Home » Kualitas Perumahan » Ini Penampakan Kampung Liar yang Jadi Serangan Nurhayati ke Jokowi

Ini Penampakan Kampung Liar yang Jadi Serangan Nurhayati ke Jokowi

Selasa, 22/10/2013 16:15 WIB

Taufan Noor Ismailian – detikNews
Halaman 1 dari 2
Foto: Taufan/detikcom

Jakarta – Petinggi Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf menyerang Jokowi dengan menyebut ada 1.000 rumah yang terbakar di satu tempat saja yaitu Kelapa Gading pada 1 Oktober 2013. Hal seperti itu belum pernah terjadi di zaman Foke.

Lalu bagaimana penampakan lokasi kebakaran yang menyulut ‘balas pantun’ itu? detikcom menyambangi pemukiman ilegal yang terletak di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Kelapa Gading, Jakarta Utara, tersebut pada Selasa (22/10/2013) siang.

Sisa-sisa kebakaran masih terlihat jelas, dengan sisa-sisa kayu yang telah menjadi arang dan tanah yang berwarna hitam. Tak ada penampakan bekas bangunan yang berpondasi batu di sana. Lokasi kebakaran berupa rawa-rawa yang diperkirakan seluas 2-3 hektar dan ditumbuhi tanaman liar.

Di sisi pinggir jalan, beberapa warga mendirikan tenda-tenda sementara, sisanya memilih mengungsi ke tempat sanak-saudaranya. Terlihat beberapa warga mendirikan tempat berteduh baru dengan bahan dasar kayu dan tripleks, sama seperti hunian yang terbakar sebelumnya. Hunian itu lebih mirip bedeng atau gubuk.

Dengan menancapkan kayu-kayu di atas rawa yang penuh dengan lautan sampah dan air berwarna hitam, warga terlihat membangun sebuah pondasi bedeng. Di atas pondasi itu nantinya akan dihubungkan ke setiap rumah-rumah penduduk lainnya dengan kayu serta tripleks yang membuatnya saling terhubung.

Pembangunan hunian itu dilakukan secara gotong-royong. Bedeng-bedeng itu terlihat tidak melebar namun meninggi ke atas dan terlihat dibangun untuk bangunan dua lantai. Hanya seng yang merupakan atap bangunan yang merupakan bagian bangunan yang paling besar yang terbuat dari besi.

Sekitar 10 bedeng telah terlihat hampir selesai pengerjaannya. Beberapa bedeng yang sudah ditinggali terlihat di bagian belakangnya ditambal dengan spanduk-spanduk untuk menahan angin dan hujan

Ketua RT/RW VII/XIII, Gandhi, membenarkan bahwa pada kebakaran 1 Oktober 2013 silam banyak warganya yang kehilangan tempat tinggal. Api dengan cepat mengamuk karena pemukiman tersebut dibangun dengan kayu dan tripleks yang mudah terbakar.”Yang terbakar rumahnya hampir 1.000 lebih. Cuma yang saya tahu ada sekitar 1.350 KK di sana,” ujarnya saat ditemui di Jalan Inspeksi Kali Sunter.Gandhi berterus terang bahwa warganya tidak memiliki izin tinggal dan hak tanah yang saat ini ditempatinya. Tanah itu juga diakui bukan milik pemerintah, namun milik pihak swasta. “Masalahnya ini bukan lahan pemerintah,” kata Gandhi.

Selasa, 22/10/2013 18:08 WIB

Kampung Liar di Kelapa Gading Juga Pernah Terbakar di Masa Foke

Taufan Noor Ismailian – detikNews
Halaman 1 dari 2

Jakarta – Pemukiman penduduk ilegal di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Kelapa Gading Barat, habis dilalap api pada 1 Oktober 2013. Kebakaran itu bukan pertama kali terjadi. Di masa Fauzi Bowo, kebakaran yang melanda kampung liar yang menjadi perdebatan kubu Nurhayati vs kubu Jokowi ini juga pernah terjadi.

“Pada tahun 2011 pernah juga terbakar,” ujar Ketua RW XIII, Bawono, di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Selasa (22/10/2013).

Foke menjadi gubernur pada 2007-2012. Lima tahun sebelumnya dia menjabat wagub mendampingi Sutiyoso.

Kebakaran pertama kali juga terjadi pada tahun 2002 di masa kepemimpinan Sutiyoso. “Cuma sekali di masa Foke,” kata Bawono.

Secara terpisah Ketua RT RT/RW VII/XIII, Gandhi, menyebut wilayahnya sudah empat kali terbakar.
Untuk tahun ini, kebakaran terjadi pada awal Oktober.

“Ini sudah keempat kalinya, tahun sebelumnya juga pernah. Namun ini kayaknya yang terparah,” terangnya.

Api sangat cepat membakar hunian warga karena hampir semua hunian terbuat dari kayu, mirip bedeng. Para warga mendirikan bedengnya di atas empang/rawa yang ditopang dengan kayu-kayu penyangga dan berdinding triplek

Selasa, 22/10/2013 18:08 WIB

Kampung Liar di Kelapa Gading Juga Pernah Terbakar di Masa Foke

Taufan Noor Ismailian – detikNews
Halaman 2 dari 2

“Dari beberapa kali terjadi kebakaran, penyebab utamanya adalah soal listrik,” ucapnya.

Gandhi berterus terang bahwa warganya tidak memiliki izin tinggal dan hak tanah yang saat ini ditempati. Tanah itu juga diakui bukan milik pemerintah, namun milik pihak swasta. “Masalahnya ini bukan lahan pemerintah,” kata Gandhi.

Terkait informasi latar belakang penduduknya, rata-rata mereka yang tinggal di lahan itu berasal dari luar Jakarta dan telah menetap di sana selama 7-8 tahun. Gandhi menyebut hanya tinggal beberapa keluarga saja yang merupakan penduduk asli Jakarta yang tinggal di sana.

“Kebanyakan rata-rata pendatang,” ujarnya.

Saat masuk ke wilayah perkampungan itu lebih dalam, detikcom dapat mendengar dialek-dialek khas Banyumasan dan Batak yang terlontar dari para penduduk itu. Mereka mulai kembali membangun bedeng yang bahan dasarnya adalah tripleks dan kayu, sama seperti bangunan yang hangus terbakar sebelumnya.

Jumlah warga di kampung liar itu simpang siur. Ketua RW Bawono menyebut total KK yang menghuni kampung liar itu berjumlah sekitar 2.000 KK dengan total bangunan 1.350 unit dengan penduduk yang memiliki KTP hanya berjumlah 112 KK. Sementara Ketua RT Gandhi menghitung ada sekitar 1.350 KK di sana.

“Dari beberapa kali terjadi kebakaran, penyebab utamanya adalah soal listrik,” ucapnya.

Gandhi berterus terang bahwa warganya tidak memiliki izin tinggal dan hak tanah yang saat ini ditempati. Tanah itu juga diakui bukan milik pemerintah, namun milik pihak swasta. “Masalahnya ini bukan lahan pemerintah,” kata Gandhi.

Terkait informasi latar belakang penduduknya, rata-rata mereka yang tinggal di lahan itu berasal dari luar Jakarta dan telah menetap di sana selama 7-8 tahun. Gandhi menyebut hanya tinggal beberapa keluarga saja yang merupakan penduduk asli Jakarta yang tinggal di sana.

“Kebanyakan rata-rata pendatang,” ujarnya.

Saat masuk ke wilayah perkampungan itu lebih dalam, detikcom dapat mendengar dialek-dialek khas Banyumasan dan Batak yang terlontar dari para penduduk itu. Mereka mulai kembali membangun bedeng yang bahan dasarnya adalah tripleks dan kayu, sama seperti bangunan yang hangus terbakar sebelumnya.

Jumlah warga di kampung liar itu simpang siur. Ketua RW Bawono menyebut total KK yang menghuni kampung liar itu berjumlah sekitar 2.000 KK dengan total bangunan 1.350 unit dengan penduduk yang memiliki KTP hanya berjumlah 112 KK. Sementara Ketua RT Gandhi menghitung ada sekitar 1.350 KK di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s