Home » SOAL BANJIR » Jakarta Kian Mencemaskan

Jakarta Kian Mencemaskan

dari Kompas.

Drainase dan Situ Tak Mampu Menampung Air Hujan

 

JAKARTA, KOMPAS — Drainase dan situ yang ada di Jakarta tidak mampu  menampung curah hujan yang turun sejak Selasa (28/1) petang hingga Rabu siang. Warga Ibu Kota yang pulang kerja pada Selasa malam dan berangkat kerja Rabu pagi tersiksa kemacetan parah.Warga Ibu Kota dan sekitarnya sengsara karena jaringan transportasi seakan lumpuh, ribuan rumah warga kembali terendam, dan aktivitas warga pun terganggu. Sementara hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Januari.

Setidaknya ada 28 ruas jalan di Jakarta tergenang. Perjalanan kereta api dalam kota yang menghubungkan Manggarai-Tanah Abang-Jatinegara kembali terhenti di Stasiun Kampung Bandan. Jaringan rel yang berada di stasiun itu kembali tergenang air. Sementara 76 RW di 21 kelurahan tergenang. Peristiwa ini memaksa 9.985 warga meninggalkan tempat tinggalnya ke lokasi pengungsian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan, untuk hari ini dan besok, di wilayah Jakarta dan kota di sekitarnya diguyur hujan lebat.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Heru Widodo mengatakan, kemarin mereka kembali memodifikasi cuaca agar intensitas dan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya lebih kecil.

Meskipun hujan turun tidak merata di wilayah DKI Jakarta dan daerah sekitarnya, intensitasnya amat lebat. Akibatnya, sejumlah akses menuju Ibu Kota terhambat banjir.

Tol banjirKepala Satuan Lalu Lintas Polda Metro Jaya Wilayah Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Supoyo mengatakan, genangan masuk ke ruas jalan Tol Dalam Kota yang memicu kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek. Banyak kendaraan di dalam tol itu akhirnya keluar di pintu Cawang Interchange dan masuk ke Jalan DI Panjaitan. Akibatnya, Jalan DI Panjaitan yang sudah dipadati kendaraan bertambah padat.

Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, tak bisa dilewati kendaraan karena ada genangan mencapai 60 sentimeter. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Depok, Bogor, serta pinggiran Jakarta Selatan hanya bisa menggunakan satu ruas saja. Kemacetan di ruas itu tak terurai hingga sore hari.

Di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, kondisinya tak jauh beda. Di ruas Jalan S Parman, tepatnya di depan Universitas Trisakti, arus lalu lintas terputus karena genangan amat dalam.

Di Jakarta Pusat, banjir menggenangi Jalan Gunung Sahari, Jalan Samanhudi, Jalan Kartini Raya, dan Pangeran Jayakarta. Genangan terjadi karena luapan Kali Ciliwung Kecil di sisi Jalan Gunung Sahari hingga sekitar 60 cm. Genangan tersebut membuat lalu lintas kacau. Banyak kendaraan mengabaikan rambu dan lampu lalu lintas, bahkan melawan arus.

Sementara di Jalan Ciledug Raya penghubung Tangerang dan Jakarta Selatan sempat terhambat lalu lintasnya di pertigaan Swadarma. Bahkan, hingga Rabu sore, genangan di kawasan itu mencapai 20-30 cm.

Cuaca ekstrem juga menghambat perbaikan jaringan kabel bertegangan tinggi kereta rel listrik yang putus. Akibatnya, kata Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Sugeng Priyono, terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun seperti Palmerah dan Kebayoran.

Penyebab banjir

Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan menuturkan, banjir kali ini terjadi karena curah hujan yang sangat tinggi. Sementara kemampuan jaringan drainase terbatas.

”Hitungan kami, paling tidak ada 65 juta meter kubik air yang turun ke Jakarta sejak Selasa malam hingga Rabu pagi. Saat itu rata-rata curah hujan di atas 100 milimeter,” kata Rudy.

Semua kali besar di Jakarta, kecuali Kali Ciliwung, meluap. Seharusnya lebar rata-rata kali itu paling tidak 20 meter. Kini faktanya banyak yang hanya 6 meter. Inilah yang menyebabkan daya tampung kali sangat terbatas sehingga tidak mampu menampung guyuran hujan lebat dalam durasi waktu lama.

Kondisi ini diperburuk dengan jaringan kali yang belum tertata baik. Contohnya pertemuan Kali Cipinang dengan Kali Malang di Cawang. Arus Kali Cipinang tidak dapat leluasa masuk ke Kanal Timur karena terhambat sumbatan saluran yang terlalu kecil.

Menanggapi bencana ini, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ingin mempercepat langkah penanganan. Langkah yang dimaksud adalah mengeruk semua saluran air, waduk, dan normalisasi sungai. Kemarin, Jokowi me-
ngunjungi lokasi banjir di RW 004 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Di RW 004 hanya satu RT, yakni RT 010, yang tergenang air akibat luapan Kali Sunter. Kawasannya mencakup Kampung Sawah dan Kompleks Cipinang Indah. Setidaknya 300 jiwa terpaksa mengungsi.

Ahli hidrologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, daya dukung lingkungan Jakarta memang lemah. Tanah mulai jenuh karena sudah diguyur hujan satu bulan terakhir sehingga daya serap air semakin kecil. ”Perlu terobosan baru. Jika perlu, memperbanyak resapan artifisial yang mulai dicoba di beberapa tempat di Jakarta,” kata Firdaus

Di Kabupaten Tangerang, Banten, banjir setinggi 1,5 meter memutuskan jalan di Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa. Jalan Raya Jambu, merupakan akses utama dari dan menuju desa tersebut, terendam banjir sejak Selasa tengah malam. (MDN/NEL/RWN/PIN/PRA/JOS/NDY/A13/A12/NAW/FRN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s