Home » SOAL ANGGARAN » Banjir Besar Tetap Mengancam Jakarta

Banjir Besar Tetap Mengancam Jakarta

KAMIS, 31 OKTOBER 2013

kompas logo

INFRASTRUKTUR WADUK

JAKARTA, KOMPAS — Apabila intensitas hujan akhir tahun 2013 hingga awal tahun depan sama seperti musim hujan tahun-tahun sebelumnya, potensi banjir besar tetap akan ada. Pemicunya adalah rendahnya kemampuan daya dukung saluran drainase.

Menurut Ketua Program Studi Magister Ilmu Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Tarsoen Waryono, Rabu (30/10), saat ini lebih dari 30 persen saluran air tersumbat sampah dan sedimentasi tanah. Padahal, prediksi besaran limpasan air Kali Ciliwung mencapai 900 juta meter kubik, Kali Pesanggrahan 550 juta meter kubik, dan Kali Grogol 460 juta meter kubik. Ketiga sungai itu memiliki potensi limpasan air 1.900 juta meter kubik.

Dengan kondisi sungai-sungai di Jakarta yang baru sedikit tersentuh program revitalisasi, jutaan meter kubik air itu tidak akan tertampung di badan kali. Air diyakini masih akan melimpah dan menggenangi sebagian wilayah DKI Jakarta.

DKI Jakarta sebenarnya memiliki kawasan tandon air berupa situ dan waduk, seperti Waduk Ria Rio, Waduk Pluit, dan Setu Babakan. Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, masih ada lebih dari 46 tandon dengan total luas 332,10 hektar.

”Namun, dari penelusuran di lapangan itu, juga diperoleh data lebih dari 30 persen kondisi kawasan tandon air di DKI Jakarta terganggu ekosistemnya. Akibatnya, fungsi situ atau waduk tidak optimal,” katanya.

Secara biologis, kawasan tandon air berfungsi sebagai habitat biota air serta terselenggaranya rantai makanan dan sumber pakan bagi kehidupan liar. Jasa hidrologis berperan sebagai filter siklus geohidrologis dan pengendali banjir.

Apabila direvitalisasi, kedalaman rata-rata situ atau waduk di DKI Jakarta mencapai 3,5 meter. Menurut perkiraan Tarsoen, jika 46 tandon air direvitalisasi, potensi daya tampung air permukaannya sebesar 11,6 juta meter kubik.

Fungsi sebagai tandon air cukup besar, tetapi tetap tidak cukup ampuh untuk menampung potensi limpasan Kali Grogol, Pesanggrahan, dan Ciliwung. Kondisi ini belum berbicara tentang potensi limpasan Sungai Angke, Sunter, dan lainnya.

DikeringkanUntuk mengantisipasi banjir, langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah mengeringkan sejumlah waduk besar di DKI Jakarta. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi waduk sebagai tandon. Langkah ini terbukti efektif, kata Joko Susetyo, Kepala Bidang Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta. Ketika kapasitas Waduk Pluit dikurangi dan rob melanda Jakarta Utara, ujarnya, dampaknya tidak serius di wilayah sekitar.

”Kami sedang menerapkan hal yang sama untuk sejumlah waduk lain. Cara ini perlu dilakukan agar kapasitas waduk menjadi maksimal. Saat ini pompa yang ada di sejumlah waduk bekerja mengurangi air di dalam waduk,” ujar Joko.

Langkah lain yang disiapkan, kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, adalah memerintahkan lurah dan camat agar lebih rajin berpatroli. Mereka juga harus aktif menggerakkan satuan tugas banjir. Dengan demikian, mereka tahu lokasi-lokasi genangan dan bisa cepat diperbaiki.

Meskipun demikian, Basuki mengakui bahwa saluran air di DKI Jakarta belum sepenuhnya bersih dari sampah dan juga endapan. Saat dilakukan peninggian atau pengaspalan jalan, lubang drainase sering kali malah tertutup.

Posisi jalan juga menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan saluran air sehingga air tidak bisa masuk ke gorong-gorong. Hal itu memicu terjadinya genangan di sejumlah ruas jalan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan dana darurat penanggulangan banjir sebesar Rp 4 miliar. Dana tersebut berasal dari APBD DKI Jakarta, APBN, atau bantuan pihak swasta. Jumlahnya bisa bertambah sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

CisadaneSementara itu, Anto Pudjantoro dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane pada Kementerian Pekerjaan Umum mengatakan, Kementerian Pekerjaan Umum akan menata garis sempadan Sungai Cisadane di Kota Bogor. Penataan itu untuk menjamin kelestarian dan fungsi Cisadane sekaligus menjaga masyarakat sempadan dari ancaman banjir dan tanah longsor.

Cisadane berhulu di Gunung Pangrango dan bermuara di Laut Jawa. Dari hulu ke hilir, Cisadane melintasi lima kabupaten/kota dengan panjang 126 kilometer. Sepanjang 28 kilometer, Cisadane melintasi wilayah administratif 20 kelurahan di Kota Bogor.

”Kami sedang memetakan Cisadane untuk pembuatan peta guna penataan ulang garis sempadan sungai,” ujar Anto.

Dengan adanya penataan, lanjutnya, semua bangunan di kawasan sempadan tidak boleh ditambah. Pemerintah Kota Bogor dilarang menerbitkan izin mendirikan bangunan di wilayah sempadan. ”Secara bertahap, kami akan menata dan memperbaiki sempadan. Jika harus ada relokasi, kami segera berkoordinasi dengan pemerintah setempat,” katanya.

(PIN/BRO/MKN/RAY/NDY/ART/nel/fro)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s