Home » Nata de Kota » Butuh Gebrakan Radikal Membangun Kota Jasa

Butuh Gebrakan Radikal Membangun Kota Jasa

Radikal berkesinambungan.. Maklum kota ini bertahun tahun dikelola secara ambrudabrul DAN sangat MEMALUKAN. Ibukota Negara Republik Indonesia dikelola seperti mengelola sebuah kampung secara infrastruktur, organisasi dan spritual.

Jumat,21 Juni 2013
HUT DKI JAKARTA
Butuh Gebrakan Radikal Membangun Kota Jasa
Pengantar:

”Jakarta Menuju Kota Jasa di Tengah Kekusutan Sistem Transportasi Publik” menjadi tema diskusi panel yang diselenggarakan ”Kompas”, 11 Juni 2013, di Redaksi ”Kompas”. Diskusi yang digelar dalam rangka Hari Jadi Ke-486 Kota Jakarta ini adalah untuk membedah mengapa ibu kota negara ini tidak memiliki sistem transportasi yang andal sehingga kota ini menjadi tidak produktif menjadi kota jasa. Panelis terdiri dari Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan, Ketua Umum DPP Organda Eka Sari Lorena, Kepala Unit Pengelola Bus Transjakarta M Akbar, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, Direktur Lalu Lintas Perkeretaapian Hanggoro Budi Wiryawan, pengamat ekonomi perkotaan dan jasa Faisal Basri, pakar transportasi dari Universitas Indonesia, dan Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno. Diskusi dimoderatori ahli tata kota, Yayat Supriyatna. Laporan diskusi ini ditulis di halaman 1, 33, 34, 36, dan 38.

Peluang Provinsi DKI Jakarta menjadi kota jasa seperti negara-negara lain di Asia, seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Hongkong, dan Korea Selatan, sangat besar.

Banyak faktor pendukung yang membuat kota ini bisa tumbuh menjadi kota jasa, yakni pelabuhan dan bandara berskala internasional, infrastruktur jalan tol dan non-tol, kantor pusat dari berbagai perusahaan jasa keuangan, perdagangan, dan industri lokal ataupun internasional yang didirikan di Jakarta.

Hotel bintang lima dan kondotel terus bermunculan di Jakarta. Pusat-pusat perbelanjaan berskala hiper terus dibangun di sejumlah wilayah kota. Bahkan, di pinggiran Kota Jakarta ratusan menara apartemen juga bertumbuh untuk memenuhi permintaan warga baru yang memilih bertempat tinggal di Jakarta untuk berburu ”gula”.

Belum lagi kawasan industri mandiri yang juga terus dibangun di pinggiran Jakarta sebagai infrastruktur pendukung. Kawasan itu tak hanya berada di Tangerang Selatan, Tangerang, atau Bekasi, tetapi juga di wilayah Banten dan Karawang.

Sejumlah faktor tersebut membuat perekonomian Jakarta tumbuh signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada triwulan I-2013, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta mencapai 6,49 persen.

Menurut catatan BPS, sejumlah sektor menunjukkan pertumbuhan, terlebih sektor jasa yang menjadi andalan.

Data itu memberikan gambaran gamblang kepada semua pihak bahwa Jakarta seharusnya menjadi kota jasa. Peluang itu sangat mungkin diwujudkan jika didukung sektor transportasi yang andal, termasuk dukungan sistem integrasi antarmoda yang baik, serta pelayanan satu atap yang jelas dan cepat.

Mobilitas mahal

Sayangnya, hal itu tidak terjadi karena seluruh potensi dan peluang yang ada belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Warga Ibu Kota masih sulit melakukan mobilitas dengan cepat dan murah karena buruknya sistem transportasi massal.

Kondisi ini terjadi karena tidak ada keberpihakan. Para pemimpin di pusat dan daerah nyaris tak memiliki konsep dan visi yang jelas tentang sistem transportasi massal. Padahal, jika itu ada, keuntungan yang didapat pemerintah pusat ataupun daerah sangat banyak. Keuntungan itu tidak sekadar produktivitas warga yang meningkat, tetapi juga penghematan energi. Kota menjadi lebih sehat karena terjadi penurunan penggunaan kendaraan pribadi dan subsidi dapat diarahkan untuk program yang lebih bermanfaat.

Salah satu konsekuensi ketidakjelasan tersebut adalah molornya pembangunan transportasi massal monorel dan mass rapid transit. Sampai sekarang, dua megaproyek itu baru sebatas wacana. Bahkan, tarik-menarik antara eksekutif dan legislatif terus terjadi hingga sekarang.

Ketidakjelasan ini berujung pada makin jauhnya integrasi antarmoda. Sistem transportasi massal akhirnya hanya bergantung pada bus transjakarta yang kian tahun kian rentan kondisinya karena didera sejumlah persoalan, mulai dari banyaknya bus yang rusak, terbakar, didemo karyawan karena terperangkap masalah pengupahan, hingga keterbatasan pasokan gas.

Di tengah keterseokan tersebut, transportasi andalan masih harus bergerak sendirian. Tidak ada moda pengumpan, tidak terjadi integrasi dengan kereta, dan jalur bus transjakarta sering diokupasi. Praktis layanan menjadi kian buruk.

Ojek dan angkot

Akhirnya, transportasi massal yang tersedia dari rumah ke tempat kerja diambil alih oleh ojek dan angkutan kota di tengah kondisi yang masih marjinal. Warga harus berganti moda lebih dari dua kali untuk mencapai satu tempat tujuan. Itu pun tidak menjamin warga terhindar dari kemacetan.

Operator dan pemilik angkutan umum lebih mengedepankan uang setoran ketimbang kualitas layanan yang nyaman, aman, dan tepat waktu. Kondisi tersebut terjadi karena sistem transportasi massal dikelola secara pribadi sehingga kualitas layanan menjadi nomor sekian.

Persoalan kronis lain adalah perebutan trayek di jalur basah sehingga terjadi penumpukan angkutan di satu ruas, tetapi sepi angkutan di ruas jalan yang lain. Mereka yang memiliki kendaraan pribadi semakin sulit didorong berpindah ke transportasi massal.

Masyarakat akhirnya memilih kendaraan roda dua sebagai moda angkutan mereka. Selain lebih cepat dan murah, juga mudah mendapatkannya. Akibatnya, lalu lintas Jakarta kian kusut dan kumuh dengan waktu tempuh yang makin lama untuk jarak yang sama.

Oleh karena itu, dibutuhkan gebrakan revolusioner membenahi sistem transportasi di Jakarta. Tanpa ada keberpihakan dan keseriusan pemerintah kepada transportasi massal, sektor ini tetap akan terpuruk. Dengan demikian, selama itu pula ibu kota negara ini tak akan pernah mempunyai sistem transportasi massal yang baik dan andal.

Hasil akhirnya, seluruh peluang untuk menjadi kota jasa semakin sulit diwujudkan meskipun dilimpahi segudang faktor pendukung. (banu astono)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s