Home » Kualitas Air dan sungai » Warga Tangerang Pilih Beli TV Ketimbang Bikin WC

Warga Tangerang Pilih Beli TV Ketimbang Bikin WC

Abad 21 di kota metropolitan.. masih ada yang doyan (karena tradisi) buang hajat (“boker”) di kebun atau di sungai.. Luar biasa primitif nya. seperti orang Eropa di abad ke 13 

 

SELASA, 27 AGUSTUS 2013 | 08:11 WIB

 

Warga Tangerang Pilih Beli TV Ketimbang Bikin WC

Sxc.hu

 

TEMPO.COTangerang – Warga Kabupaten Tangerang ternyata lebih memilih membeli televisi daripada membangun fasilitas jamban atau toilet dirumahnya. Temuan ini terungkap dalam survei yang dilakukan International Urban Water and Sanitation Health (IUWASH), sebuah lembaga dari Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, belum lama ini.

“Ternyata 80 persen warga Kabupaten Tangerang memiliki televisi, daripada jamban dirumahnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Naniek Isnaini, kepada Tempo, Selasa, 27 Agustus 2013. Survei tersebut dilakukan terhadap 5000 kepala keluarga secara acak di 25 desa dari delapan kecamatan di Kabupaten Tangerang yang berada di wilayah banjir, miskin, padat penduduk, dan daerah aliran sungai. 

Hasilnya, sebagian besar rumah penduduk memiliki televisi, tapi tidak memiliki sarana pembuangan. “Sebanyak 57 persen memiliki jamban keluarga, MCK hanya 9 persen, sisanya tidak memiliki jamban, tapi mereka hampir semuanya memiliki televisi,” kata Naniek.

Studi kesehatan ini juga menyasar pola pikir dan pola hidup masyarakat, seperti kebiasaan warga dalam hal buang hajat (air besar). Dalam studi sanitasi tahun 2012 ini juga terungkap, banyak warga yang memiliki jamban tapi tidak sehat, seperti tidak memilikiseptic tank yang artinya kotoran langsung dibuang ke sungai, masih banyak warga yang buang hajat di kebun dan disungai, serta kebiasaan para ibu yang membuang popok bayi secara sembarangan. 

Warga di Kampung Kelor, RT 01, Kecamatan Sepatan Timur, misalnya. Untuk urusan buang hajat, masyarakat di kawasan itu memilih di kebun atau sungai daripada menggunakan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dibangun pemerintah. Alhasil, bangunan MCK yang ada menjadi tidak terurus, serta terlihat bobrok dan usang.

Maryani, 25 tahun, warga setempat tertarik menggunakan MCK tersebut untuk urusan buang hajat. “Kami lebih suka buang hajat di kebun atau di sungai,” kata Maryani seraya tersipu malu. Menurut dia, kebiasaan tersebut sudah tradisi warga sekitar. “Kalau buang air di WC atau toilet, banyak yang tidak bisa terangsang atau sulit keluarnya.”

JONIANSYAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s