di kaca loket.

Tunggu telegram

Kepala Stasiun Besar Bogor Iwan Riyanto mengaku, petunjuk pengurangan perjalanan KRL ekonomi berlaku hingga akhir Mei. Untuk bulan Juni, dia harus menunggu telegram dari PT Kereta Api Indonesia.

Kepala PT KAI Daop I Bambang Eko Martono mengaku tidak punya pilihan selain menarik dua rangkaian KRL ekonomi itu karena gangguan yang kerap terjadi. ”Sementara tidak ada kereta non-AC pengganti KRL ekonomi ini,” ujarnya.

Namun, dia tidak menutup kemungkinan harga tiket KRL nonsubsidi turun apabila pemerintah bersedia memberikan subsidi untuk KRL berpendingin udara.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Tundjung Inderawan mengaku telah memberikan teguran kepada PT KAI atas penarikan dua KRL ekonomi ini.

Tarik-menarik soal KRL ekonomi seharusnya segera diselesaikan. Intinya, masyarakat membutuhkan transportasi publik yang nyaman, andal, dan terjangkau.

Di sisi lain, penumpang KRL commuter line juga perlu dididik untuk selalu membeli tiket. Langkah tegas petugas pemeriksa tiket untuk menurunkan penumpang yang tidak bertiket patut diapresiasi. Seperti yang terjadi pada Senin (6/5) tengah malam lalu. Seorang penumpang KRL commuter line jurusan Tanah Abang-Serpong yang tidak bertiket diturunkan di stasiun terdekat atau membayar denda suplisi Rp 50.000. Selain itu, penumpang KRL commuter line juga perlu diajak untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan kereta.(K09/RAY/ART/HAR)

 

Rabu,
08 Mei 2013

PT KAI Tidak Sanggup Perbaiki

Direktur Jenderal Kereta Api Tegur PT KAI

Jakarta, Kompas – PT Kereta Api Indonesia selaku operator sarana mengaku tidak sanggup lagi memperbaiki dua rangkaian kereta rel listrik ekonomi yang ditarik. Selain kerusakan yang parah, biaya perawatannya juga mahal. Padahal, biaya perawatan KRL ekonomi masuk dalam komponen subsidi.

Dua rangkaian KRL ekonomi yang ditarik itu masing-masing satu rangkaian di lintas Serpong, Banten, dan satu lagi di lintas Bogor, Jawa Barat. Penarikan dilakukan mulai Selasa (7/5). Dengan penarikan ini, lintas Serpong dilayani seluruhnya oleh KRL commuter line nonsubsidi dan kereta lokal. Adapun lintas Bogor masih memiliki enam rangkaian KRL ekonomi.

Dalam sehari, KRL ekonomi lintas Serpong rata-rata melayani 24.734 penumpang. Adapun di lintas Bogor, KRL ekonomi menjadi tumpuan 106.262 orang per hari. KRL ekonomi lintas Serpong bertarif Rp 1.500, sedangkan KRL commuter line bertarif Rp 8.000 sekali jalan.

Sebelumnya, ada kesepakatan antara PT KAI dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian bahwa penarikan KRL ekonomi di lintas Serpong dan Bekasi dilakukan bulan Juni, setelah pemerintah selesai mencari formula subsidi bagi penumpang KRL.

Kepala PT KAI Daop I Bambang Eko Martono mengatakan, jadwal perjalanan yang diisi KRL ekonomi digantikan dengan KRL commuter line yang nonsubsidi. ”Gangguan kedua rangkaian KRL ekonomi itu makin tinggi. Sementara itu, biaya perbaikannya mahal,” katanya.

Penggantian KRL ekonomi tidak dapat dilakukan karena sudah tidak ada lagi rangkaian kereta tanpa pendingin ruangan.

Dia mengatakan, bukan tidak mungkin KRL commuter line ini juga mendapatkan subsidi apabila pemerintah menghendaki.

Menanggapi penarikan KRL ekonomi, Direktur Jenderal Perkeretaapian Tundjung Inderawan, dalam pesan singkatnya, menyatakan, pihaknya menerbitkan surat teguran kepada PT KAI dan PT KAI Commuter Jabodetabek. Namun, dia tidak merinci isi surat teguran itu.

Kepala Humas Ditjen Perkeretaapian Muhartono mengatakan, Kementerian Perhubungan tetap memberikan penugasan untuk menjalankan pelayanan publik lewat KRL sehingga KRL bersubsidi harus tetap beroperasi. ”Memang ada perubahan pola pemberian subsidi KRL. Namun, kenapa KRL ekonomi itu ditarik hari ini,” ucapnya.

Tentang tidak layaknya armada, Muhartono mengatakan, perawatan KRL ekonomi merupakan tanggung jawab PT KAI sebagai operator sarana. ”Mereka wajib merawat KRL ekonomi. Di komponen PSO (public service obligation/subsidi), ada biaya perawatan sesuai yang ditetapkan,” katanya.

Dia mengakui belum ada kontrak PSO tahun 2013. Alasannya, belum ada perincian tarif dari PT KAI. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 53 Tahun 2012, kontrak PSO dilakukan setelah ada daftar isian penggunaan anggaran (DIPA) yang dibuat kementerian. Kontrak PSO ini yang menjadi dasar operasional kereta yang disubsidi pemerintah.

Adapun Peraturan Menteri Keuangan No 143/2012 menyebutkan bahwa penyediaan, pencairan, dan pertanggungjawaban PSO dilakukan bulanan.

Tahun 2012, kontrak PSO ditandatangani 14 Agustus. Adapun pembayaran triwulan pertama dan kedua 11 Oktober, triwulan ketiga 18 Desember, dan triwulan keempat 21 Februari 2013.

Sejumlah penumpang yang ditemui menyatakan, pemerintah seharusnya memberikan sudsidi sehingga harga tiket KRL commuter line lebih terjangkau.

Penghapusan KRL ekonomi Tanah Abang-Serpong ini belum menimbulkan gejolak. Berdasarkan pantauan Kompas, kondisi di stasiun-stasiun di lintas itu tetap tertib. Puluhan polisi melakukan penjagaan ketat sejak pagi hari, untuk menjaga keamanan.

Kereta di Jepang

Sebagai perbandingan, kereta api yang dioperasikan Pemerintah Jepang melalui perusahaan Japan Railway sudah menghubungkan seluruh wilayah Jepang. Berdasarkan pengalaman warga Indonesia di Jepang, Widi, semua kereta sama, tidak dibedakan kereta ekonomi atau nonekonomi.

”Semua kereta dilengkapi penyejuk udara. Perbedaan antarkereta hanya pada perhentian. Kereta lokal berhenti di setiap stasiun, sedangkan kereta ekspres berhenti di setiap beberapa stasiun,” ujarnya.

Untuk sistem tiket, kereta di Jepang menerapkan tiket kertas dan tiket elektronik. Ada pula tiket terusan untuk periode tertentu yang harganya lebih murah dibandingkan tiket harian. Pembelian atau pengisian tiket bisa dilakukan melalui petugas jaga di stasiun atau di mesin otomatis.

”Harga tiket termurah antarstasiun di sekitar Tokyo 120 yen (sekitar Rp 12.000). Penambahan harga untuk stasiun berikutnya berdasarkan jarak, 20 yen-50 yen (Rp 2.000-Rp 5.000),” kata Widi. (FRO/ART/RAY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s