Home » Nata de Kota » Jejak Arsitektur Pemugaran Lewat Kota Tua

Jejak Arsitektur Pemugaran Lewat Kota Tua

Budi Lim

PENCANANGAN revitalisasi Kota Tua oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pertengahan Maret lalu melegakan Budi Lim. Bagi arsitek pemugaran ini, seremoni yang diikuti Fiesta Fatahillah dan Jak Art Space itu membuka lebih lebar gerbang harapan Kota Tua Jakarta akan benar-benar bangkit dari kubur.Sudah lama Budi prihatin melihat makin banyaknya bangunan di Kota Tua yang dibiarkan hancur. Padahal, sebagian besar gedung tua berusia ratusan tahun itu milik berbagai badan usaha milik negara (BUMN) yang semestinya mampu membiayai restorasi.

”Setiap pergi ke Kota Tua, saya merasa seperti anak durhaka yang sedang membiarkan orangtua yang sakit mati pelan-pelan,” kata Budi dalam obrolan di teras rumah tuanya di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Sejak tahun 1990-an, Budi berusaha meyakinkan Pemerintah Provinsi DKI tentang perlunya menjadikan kawasan Kota Tua bagian penting anatomi Jakarta. Meski mendapat dukungan dari Gubernur Suryadi Sudirdja hingga Fauzi Bowo, perjuangannya lewat Yayasan Cinta Jakarta tak kunjung berhasil optimal.

”Pemda DKI selalu gagal membujuk pemerintah pusat dan BUMN untuk memugar bangunan tua milik mereka,” kata dia.

Budi bersyukur akhirnya ada langkah nyata dari Pemprov DKI di Kota Tua. ”Apa yang sebelumnya sulit dilakukan dapat diwujudkan. Dalam waktu satu setengah tahun, bangunan kantor pos tua di Taman Fatahillah dipugar dan difungsikan sebagai galeri seni untuk umum. Ini artinya bola salju sudah bergerak. Ada harapan segar bagi Kota Tua.”

Salah satu langkah awal sebagai arsitek pemugaran dijejakkan Budi akhir 1980-an. Saat itu, manajemen Bank Universal membeli sejumlah gedung tua di Jakarta untuk dipugar dan dipakai sebagai kantor cabang, misalnya gedung tua di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Budi juga terlibat dalam proyek pelestarian gedung tua lain, terutama di Kota Tua dan sekitarnya, misalnya pemugaran Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Sejak dipugar, gedung yang awalnya dibangun sebagai tempat tinggal pejabat tinggi VOC, Reinier de Klerk, akhir abad ke-18 itu bersinar kembali. Proyek pemugaran ini dibiayai patungan oleh masyarakat Belanda sebagai hadiah ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia pada 1995.

”Waktu merestorasi Gedung Arsip Nasional, saya diminta memakai cat microporous yang didatangkan dari Belanda. Cat ini cocok untuk proyek pemugaran bangunan tua karena bisa ’bernapas’ seperti kulit,” ujar Budi.

Buah manis hasil kerjanya ikut menyelamatkan Gedung Arsip Nasional adalah penghargaan UNESCO Excellence Awards for Conservation. Penghargaan ini dia terima bersama dua arsitek restorasi lain yang juga terlibat dalam pemugaran bangunan berusia lebih dua abad itu, yakni Han Awal dan arsitek Belanda, Cor Passchier.

Romantisisme

Tekad Budi merestorasi sebanyak mungkin bangunan tua tampaknya sudah bulat. ”Bangunan-bangunan itu mewakili lapisan sejarah bangsa. Kita harus bangga dengan apa yang kita miliki,” kata Budi.

Meski menilai arsitektur tak hanya berbicara soal gaya, tetapi juga tentang konsep dan nilai budaya, Budi mengaku berusaha menghindarkan diri dari romantisisme pada bangunan tua. Usaha pemugaran, kata dia, tak perlu dikaitkan dengan peradaban atau nilai-nilai masyarakat pada zaman bangunan itu didirikan.

”Kita tak perlu menyanyikan lagu-lagu Belanda saat meresmikan bangunan zaman Belanda yang baru dipugar. Bangunan itu kini ada dalam konteks sosial-budaya yang sama sekali berbeda dari masa didirikan,” ujar Budi.

Bagi dia, kawasan Kota Tua harus memberi peran baru yang sesuai zamannya untuk menggantikan peran lamanya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi yang telah hilang. ”Tetapi, peran baru itu bukan pariwisata. Karena untuk kepentingan pariwisata orang akan menghalalkan segala macam replika dan romantisisme yang tak wajar. Ini bisa menghancurkan kaidah pengembangan Kota Tua itu sendiri.”

Dia mengingatkan, Jakarta belum memiliki kawasan pusat industri kreatif dan desain. Peran ini bisa diambil Kota Tua. ”Dengan demikian, kawasan itu akan kembali menjadi jantung sosial-budaya kota yang ikut mendorong pertumbuhan ekonomi. Kalau ada turis, itu bonusnya.”

Untuk mewujudkan gagasannya, selama bertahun-tahun ia melibatkan diri dalam berbagai usaha penataan ulang Kota Tua. Akhir 1980-an, Budi yang juga ahli perancangan kota membantu Pemprov DKI menata lingkungan di sepanjang Jalan Kali Besar.

Hal itu termasuk memindahkan pangkalan truk, membersihkan kawasan dari bangunan liar, dan membebaskannya dari aktivitas pelacuran. Program revitalisasi ruang luar Kota Tua berlanjut sampai Taman Fatahillah (2004-2009).

Gedung De DriekleurProyek restorasi Budi tersebar di sejumlah kota. Salah satu yang baru rampung adalah pemugaran Gedung De Driekleur di Jalan Ir H Juanda (Dago), Bandung. Bangunan bekas vila zaman Belanda yang dibangun pada 1938 ini dipugar dan dijadikan kantor cabang Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) Sinaya.

Bangunan tua berlantai tiga itu dia kembalikan seperti kondisi semula. Bangunan dan elemen arsitektur tambahan dihilangkan. Ruang-ruang yang ada, mulai dari ruang tamu sampai dapur dan gudang, sedapat mungkin dikembalikan pada fungsi aslinya. Lapisan cat yang lebih baru dikupas, diganti cat yang dipesan khusus agar sama dengan cat asli.

”Bangunan ini salah satu karya warisan Frederick Albers, arsitek terkemuka di Hindia Belanda pada masanya,” kata Budi tentang bangunan yang pernah berfungsi sebagai kantor berita Domei pada zaman Jepang dan studio RRI Bandung pada awal kemerdekaan Indonesia.

Albers juga arsitek dari sejumlah bangunan lain bergaya art deco di Bandung, seperti Hotel Savoy Homann dan Gedung Denis di Jalan Naripan yang kini menjadi kantor bank.

Selain merestorasi bangunan tua di Tanah Air, Budi juga menangani berbagai proyek perancangan kota dan pembangunan gedung ramah lingkungan. Proyeknya tersebar mulai dari resor wisata di Labuan Bajo, Flores; penataan ulang kawasan Clarke Quay, Singapura; paviliun Indonesia di World Shanghai Expo 2010; sampai restoran di Sydney, Australia.

 

—————————————————————————
Budi Lim
Lahir: Jakarta, 1953
Istri: Mira Lim
Anak:
– Citta Dira Lim (26)
– Dika Terra Lim (21)
– Wansen Max Lim (18)
Pendidikan:
– TK, SD, dan SMP Shin Hua, Jakarta, 1959-1966
– SMP Budaya, Jakarta, 1968-1969
– SMA Kanisius, Jakarta, 1970-1972
– BA (Hons) Architecture, Oxford Brookes University, Inggris, 1977
– Diploma Architecture, Oxford  Brookes University, 1981
– Diploma Urban Design, Oxford Brookes University, 1983
Penghargaan, antara lain:
– Penghargaan Konservasi Ikatan Arsitek Indonesia untuk Gedung Bank Universal, 1994
– Indonesian Eisenhower Exchange Fellowship, 1998
– Penghargaan Konservasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk Gedung Arsip Nasional, 2000
– UNESCO Excellence Awards for Conservation  untuk Gedung Arsip Nasional, 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: