Home » Prilaku kaum miskin kota » Ahok: Kami Bawa Polisi, Mereka Bawa Golok

Ahok: Kami Bawa Polisi, Mereka Bawa Golok

Prilaku miskin kota di DKI memang sudah kelewatan ! Kemiskinan oleh mereka dijadikan legitimasi untuk  bertindak  seenaknya sendiri atau sesuka hati. Sebelum banjir yang paling terlihat prilaku abal abal dari kaum miskin kota ini adalah para pengemudi angkutan umum Metro Mini dan sejenisnya.  Kala banjir  versi lain dari kaum miskin kota yang bikin ulah..
Selasa, 21 Januari 2014 | 08:25 WIB

Ahok: Kami Bawa Polisi, Mereka Bawa Golok

Kali sunter. TEMPO/Tri Handiyatno

B

TEMPO.CO , Jakarta:- Wakil Gubernur DKI Jakarta  Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok geram dengan perilaku warga yang membolongi tanggul. Tak hanya tanggul, tapi juga konstruksi jembatan dibolong untuk pembangunan jembatan.

Karenanya Ahok bertekad, akan “menyikat” habis bangunan liar yang ada di sekitar kawasan tanggul. Mereka dinilai merusak konstruksi tanggul dengan membangun jembatan liar.

“Saya gak mau tahu, habis ini mau saya sikat semua. Lu mau cap saya pelanggar HAM terberat sedunia pun saya terima.” kata Ahok dalam percakapannya dengan Tempo di Balai Kota, Senin 20 Januari 2014. Ahok mengaku, punya segepok bukti soal tindakan kriminal warganya itu.(baca:Ahok: Gimana Enggak Banjir Kalau Tanggul Dibolongi?) 

Ia menunjuk foto hasil inspeksi mendadak stafnya di sejumlah kawasan. Salah satunya, bukti ulah “oknum” warga yang tinggal di bantaran tanggul Kali Sunter dan Kemayoran. Disitu terlihat, foto-foto tanggul dibolongi setinggi satu hingga tiga meter untuk dibuat jembatan.

Selain merusak konstruksi tanggul, adanya permukiman liar di sekitar tanggul menurut Ahok juga menjadi penyebab utama banjir karena menghalangi saluran air. Ahok menilai, solusi terbaik untuk menangani masalah tersebut adalah dengan memidanakan para pemilik bangunan liar.

“Ini tindakan pidana. Mereka bilang bikin jembatan karena pemerintah tidak pernah bikinkan jembatan, itu benar, tapi apa atas nama HAM kita biarkan mereka kerendem?” kata Ahok.

Ahok menduga, mayoritas warga yang tinggal di bantaran kali dan menolak dipindahkan karena mereka mengontrakkan rumahnya. Ia berjanji akan menindak mereka, meski masalahnya, jika kasus ini diperkarakan ke polisi,akan terjadi perlawanan. “Kami bawa polisi, tapi mereka akan bawa golok, ya biarin. Saya sudah kesal.”
WDA

 

++++++++++++

 

Bencana Banjir dan Keserakahan Kita
Headline

(Foto: inilah.com)
Oleh: Darmawan Sepriyossa
nasional – Selasa, 21 Januari 2014 | 14:14 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Bencana banjir saat ini seolah menampilkan bentuk paling buruk dari pembagian peran di masyarakat kita.

Ada sebagian kecil masyarakat yang mengeksploitasi alam sekehendaknya, dan pada gilirannya, kini hampir seluruh rakyat menuai buah pahitnya berupa banjir.

Banjir yang terjadi saat ini memang merupakan buah kelakuan kita juga. Karena kita lupa bahwa alam pun bisa berkata tidak bila disiksa. Paling tidak, hal itu diakui Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya. Menurut Balthasar, kerusakan lingkungan di daerah hulu menjadi salah satu faktor penyebab banjir di Jakarta. Ia mencontohkan kerusakan ekologis yang terjadi di daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Kerusakan ekologis di DAS Ciliwung, menjadi salah satu faktor penyebab banjir di Jakarta,” kata Balthasar. Akibat kerusakan itu, kata Menteri, beban yang harus ditanggung DAS Ciliwung makin berat.

Lalu kita melihat alam pun menolak beban yang melebihi daya dukungnya. Dibiarkannya air mengalir tanpa diserapnya, menjadi air larian (run off) yang membanjiri lahan-lahan yang lebih bawah. Jakarta, Manado dan wilayah Pantai Utara Jawa serta merta menjadi kolam raksasa yang memeras air mata ribuan jiwa.

Lihat saja angka-angka ini: di Manado, banjir yang menghantam kota itu selama sepekan ini telah menewaskan 19 orang, menghanyutkan 565 rumah, membuat 10.647 bangunan rusak, dan tentu saja menyebabkan puluhan ribu warga kota berubah menjadi pengungsi.

Sayangnya, para korban banjir itu–tidak di Jakarta, tidak di Manado, di mata pemerintah pusat laiknya anak tiri. Presiden sebagai pemimpin tertinggi negeri ini lebih berkenan terbang ke Bali mengurusi persoalan partainya sendiri.

Hingga hari ini, Presiden tampaknya merasa cukup hanya dengan menelepon Jokowi. Itulah yang disebut Presiden sebagai koordinasi. Jelas sudah, dalam urusan menentukan prioritas masalah, Kepala Negara telah salah kaprah.

Kesulitan para korban banjir, kesengsaraan sebagai pengungsi itu rupanya tidak lagi mampu menggetarkan hati sang pemimpin. Padahal menurut seorang sufi, Sa’di Ghulistan, tergetar tidaknya hati itulah yang menentukan kadar kemanusiaan seseorang. “Jika engkau tak lagi tergetar oleh kesengsaraan sesama,” kata dia,” Kau tak layak menyebut dirimu manusia.”

Bila di media sosial kita banyak membaca bahwa Jokowi sebagai gubernur DKI disebut-sebut tidak bisa mengantisipasi bencana tahunan ini, rasanya tidak sepenuhnya demikian.

Paling tidak, kita pun tahu, jauh-jauh hari Pemda DKI telah berupaya mengatasinya. Upaya normalisasi sungai-sungai Jakarta dengan cara pengerukan lumpur yang mengurangi daya tampungnya, telah dilakukan. Namun sebagaimana pengamat perkotaan Yayat Supriatna katakan, hal itu jauh dari cukup. “Yang mendasar, Jakarta tak punya cukup ruang terbuka hijau sebagai lahan resapan air,” kata Yayat.

Dan kondisinya parah. Dari kebutuhan proporsi ruang terbuka hijau sebesar 30 persen, atau sekitar 8.155 hektare, ruang terbuka yang dimiliki Jakarta hanya sepertiga dari kebutuhan minimum itu, alias 2.718,33 hektare. “Hingga 2012, luas ruang terbuka di Jakarta masih sebesar 10 persen,” Kepala Bidang Taman Kota Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI, Suzi Marsitawati. Sisa luas lahan Jakarta kebanyakan kini telah berubah menjadi rimba beton berupa bangunan pertokoan dan apartemen.

Sementara untuk menambah luas ruang terbuka itu pun bukan hal yang mudah. Menurut Yayat, untuk menambah satu persen saja, itu sekitar delapan sampai 10 kali luas Monas. “Dan sulitnya, harga tanah di Jakarta sudah sangat mahal,” kata pengajar Universitas Trisakti itu.

Kemana lahan-lahan terbuka yang sepuluh tahun lalu masih tertutup belukar dan alang-alang itu pergi? Semua habis dikalahkan keserakahan kita membangun mal, perumahan dan apartemen, dan melupakan keharusan menyisakannya untuk resapan air. Kita seolah lupa, atau mungkin mengidap pleonoxia, alias penyakit jiwa yang didera keinginan mendapatkan lagi, lagi dan lebih lagi. Kita telah terhinggapi sifat rakus yang tak kenal putus.

Kita lupakan pesan-pesan yang sejak lama sesungguhnya pernah kita dengar atau baca. Benar kata Mahatma Gandhi, bahwayang disediakan Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tapi tidak untuk memenuhi keserakahan tiap orang.

Entah pula telah kita buang kemana tesis ‘’The Limits to Growth’, yang dikeluarkan Club of Rome sejak 1972 lalu,yang sudah mewanti-wanti bahwa pertumbuhan ekonomi ada batasnya, dan sumber daya alam pun akan ada habisnya.

“Kita telah melihat jelas tanda-tandanya,” kata Abdulhamit Caqmut, seorang guru sufi asal Turki kepada Alan Weisman, penulis buku nonfiksi best sellerThe World Without Us, tentang tanda-tanda akhir zaman. “Keselarasan telah dilanggar. Overeksploitasi, korupsi, ketidakadilan dan polusi pun kian menguatirkan.”

Dunia, bahkan di mata Caqmut yang sederhana, telah berubah menjadi tempat yang kian tak nyaman. Kian membuat kita, penghuninya, menjadi pengisi yang rentan. Saat kemarau, panas begitu tinggi mendera, sementara kala penghujan, banjir meluap di mana-mana.

Bila kita sepakat dengansejarawan Arnold Toynbee, bahwa kematian satu peradaban, satu bangsa, seringkali karena ia membunuh dirinya sendiri, barangkali kelakuan kita yang abai pada hutan dan alam umumnya, mulai kita tuai buah pahitnya.

Dengan kesadaran itu, tak ada salahnya kita bergegas berubah. Mengubah cara pikir dan tindak dalam memperlakukan bumi, menjadi lebih bertanggung jawab dan penuh peduli.

Mungkin kita harus mengingat film There Will be Blood, saat Daniel Day Lewis yang berperan sebagai si rakus Plainview memperingatkan,” ..Kalian punya kesempatan baik. Tapi ingat, kalian akan kehilangan kalau tak hati-hati.” Seharusnya, sejak puluhan tahun lalu kita sudah harus mendengarkan Plainview. [dsy]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s