Home » Transportasi Publik Jakarta » Titik Macet Dihilangkan

Titik Macet Dihilangkan

Jokowi: Jalan dan Jalur Lambat Tidak Boleh Dipakai Berjualan

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Warga menunggu angkutan di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (4/6). Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyediakan 340 bangku taman di Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH Thamrin-Jalan Medan Merdeka Barat. Bangku itu akan diletakkan di trotoar dan taman yang dilewati pejalan kaki.

Jakarta, Kompas – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih memiliki pekerjaan rumah mengurai simpul kemacetan sedikitnya di empat kawasan lain di Jakarta selain Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Selain menertibkan PKL dan angkutan umum yang ngetem, pangkalan ojek juga wajib ditata.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Selasa (4/6), menegaskan, penertiban pedagang kaki lima dan parkir liar yang menghambat kelancaran arus lalu lintas akan terus dilakukan di sejumlah tempat. ”Kalau jalan dipakai untuk berjualan, tidak benar. Jalan ya untuk jalan. Jalur lambat ya untuk kendaraan, tidak boleh untuk jualan,” katanya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai Senin menertibkan PKL, parkir liar, dan angkutan umum yang mengetem di jalan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penataan akan dilanjutkan di tempat lain, seperti Jatinegara.

”Jatinegara itu jalannya sempit, masih dipakai parkir, dipakai berjualan. Masih seperti itu tata kotanya,” ujar Jokowi.

Tambah lokasi

Seiring penertiban itu, Pemprov DKI akan menambah lokasi untuk PKL dan parkir. Jokowi memperkirakan, pertengahan tahun 2013 tersedia 23 lokasi untuk menampung PKL di Jakarta.

Selain itu, PKL di sekitar pasar harus masuk ke dalam pasar. Pasalnya, Jokowi mengaku sering diprotes pedagang di dalam pasar yang jualannya tidak laku gara-gara pedagang kaki lima berjualan di depan pasar.

Sementara itu, kawasan Pasar Minggu, sehari pasca-penertiban PKL, Selasa (4/6), masih dijaga oleh satpol PP dan petugas dinas perhubungan. Pada Selasa siang, sedikitnya enam mobil satpol PP di Pasar Minggu, belum termasuk truk dan petugas dishub bersepeda motor, turut berjaga. Kawasan ini juga terlihat longgar dan arus lalu lintas mengalir lancar.

Akan tetapi, ojek sepeda motor yang mangkal di banyak tempat di sekitar Pasar Minggu dan di mulut Stasiun Pasar Minggu dibiarkan saja. Ojek sepeda motor ini memakan badan jalan sedikitnya selebar 1 meter. Satu-dua PKL juga masih terlihat bertahan di emperan pasar.

Penertiban kawasan Pasar Minggu ini sudah ditunggu sejak lama. Pengamat transportasi Darmaningtyas mengatakan, selain Pasar Minggu, kawasan lain yang juga perlu ditertibkan adalah Kramat Jati, Jatinegara mulai dari Jalan Jatinegara Timur hingga depan Stasiun Jatinegara, Jalan Diponegoro (depan RSCM), dan Tanah Abang.

Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena berpendapat, rute angkutan umum seharusnya didesain sesuai peta mobilitas orang dan barang. Tujuannya mengurangi kesulitan orang bepergian, menciptakan kenyamanan, dan memajukan ekonomi.

”Pemerintah punya pegangan trayek kendaraan umum massal di Jakarta. Namun, pegangan itu tidak diperbarui sesuai perubahan gaya hidup orang, cara bepergian, dan pertumbuhan pusat kegiatan baru di Jakarta. Akibatnya, banyak rute yang tidak mendekati tempat kegiatan yang ada sekarang. Orang pun malas pakai angkutan umum karena harus berpindah-pindah angkutan,” ucapnya.

Sementara itu, area parkir yang disediakan pengelola pusat perbelanjaan tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh orang yang berkepentingan datang ke pusat keramaian itu.

Karena itu, pemerintah harus memperhatikan angkutan umum massal bersamaan dengan penataan kawasan perdagangan. Hal yang penting diperhatikan dalam penyediaan angkutan umum massal adalah ketersediaan tempat turun-naik yang mudah diakses, nyaman, dan aman. Selain itu, harus ada penanda lokasi angkutan umum yang akan melintas serta informasi mengenai jam kedatangan angkutan umum, jenis kendaraan, dan tujuan kendaraan umum itu.

Eka mencontohkan kawasan perdagangan garmen Tanah Abang yang belum dilengkapi dengan angkutan umum yang memadai. Selain itu, tidak tersedia tempat menunggu bus yang memadai. Bus yang melintas di Blok A pun sangat terbatas. Akibatnya, orang lebih suka memakai sepeda motor atau mobil untuk ke pasar ini.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia Ellen Tangkudung mengatakan, okupasi jalan terjadi di banyak pasar di Jakarta.

”Okupasi dilakukan PKL, parkir, dan bongkar muat barang. Karena sudah terjadi lama, harus dilakukan pembenahan yang radikal,” katanya.(NEL/FRO/ART/NDY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s