Home » Nata de Kota » Tanah Abang: Benang Kusut Pasar Tradisional

Tanah Abang: Benang Kusut Pasar Tradisional

 

Oleh: Be Julianery/Litbang ”Kompas” 0 KOMENTAR FACEBOOKTWITTER

Salah satu cara yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengurai kemacetan di jalan raya adalah dengan menertibkan pedagang kaki lima di ruas jalan kawasan Tanah Abang. Langkah ini dianggap sebuah terobosan yang berani mengingat rumitnya berurusan dengan para ”penguasa” kawasan pusat perdagangan tekstil Asia itu.Pertengahan Juli 2013, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melarang sejumlah ruas jalan di kawasan Tanah Abang digunakan sebagai tempat berdagang. Okupasi jalan dan badan jalan untuk berjualan dinilai melanggar aturan. Taksiran kasar kerugian biaya akibat kemacetan di kawasan Tanah Abang disebut-sebut mencapai kisaran triliunan rupiah.

Maklum, selain disebut sebagai salah satu pusat tekstil Asia Tenggara, Tanah Abang juga sudah menjadi pusat ekspor industri pakaian muslim terbesar di dunia. Dengan taksiran nilai transaksi perdagangan yang mencapai triliunan rupiah per harinya, ”menyentuh” Tanah Abang berarti siap berhadapan dengan berbagai pemangku kekuasaan yang selama ini ikut mendapat rezeki dari riuh rendah pusat bisnis ini.

Namun, segala kekusutan yang terjadi di kawasan Pasar Tanah Abang sebenarnya bisa terpetakan. Pasar Tanah Abang yang dibangun pada tahun 1735, sebenarnya baru mulai terkenal sebagai pusat perdagangan tekstil tahun 1940-an. Kini, berdiri di atas lahan seluas 27,26 hektar di Kelurahan Kampung Bali, pusat tekstil itu bernama Sentra Primer Tanah Abang dengan tujuh blok bangunan, yakni Blok A, B, C, D, E, F, dan G.

Manajemen pengelolaan pasar yang lemah ditambah dengan penegakan aturan yang tidak konsisten mengakibatkan semua ketidaktertiban tumbuh subur, bercampur baur dan dianggap ”lumrah” di sana. Setiap jengkal tanah dan ruang di area sekitar pasar pun berubah menjadi komoditas yang sepenuhnya dapat diperjualbelikan. Pedagang kaki lima (PKL) menjamur. Jual-beli tak hanya di dalam gedung, tetapi meluber sampai di gang-gang sempit, di badan jalan, dan di jalan raya.

Mengutip catatan PD Pasar Jaya, PKL di sekitar Pasar Tanah Abang berjumlah paling tidak 785 orang. Sebanyak 470 orang memiliki KTP Jakarta, sedangkan sisanya dari luar kota. Faktanya, dalam kasus pemindahan PKL dari jalanan ke dalam gedung Blok G saja oleh Gubernur DKI Jokowi, sudah terdata hampir 1.000 PKL.

Bertahun-tahun, PKL ”bebas” mengokupasi Jalan KH Mas Mansyur, Jalan Kebon Jati, Jalan Jati Bunder, dan Jalan Jati Baru. Di Jalan Kebon Jati, misalnya, lapak-lapak milik PKL yang berisi aneka baju dalam pria-wanita, beragam tas, sepatu dan sandal, serta barang pecah belah menutup hampir setiap jengkal lahan di sana. Keramaiannya bahkan membuat Jalan Kebon Jati mati alias tak bisa dilewati kendaraan.

Banyak di antara PKL yang sebenarnya karyawan toko yang ada di dalam gedung. Namun, pemilik sengaja ”membuka cabang” dengan berjualan di atas lapak di luar area tokonya. Umumnya pemilik kios memiliki lebih dari satu lapak di beberapa lokasi berbeda. Agar bisa berjualan dengan tenang, PKL memberikan sejumlah uang kepada ”koordinator lapak” yang merupakan warga setempat. Pembagian wilayah PKL disesuaikan dengan batas rukun warga (RW) masing-masing.

PKL harus membayar sewa tempat, biaya kebersihan, biaya keamanan, plus biaya listrik dan air. Para koordinator lapak mengutip biaya yang berbeda, tergantung pada strategis atau tidaknya lokasi lapak, peak season atau low season.

Lokasi gudangPermasalahan lain, kios dan gudang barang yang kurang terintegrasi mengakibatkan bongkar muat barang dilakukan di badan jalan. Tenaga bongkar muat dan pemindahan barang dari satu lokasi ke lokasi lain alias kuli mondar-mandir menggunakan troli. Sebagai pusat grosir, pengiriman barang dagangan dari kawasan Tanah Abang ke beberapa wilayah di Indonesia memunculkan jasa ekspedisi. Beberapa di antaranya tak berizin dan ”berkantor” di trotoar. Tarif parkir di gedung yang dihitung berdasarkan jam, memunculkan parkir liar dengan tarif borongan.

Segala aktivitas yang dilakukan di trotoar dan jalan raya mengakibatkan kendaraan sulit bergerak. Angkutan umum, seperti mikrolet dan bajaj, pun memanfaatkannya untuk menarikturunkan penumpang. Begitulah kekusutan dan kesemrawutan terjadi. Mengurai simpul kemacetan dan membenahi kawasan bursa tekstil yang tersohor sampai mancanegara itu tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Ribuan orang, dengan beragam ”profesi” telanjur menggantungkan hidup di sana.

Upaya memindahkan PKL ke Blok G yang kini dilakukan Pemprov DKI Jakarta sebenarnya sudah pernah dicoba pada tahun 2005. Kala itu, Jakarta dipimpin oleh Sutiyoso. Keberadaan PKL di Blok G hanya bertahan sekitar enam bulan. Dengan alasan sepi pembeli, setengah tahun kemudian para PKL kembali berdagang di trotoar dan jalan hingga saat ini.

Bila PKL berhasil dipindahkan dan transaksi jual beli mereka selancar saat mereka di jalan, bisa jadi hal yang pernah terjadi tidak akan berulang. Efek lainnya adalah keberadaan ”koordinator lapak” bisa dihilangkan.

Solusi lain menyangkut gudang milik pedagang. Gudang akan diatur sehingga bisa berada di dalam pasar. Lokasi gudang yang menyatu bisa menghilangkan troli pengangkut barang yang berseliweran di jalan. Upaya lain yang dilakukan adalah menertibkan jasa ekspedisi tak berizin yang memakan badan jalan. Ekspedisi yang telah memiliki izin direncanakan menempati Blok A nomor 3 dan 4, serta Blok B nomor 9 dan 10. Imbas penataan ini pada akhirnya akan menyentuh kuli angkut. Parkir liar pun dihilangkan. Lahan parkir yang berada di lantai 7, 8, 9, dan 10 Blok B akan difungsikan seoptimal mungkin.

Kawasan Tanah Abang, salah satu landmark Jakarta, memang sudah waktunya ditata. Penataan kawasan ini selain membuat wajah kota lebih baik, akan membawa dampak yang diinginkan, yakni kelancaran lalu lintas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s