Home » SOAL BANJIR » Tantangan Menata Kehidupan Kampung di Tengah Aliran Sungai Ciliwung

Tantangan Menata Kehidupan Kampung di Tengah Aliran Sungai Ciliwung

kalau kampung ditata dengan baik, mengikuti kaidah dalam arsitektur lingkungan, mungkin kawasan kumuh dipinggir kali bisa menjadi objek wisata.  Semua tergantung dengan niat Pemerintah Daerah dan juga warganya. Warga kota, masih menganggap sungai itu sebagai tempat buang sampah dan ” buang hajat besar” atau jadi jamban besar.  Tidak mengherankan semua kali atau sungai besar di Indonesia sangat kumuh dan jorok !  tidak usah berharap ada turis datang, pejabat lingkungan pemerintah daerah pun kadang malas untuk menyusuri pemukiman kumuh di sepanjang sungai yang ada di daerah perkotaan di Indonesia. Semoga usaha menata pemukiman di aliran sungai ini bisa berhasil, semoga !

 

 

PULO GEULIS

 

 
 
 

INILAH daratan Pulo Geulis (bahasa Sunda) yang berarti ’pulau cantik’, di tengah Ciliwung, seluas 2,5 hektar, dan berpenduduk 2.036 jiwa. Letaknya di tengah Ciliwung dan merupakan wilayah administratif RW 004, Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor.

Lokasinya cukup strategis, di antara Terminal Baranangsiang dan Pasar Bogor, serta berbatasan dengan Kebun Raya Bogor. Di sini bermukim 668 keluarga atau 2.036 jiwa yang terdistribusi di RT 001 hingga RT 005.

Karena berada di tengah Ciliwung, jika debit sungai meninggi saat musim hujan, Pulo Geulis ibarat bahtera yang dikelilingi air. Kamis (30/1) malam, ketinggian air di Bendung Ciliwung Katulampa dinyatakan Siaga I untuk wilayah hilir, yakni DKI Jakarta, karena mencapai 230 sentimeter.

Kondisi itu merupakan yang tertinggi sejak tahun 2013. Dengan kondisi itu, setiap detik meluncur 552.272 liter air. Gelontoran air dari Bendung Ciliwung Katulampa siap menghantam apa pun di sekitarnya, termasuk Pulo Geulis di hilir.

Malam menjelang Tahun Baru China (Imlek), air sudah setinggi lantai empat jembatan Pulo Geulis dengan Baranangsiang dan Babakan Pasar.

Lantai jembatan setara dengan bibir tebing sungai Pulo Geulis. Saat banjir datang, warga tepian mengungsi ke tengah kampung. Ada yang menyeberang ke Babakan Pasar atau Baranangsiang. ”Untung enggak ada apa-apa. Enggak sampai bikin rumah hanyut,” kata Puspa (45), warga Pulo Geulis, yang sedang berada di Kelurahan Babakan Pasar, kemarin.

Banjir dahsyat pernah menimpa warga Pulo Geulis. ”Dulu pernah terjadi. Dua warga tewas dan dua rumah hanyut terseret arus,” kata Kepala Bagian Ekonomi Pembangunan Kelurahan Babakan Pasar Ahadiat Prihatna.

Tahun 1970, Pulo Geulis dihantam banjir hebat. Saat itu, beberapa rumah hanyut terbawa air Ciliwung. Akibatnya, sejumlah warga yang kehilangan rumah lalu menjual lahan dan pindah ke bagian tengah. Lahan yang dijual tentu jadi lebih kecil sebab sebagian longsor.

Banjir besar kembali menerjang pada 1997. Saat itu, lebih dari sepuluh rumah diseret arus Ciliwung. Berikutnya, hantaman banjir kembali datang pada 2007. Inilah yang disebut Ahadiat menghanyutkan dua rumah dan menewaskan dua warga.

Rumah susun

Pelbagai peristiwa bencana itu membuat Pulo Geulis menjadi sasaran program penataan permukiman. Pada tahun 2010, pemerintah pusat menawarkan pembangunan dua kompleks rumah susun. Tujuannya, mempersempit penggunaan lahan Pulo Geulis untuk peningkatan daya dukung lingkungan.

Menurut data kelurahan, sekitar 30 persen wilayah Pulo Geulis atau RT 004 dan RT 005 berstatus milik negara alias tanah sewa, sisanya milik warga. Menurut rencana, di atas tanah sewa itu akan dibangun rumah susun.

Dengan rumah susun, sebenarnya tidak ada warga yang digusur atau diusir. Namun, warga menolak penataan tersebut karena sebagian dari mereka yakin program itu pasti menggusur. Akhirnya pemerintah pusat membatalkan program rumah susun dan mengganti dengan tembok keliling untuk melindungi Pulo Geulis dari gempuran banjir. Pembangunan dinding itu sampai saat ini terus dilakukan secara bertahap.

Seharusnya seluruh proyek itu memakai anggaran negara. Namun, karena proyek dilakukan secara bertahap dan warga tak sabar menunggu, sebagian dari mereka meneruskan sendiri pembangunan dinding dengan biaya pribadi. Bahkan ada warga yang mengaku mengeluarkan Rp 40 juta untuk memperkuat dinding keliling itu.

Pariwisata

Meskipun program pembangunan rumah susun batal, pemerintah kembali menawarkan program penataan dengan tujuan memperbaiki permukiman.

Akhir 2013, warga Pulo Geulis ditawari rencana program tata bangunan dan lingkungan. Program itu bertujuan menata rumah warga dan jaringan gang agar permukiman lebih enak dipandang dan nyaman. Warga ditawari pembangunan septic tank komunal. Tujuannya, limbah rumah tangga diolah terlebih dahulu sehingga saat dibuang ke Ciliwung tidak berbahaya.

Dengan ditata menjadi lebih enak dilihat, Pulo Geulis juga bisa diandalkan menjadi tujuan wisata. Potensi atau modalnya sudah ada, yakni keberadaan Wihara Mahabrahma (Kelenteng Pan Kho Bio) yang dibangun 1619-1743, tempat ibadat tertua komunitas Tionghoa Bogor. Wihara itu kerap didatangi peziarah dari latar agama berbeda di luar Bogor.

Besarnya potensi pariwisata menyebabkan pemerintah akhirnya menawarkan program yang lebih moderat, yakni tata bangunan dan lingkungan. Wali Kota Bogor Diani Budiarto mengatakan, menata penduduk bantaran sungai amat sulit. Meski punya kekuasaan dan aturan, pemerintah tidak bisa seenaknya menggusur dan memindahkan warga, sebab ada warga yang sudah memiliki sertifikat hak milik. Kondisi itu menyulitkan dalam pembebasan lahan. Selain itu, warga menolak relokasi karena tidak ingin kehilangan kedekatan dengan lokasi kerja. (Ambrosius Harto)

KOMENTAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s