Home » Kualitas hidup » Merindukan Jalur Nyaman Sepeda di Jakarta

Merindukan Jalur Nyaman Sepeda di Jakarta

Kapan PNS diWajibkan ke kantor naik sepada. Mungkin bisa di mulai oleh pak Gubernur .

HomeMetroLayanan publik
SELASA, 05 NOVEMBER 2013 | 04:56 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Hampir tiap pagi Dina Indri Hapsari mengayuh sepedanya ke tempat kerjanya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Dari rumahnya di Ciledug, wanita ini mesti menempuh jarak sekitar 13 kilometer.

“Butuh waktu sampai 60 menit untuk sampai kantor,” kata Dina, sekretaris komunitas bike to work ini kepada Tempo beberapa waktu lalu. Waktu tempuh ini lebih cepat jika dibanding menggunakan angkutan umum atau kendaraan bermotor.

Dina mengatakan, banyak manfaat yang diperoleh dengan menggunakan sepeda sembari berangkat kerja, mulai dari badan yang lebih segar hingga badan tidak mudah sakit.

Sayang, tantangan gowes di Jakarta juga lumayan berat. Mulai dari kontur jalan hingga berebut dengan sepeda motor dan angkutan umum. Makanya, menurut Dina, banyak anggota komunitas yang berangkat pagi sekali.

Perasaan Dina ini mewakili sekitar 3.000 anggota komunitas bike to work di Jakarta. Bahkan mereka yang gowes di jalur sepeda pun musti bertarung dengan pemotor.

Saat ini DKI hanya memiliki dua jalur sepeda, di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, dengan rute Taman Ayodia hingga Blok M sepanjang 1,5 kilomete, dan di kawasan Kanal Banjir Timur sepanjang 6,7 kilometer dari Jalan Basuki Rahmat hingga Jalan Sukamto.

Dina menutukan, peran pemerintah daerah sangat vital untuk memelihara jalur sepeda. Hanya, ia mahfum, saat ini untuk menambah jalur sepeda sudah sangat sulit, melihat jumlah kendaraan yang sudah sangat padat.

Dengan demikian, ia mengusulkan, minimal Pemerintah Daerah DKI Jakarta membuat kebijakan yang memfasilitasi pengguna sepeda di kawasan bisnis, seperti Jalan Sudirman hingga Thamrin, Kuningan, dan Kemang. “Jadi, orang yang mau ke gedung lain cukup gowes,” katanya.

Direktur Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Yoga Adiwinarto, mengatakan sedang menyusun integrasi sepeda dengan angkutan masal. Konsep ini bernama bike sharing.

“Konsepnya meniru program serupa di Hangzhou, Cina,” kata Yoga. Ia menjelaskan, secara umum, konsepnya mirip rental sepeda.

Masyarakat meminjam sepeda di terminal penyewaan untuk pergi ke lokasi tujuan. Hanya bike sharing ini dikelola dengan cara lebih modern.

Yoga menjelaskan, dalam bike sharing ini, ada terminal-terminal sepeda yang ditempatkan di dekat halte transportasi massal macam Transjakarta. Di dalam satu terminal minimal ada 20 sepeda. Untuk menyewa sepeda tersebut, masyarakat menggunakan fasilitas semacam e-ticketing.

Tiket elektronik tersebut berisi data si pemegang kartu beserta saldo. Nantinya, mereka yang akan menggunakan sepeda tersebut tinggal menempelkan kartu itu di alat pemindai.

Dengan begitu, otomatis data si peminjam akan terekam. Di terminal ini juga dilengkapi papan informasi yang berisi daftar lokasi terminal-terminal yang ada, sehingga si peminjam tidak bingung di mana dia akan menggembalikan. Si peminjam tinggal mencari terminal terdekat dari tujuan.

Yoga mengatakan, akhir tahun ini akan ada uji coba. “Uji pertama ini akan dipusatkan di kawasan bisnis Kuningan,” ujarnya. Sasarannya para pebisnis yang ada di kawasan tersebut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan bike sharing akan berjalan tahun depan. Menurut dia, saat ini rancangan lebih matang sedang disusun Badan Perencanaan Daerah.

“Akan dianggarkan tahun depan juga,” ujarnya. Ia berharap, dengan program ini, masyarakat akan beralih menggunakan sepeda untuk perjalanan jarak dekat, misal antarkantor. Secara garis besar, ia sepakat dengan ide ITDP ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono mengatakan akan menambah jalur sepeda di Kanal Banjir Timur sepanjang 15,3 kilometer. “Dalam waktu dekat akan ditambah ke arah Marunda, Jakarta Utara,” katanya.

Ia menjelaskan ada tiga jenis jalur, yakni bike route, yang tidak memiliki marka dan bercampur dengan jalan umum; bike lane, memiliki marka jalur sepeda meski masih bercampur dengan jalan umum; bike path, yaitu jalur sepeda terpisah dengan jalan umum.

SYAILENDRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s