Home » SOAL BANJIR » Lumpur Ciliwung Dikeruk

Lumpur Ciliwung Dikeruk

Dalam Dua Tahun 256.460 Meter Kubik Ditargetkan Diangkut

Di era si Foker 4 tahun kagak ngapa ngapain.. Edan !

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah DKI Jakarta mulai mengeruk endapan Kali Ciliwung Gunung Sahari dan Waduk Melati, Jakarta Pusat, Rabu (11/12). Proyek ini menargetkan pengerukan 256.460 meter kubik endapan dalam kurun dua tahun.

Proyek ini masuk pada paket 1 Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Proyek JEDI memakan biaya 190 juta dollar AS (Rp 2,2 triliun), 139 juta dollar AS merupakan pinjaman Bank Dunia, sisanya 51 juta dollar AS dari anggaran APBN dan DKI Jakarta.

Proyek JEDI meliputi pengerukan 11 sungai dan empat waduk di Jakarta. Pekerjaan fisik terbagi dalam tujuh paket yang dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, dan Cipta Karya. Proyek ini diklaim bisa mengurangi banjir di Jakarta hingga 30 persen.

”Kali Ciliwung Gunung Sahari dan Waduk Melati sangat vital mengendalikan laju air untuk mencegah banjir di Jakarta Pusat,” kata Gubernur Jakarta Joko Widodo, di Jakarta, kemarin.

Jokowi meminta proyek ini diselesaikan tahun 2015. Alasannya, proyek ini sudah tertunda sejak pertama kali digulirkan sekitar empat tahun lalu. Namun, proyek ini terkendala mekanisme pembiayaan. ”Semuanya sudah disiapkan. Relokasi dan ganti rugi sudah tidak ada masalah. Pendekatan kepada warga sama dengan yang kami lakukan di Waduk Pluit dan Waduk Ria Rio,” ujar Jokowi.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas PU DKI Jakarta Manggas Rudi Siahaan, pihaknya mengerjakan tiga dari tujuh paket JEDI. Dana untuk mengerjakan paket ini sebesar Rp 284 miliar.

Dua paket lain yang dikerjakan Pemprov DKI Jakarta adalah paket 4 dan paket 7. Paket 4 adalah pengerukan di Kali Sentiong Sunter, Waduk Sunter Utara, Waduk Sunter Selatan, dan Waduk Sunter Timur III. Sementara paket 7 akan mengeruk sampah dan lumpur di Kali Grogol Sekretaris, Kali Jelakeng-Pakin-Kali Besar, dan Kali Krukut Cideng.

Di Kali Ciliwung Gunung Sahari, pengerukan dilakukan dari Pintu Air Masjid Istiqlal hingga Pintu Air Marina sepanjang 5,1 kilometer dengan perkiraan endapan sampah dan lumpur 156.970 meter kubik. Penguatan tebing juga akan dilakukan di aliran sepanjang 4,8 km.

Waduk Melati seluas 4,9 hektar juga ikut dikeruk. Saat ini, ketinggian endapan lumpur dan sampah diperkirakan 2 meter. Pengerukan juga dilakukan di Kali Cideng Hulu dan Saluran Gresik Hulu dengan total panjang 3,2 km. Kondisinya memprihatinkan. Endapan sampah dan lumpur diperkirakan hingga 99.490 meter kubik. Penguatan tebing dilakukan di sekitar waduk sepanjang 1,2 meter.

Pengerukan juga masih berlangsung di Waduk Pluit, Jakarta Utara, tepatnya di sisi barat. Tiga backhoe dan beberapa truk pengangkut masih beroperasi.

Pengosongan lahan

Selain pengerukan, pemerintah daerah melalui Suku Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (Sudin P2B) DKI Jakarta Utara melayangkan surat perintah pengosongan lahan. Surat ditujukan kepada pemilik 153 bangunan di Kampung Taman Burung, Kecamtan Penjaringan, di sisi barat daya waduk seluas 80 hektar itu.

Kepala Sudin P2B Jakarta Utara Bambang Sujimanto mengatakan, pemilik bangunan telah diperingatkan dan diberi waktu untuk membongkar sendiri. Sesuai rencana, aparat gabungan akan mengosongkan lahan pada Kamis ini.

Penertiban bangunan di atas saluran juga dilakukan Pemerintah Kota Jakarta Barat. Penertiban ini untuk mengurangi genangan air di permukiman. Petugas Kecamatan Tamansari membongkar sekitar 30 bangunan di atas saluran air, seperti di Jalan Kebon Jeruk XVI, Kelurahan Maphar. Bangunan itu terdiri dari bagian muka rumah penduduk, warung-warung dan bengkel, serta area parkir. Puing bangunan diangkat ke gudang satpol PP di Cakung, Jakarta Timur.

Sekitar 100 petugas gabungan dikerahkan membongkar bangunan liar yang menjadi salah satu penyebab saluran mampat dan sulit dibersihkan. Dari pengamatan Kompas, pembongkaran itu baru sebagian kecil dari langkah pemulihan saluran air di lingkungan Kelurahan Maphar.

Masih banyak rumah penduduk yang membangun inrit (permukaan beton penutup permukaan saluran) di depan rumahnya. Hal itu membuat saluran air sulit dibersihkan dari sampah.

Di beberapa Jalan Kebon Jeruk tampak inrit sederetan rumah berlantai tiga menutup lebih dari 1 kilometer saluran air. Camat Tamansari Paris Limbong mengimbau mereka membongkar inrit dan menggantinya dengan besi segi empat berterali/berjeruji yang bisa dibuka dengan mudah saat saluran hendak dibersihkan.

”Selain saluran mudah dibersihkan, sampah di saluran juga akan segera tampak jika penutup saluran menggunakan terali atau jeruji besi. Warga akan segera tahu di mana ruas saluran yang tertutup sampah sehingga bisa cepat dibersihkan,” kata Paris Limbong. (MKN/CHE/WIN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s