Home » Kualitas hidup » Pantang Menyerah di Tengah Kemacetan Lalu Lintas

Pantang Menyerah di Tengah Kemacetan Lalu Lintas

kehidupan urban di kota yang abnormal : Jakarta.  Iya warga yang pantang menyerah ini hanya sebagian kecil saja.. Tidak bisa semua orang berangkat subuh ke kantor. Bagaimana dengan produktifitas mereka. Jakarta bukan hanya kota gagal total tapi juga kota abnormal !  Yang menambah ketidak normalan Jakarta adalah gubernurnya yang baru 2 tahun  (kurang) eh sudah mencalonkan diri jadi Presiden RI .  Enteng saja menipu suara warga Jakarta !

 

 

calendarRABU, 19 MARET 2014

kompas logo
SAAT  orang-orang masih terlelap, kaum pelaju dari pinggiran Jakarta, seperti Bekasi, Bogor, dan Tangerang, sudah berangkat kerja lebih awal. Mereka menyiasati kemacetan lalu lintas tanpa keluh kesah. Inilah potret masyarakat urban yang pantang menyerah.Jarum jam menunjuk pukul 04.30. Jalan di Depok masih lengang. Sepagi itu, Teja WA Hoste (38), karyawati swasta, menyetir mobil menuju Senayan, Jakarta Pusat. Dia memanfaatkan sepinya jalan raya dengan melajukan kendaraannya menembus Ibu Kota.

Di Senayan, Teja rutin berlatih yoga. Baginya, lebih baik bangun lebih awal untuk berolahraga daripada terjebak macet di jalan. Kemacetan lalu lintas ditambah perilaku pengemudi yang kurang tertib, diakuinya, berpotensi memantik stres. ”Kalau jalan sudah macet, saya bisa menjerit-jerit di dalam mobil,” katanya.

Teja berlatih yoga bukan tanpa alasan. Dia pernah cedera tulang punggung belakang karena terlalu lama menyetir. Waktu itu, setiap hari, tidak kurang dari tiga jam dia mengendarai mobil dari Depok, Bogor, Jawa Barat, menuju Palmerah Barat, Jakarta Barat, tempatnya bekerja. Total enam jam dihabiskannya di jalan untuk pergi dan pulang kerja.

Terlalu sering melakukan pekerjaan statis, seperti menyetir mobil, dalam waktu lama adalah penyebab cedera yang dialami Teja. Apalagi, sebagai koordinator pendukung penjualan di sebuah perusahaan swasta, dia lebih sering bekerja di balik meja. Ini menyebabkan cederanya cukup parah sehingga harus menjalani fisioterapi selama lima bulan.

Tidak ingin pengalaman buruk itu terulang lagi, Teja kemudian rela bangun lebih awal demi berlatih yoga dan menghindari kemacetan. Dengan begini, dia membakar kalori sekaligus menghindari stres.

Pilihan untuk berangkat lebih awal juga diambil Letnan Kolonel Sudi Haryono (58). Sebagai perwira menengah TNI Angkatan Darat, Sudi dituntut bekerja disiplin dan tepat waktu. Jalan yang kian macet disiasati Sudi dengan berangkat kerja lebih awal.

Saban hari, pukul 04.45, Sudi berangkat dari rumahnya di kawasan Ciangsana, Bogor, menuju tempat dinas di Pusat Barang Milik Negara Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Menteng, Jakarta Pusat. ”Terlambat sedikit saja efeknya bisa fatal,” katanya.

Beberapa tahun silam, Sudi masih sempat shalat Subuh dan sarapan di rumah sebelum berangkat kerja. Belakangan, dia memilih melakoni shalat Subuh di tengah perjalanan. Ayah dari tiga anak ini kerap mampir di masjid di daerah Cawang, Jakarta Timur.

Aktivitas menyehatkanKemacetan Jakarta yang semakin parah dirasakan para pelaju dan penduduk Ibu Kota. Belakangan makin sulit memperkirakan titik-titik kemacetan dan lamanya waktu perjalanan. ”Sekarang mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam selalu macet,” kata Marwoto (53), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Marwoto, yang memiliki usaha di daerah Senayan, Jakarta Pusat, setiap hari menempuh 2-3 jam perjalanan untuk pulang ke rumah. Daripada terjebak macet, Marwoto lebih memilih menjalankan aktivitas lain sebelum pulang ke rumah.

Pilihannya jatuh pada jalan sehat di wilayah Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Saat ditemui di GBK, Marwoto sedang melakukan gerakan ringan seusai berjalan kaki selama satu jam mengelilingi stadion. Lima kali sepekan dia melakoni kebiasaan itu. Marwoto menilai, jalan sehat memberikan banyak manfaat, seperti membuat badan bugar dan pikiran tenang.

”Kalau pukul enam sore saya langsung pulang bisa tiga jam di jalan. Mendingan olahraga dulu. Saat jalan mulai sepi baru pulang. Toh, sampai di rumah juga sama saja, pukul sembilan malam,” katanya, yang sudah melakukan kebiasaan jalan kaki di GBK sejak 20 tahun lalu.

Lain lagi dengan Rully Kesuma (50), warga Jatiasih, Bekasi. Untuk menyiasati kemacetan, karyawan swasta ini memilih mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Sebagai gantinya, dia bersepeda ke kantor di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Rully, berbeda dengan mengendarai mobil yang menghabiskan bahan bakar, macet, dan membuat stres, bersepeda ke kantor membuatnya bugar dan terhindar dari penat.

”Dengan bersepeda, saya bisa olahraga tanpa meluangkan waktu khusus. Jadi, tidak menyita waktu untuk keluarga atau waktu untuk bekerja,” kata Rully. Jarak 35 kilometer dari rumahnya ke kantor biasa ditempuh 90 menit.

Setidaknya satu hingga dua kali dalam seminggu Rully gowes ke kantor. Hari lainnya dia memilih naik angkutan umum seperti bus kota. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak 1998.

Bersepeda menuju kantor juga dilakukan Sekli Patyuniestri (35) serta pasangan suami-istri RR Fannie Waldhani C (32) dan Sunarto Cokrowarsono (39).

Selain bebas macet dan membuat badan lebih sehat, Fannie merinci manfaat yang didapatkannya dari bersepeda, yaitu meningkatkan kedisiplinan, memperluas jaringan kerja, merekatkan hubungan dengan pasangan, dan menimbulkan rasa bahagia.

Setidaknya seminggu tiga kali Fannie gowes ke kantor bersama suaminya. Pasangan ini tinggal di Tangerang Selatan, sedangkan kantornya di Kebayoran Baru.

Fannie menilai, saat ini makin banyak perusahaan peduli dengan pesepeda. Tersedia tempat parkir khusus sepeda berikut kamar mandi bagi karyawan yang gowes ke kantor.

Cara-cara kreatif menyiasati kemacetan lalu lintas dipandang positif oleh psikiater RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Nalini Muhdi. Menurut Nalini, memang diperlukan manajemen stres untuk menyiasati kemacetan di Jakarta dan kota besar lainnya. Stres akibat kemacetan berada pada level kronis. Apalagi, kemacetan berlangsung dalam waktu relatif lama dan rutin.

Nalini menjelaskan, stres memicu kecemasan berlebihan, depresi, dan gampang emosional. Selain itu juga bisa menyebabkan sakit fisik, seperti jantung, stroke, dan kanker. ”Salah satu cara mengatasi stres adalah dengan menciptakan aktivitas menenangkan jiwa. Contohnya meditasi,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Bagi orang-orang kreatif dan berpikir positif, selalu saja ada jalan untuk keluar dari jebakan persoalan. (A14)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s