Home » Kualitas Air dan sungai » Revitalisasi Situ Penting

Revitalisasi Situ Penting

Kamis,
06 Juni 2013

Dari 800 Penampung Air Permukaan di Jabodetabek, Tersisa 182

KOMPAS/AGUS SUSANTO

(Foto atas) pendangkalan dan hunian di Waduk Pluit, Jakarta Utara, Jumat (22/2). Sementara foto bawah menggambarkan kondisi Waduk Pluit pada Senin (3/6) yang memperlihatkan kemajuan. Di sisi barat waduk hampir sebagian besar bangunan yang ada sudah dibongkar. Aktivitas pengerukan lumpur terus berjalan di area waduk tersebut, sementara jalan inspeksi di sekitar waduk mulai bisa dipakai. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo akan mengembalikan fungsi waduk sebagai kawasan resapan air dan keperluan wisata. Kedalaman waduk akan dikembalikan 10 sampai 15 meter.

BOGOR, KOMPAS – Pemerintah daerah di Jabodetabek didorong untuk merevitalisasi bukan hanya ruang terbuka hijau, melainkan juga ruang terbuka biru berupa penampung air permukaan. Idealnya, pemerintah juga mematok persentase ruang terbuka biru yang harus dialokasikan.

Ruang terbuka biru (RTB) itu bisa berupa bendungan, waduk, situ, atau embung. Hal itu disampaikan Ketua Komisi Pengembangan Keilmuan dan Pemikiran Strategis Dewan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi Susilo Arifin yang juga pakar manajemen lanskap kepada wartawan di Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor, Selasa (4/6).

Menurut dia, RTB menjadi salah satu solusi mengatasi banjir karena dengan cepat volume air permukaan saat hujan bisa tertampung. Selain itu, pada musim kemarau, air di RTB bisa mengisi sumur-sumur permukaan warga.

Insentif dan sanksi

Dia mengusulkan pemerintah di Jabodetabek menjadikan penyediaan RTB sebagai kewajiban pada saat memberikan izin bagi pengembang perumahan skala menengah besar. Untuk memancing minat pengembang, pemerintah bisa memberikan insentif berupa pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan atau memberikan label ramah lingkungan yang bisa menjadi ”jualan” pengembang.

”Sebaliknya, pengembang tidak boleh menimbun RTB hanya demi menambah luasan lahan yang bisa dibangun untuk dijual. Pemerintah harus menghentikan, bahkan memberi sanksi pengembang seperti itu,” katanya.

Menurut Hadi, belum ada regulasi nasional yang mewajibkan daerah mengalokasikan RTB seperti halnya ruang terbuka hijau (RTH). Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 secara tegas mewajibkan daerah memiliki 30 persen RTH.

Kendati demikian, RTB tetap bisa diimplementasikan jika ada kemauan keras pemerintah daerah. Dia juga mengapresiasi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang menargetkan RTB DKI bertambah dari 3 persen menjadi 5 persen dalam lima tahun.

Situ tergerus

Hadi mengingatkan, sebelum tahun 1960-an ada sekitar 800 waduk dan danau di Jabodetabek lalu pada 1980-an tinggal 400 dan saat ini tersisa 182 unit. Dia khawatir tanpa upaya yang memadai, RTB di Jabodetabek bakal habis tergerus. Akibatnya, banjir musiman di DKI Jakarta semakin parah.

”Jika belum bisa menambah, setidaknya pertahankan RTB yang sudah ada. Pada zaman kolonial Belanda, hal itu sudah dipikirkan dengan pembuatan situ-situ. Namun, saat ini malah jebol,” ujarnya.

Sumur air tawar sulit

Guru Besar Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan IPB Cecep Kusmana menambahkan, selain berhadapan dengan persoalan RTH dan RTB, DKI Jakarta juga menghadapi intrusi air laut akibat penurunan muka tanah sekaligus rusaknya hutan mangrove di pesisir Jakarta.

Menurut Cecep, hanya sekitar 4 kilometer mangrove dalam kondisi baik di Muara Angke. Sebagian besar lainnya sudah berubah menjadi tambak.

”Saya memperkirakan, jika kondisi ini terus dibiarkan, dalam 10 tahun mendatang tidak ada lagi sumur air tawar warga di Jakarta karena sudah terkena air laut. Kecuali kedalaman sumur 20 meter. Namun, itu juga berbahaya karena menurunkan muka tanah,” katanya. (GAL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s