Home » Fasilitas » Potret Buram Taman Kota

Potret Buram Taman Kota

 Kaum miskin kota atau “Lumpen proletar”  memang sulit diatur.  Mentalitas “Dikasih hati minta empela” . Budaya kaum lumpen proletar yang paling brengsek adalah tidak dapat menghargai kepentingan umum/publik.  Salah satu solusi buat kaum ini adalah sosialisasi fasilitas umum, dan  penerapan aturan untuk menjaga fasilitas umum dengan ketat dan tegas.  Ketiga adalah mendidik generasi muda dari lumpen proletar agar mereka tidak seperti orang tuannya. Tanpa aturan jelas dan keras fasilitas publik di kota Jakarta akan selalu menjadi kumuh dan busuk
 
   
 
   Selasa, 08/10/2013 12:39 WIB

 

Tak Cuma Mesum, Mabuk-mabukan dan Penodongan Warnai Taman KBT

 

Hardani Triyoga – detikNews

 
 
Halaman 1 dari 2
 
Warga memanfaatkan areal KBT untuk berkumpul dan bersantai. (Fotografer-Agung Pambudhi)

Jakarta – Menjelang petang Jumat pekan lalu, suasana Taman Kanal Banjir Timur (KBT) di Jakarta Timur, seperti biasanya. Puluhan warga ibu kota, terutama muda-mudi tampak mewarnai areal taman KBT.

Selain dijadikan tempat pacaran yang menjurus ke perbuatan mesum, taman BKT biasa menjadi tempat tongkrongan remaja untuk mabuk-mabukan. Bahkan kalau di hari kerja, kawasan taman ini cukup rawan tindak kriminal karena kerap kali terjadi penodongan di atas pukul sembilan malam.

Banyaknya pengunjung yang mabuk-mabukan paling kentara kalau akhir pekan.
Seorang pengamen yang biasa beroperasi di lokasi ini, Rusdi, 19 tahun, mengaku sering melihat kelompok-kelompok anak muda membawa minuman keras ke lokasi taman dan meminumnya di deretan sepeda motor yang diparkir.

Sementara, lokasi buat mesum biasanya yang tidak ada jalur lintas sepedanya karena ada penutupnya dan tidak bisa dilewati sembarang orang. “Rata-rata sih kalau dilihat pengunjung ke taman remaja atau pelajar yang masih sekolah,” tutur Rusdi saat ditemui detikcom, Jumat pekan lalu.

Menurut dia, semakin banyaknya pengunjung ke taman dengan jam bebas karena tidak ada larangan. Hal ini yang juga membuat pengamen seperti dirinya berani mengamen dari sore sampai tengah malam. “Kalau ada petugas Satpol mah kita juga gak bisa Bang ke situ. Ini aja jarang dijaga jadi sering ke situ (taman KBT),” kata dia yang sudah delapan bulan “ngepos” di KBT.

Kalau soal adanya penodong, kata Rusdi, biasanya pelaku nekat melakukan aksinya saat kondisi taman sedang sepi pengunjung. Seorang tukang ojek di KBT, Yamin, 49 tahun, mengungkapkan biasanya yang diincar penodong adalah korban yang seorang diri

 
amin menceritakan dua pekan lalu ada seorang karyawan pabrik yang jalan kaki menuju tempat kost ditodong orang yang mabuk pada pukul sebelas malam. Kurangnya penerangan dan banyaknya pepohonan membuat kawasan jalur KBT menjadi sering tak aman jika sudah selepas isya. “Kalau malam sampai subuh jarang ada petugas Satpol PP,” ujarnya ketika ditemui detikcom.

Warga RT 07/RW 05 Kelurahan Mekar Sari Kecamatan Duren Sawit, Albi Wahyudi, 35 tahun, mengatakan isu praktik mesum, mabuk-mabukan dan perbuatan kriminal para remaja di taman KBT sudah lama berembus.

Padahal, taman ini dicanangkan sebagai taman percontohan karena punya kelengkapan seperti jogging track hingga jalur sepeda. Namun, perkembangannya salah kaprah karena tidak ada imbauan dan ketegasan pemerintah daerah.

“Saya seneng sih pas Jokowi resmiin. Tapi, sebulan setelah itu dah mulai aneh tuh. Apalagi Sabtu-Minggu. Udah deh, ABG-ABG pada datang kayak nyamuk, banyak gak bener,” ujar Albi saat ditemui detikcom, Jumat malam pekan lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s