Home » Nata de Kota » Jokowi Tolak Bertanggung Jawab Terhadap Kasus Bus Rusak

Jokowi Tolak Bertanggung Jawab Terhadap Kasus Bus Rusak

Segini saja kwalitas calon Presiden ??? Betul, paling uenak adalah  menyalahkan bawahan karena  pemimpin “karbitan” paling doyan menerima pujian saja

Jokowi Tolak Bertanggung Jawab Terhadap Kasus Bus Rusak Senin, 07 April 2014, 11:17 WIB
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/04/07/n3n7x6-jokowi-tolak-bertanggung-jawab-terhadap-kasus-bus-rusakREPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA– Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menolak bertanggungjawab atas kasus bus rusak Transjakarta. Menurut dia, yang seharusnya bertanggungjawab adalah pengguna anggaran, dalam hal ini Dinas Perhubungan.”Itu pengguna anggaran,” kata calon presiden yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut di Balai Kota, Senin (7/4).Jokowi lantas memberi contoh, misalnya dia menyuruh anak buahnya, si pengguna anggaran pergi utara. Namun, anak buahnya ini justru malah pergi ke jurang. “Siapa yang salah? Yang menyuruh ke utara atau yang nyemplung jurang?,” kata dia lagi. Meski demikian, Jokowi mengakui bahwa semua kontrak lelang pengadaan bus termasuk pengajuan anggaran pembelian bus ke dewan telah melalui persetujuannya. Namun, kata dia, anggaran pembelian barang di DKI bukan hanya ada satu. Mantan wali kota Solo itu mengatakan, ada 57 ribu item anggaran lain yang tak mungkin ia kawal satu persatu. Karenanya, kata dia, ada Inspektorat yang bertugas untuk mengawasi penggunaan anggaran itu. Saat ini, kasus bus rusak Transjakarta tengah diselidiki oleh Kejaksaan Agung. Lembaga negara itu sudah menetapkan dua pejabat Dinas Perhubungan sebagai tersangka atas kasus ini. Belakangan, banyak pihak mendesak agar Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ikut memeriksa Jokowi atas kasus bus rusak yang dibeli pada 2013 lalu tersebut.   +++++++++++++

Soal Korupsi Busway, Jokowi: Yang Lain Ngapain?

Soal Korupsi Busway, Jokowi: Yang Lain Ngapain?  

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo naik bus menuju tempat kerjanya pada hari Jum’at atau One Day No Car (14/3). Biasanya Jokowi naik sepeda menuju kantornya. ANTARA/Dhoni Setiawan

TEMPO.CO, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodomengakui pengawasan pengadaan bus Transjakarta luput dari Inspektorat. “Itu lolos,” katanya di Balai Kota, Senin, 7 April 2014.

Menurut dia, tugas Inspektorat adalah manajemen kontrol. Namun dia memahami Inspektorat harus mengawasi puluhan ribu mata anggaran. “Inspektorat juga ngawasi 57 ribu, enggak mungkin gini,” ujarnya dengan ekspresi melotot. “Meskipun stafnya banyak sekali.”

Jokowi sempat mengomel ketika ditanya lagi soal kasus ini. “Apa lagi? Tanya apa lagi? Dipikir kami semua ngikutin? Yang lainngapain? Tugasnya dinas apa? Wali kota apa? Siapa, sih, manajemen perencanaan dan manajemen controling?”

Seperti diberitakan sebelumnya, pengadaan bus Transjakarta senilai Rp 1 triliun bermasalah. Sejumlah bus produksi Cina itu ditemukan cacat onderdil. Hingga kini sudah dua pejabat Dinas Perhubungan ditetapkan sebagai tersangka. 

Mereka adalah Dradjat Adhyaksa, Sekretaris Dinas Perhubungan; dan Setyo, Kepala Angkutan Perairan dan Kelautan. Masing-masing pejabat pembuat komitmen dan kepala pengadaan barang/jasa dalam proyek tersebut. (Baca: Ada Eks Tim Sukses JokowiBermain di Busway Karatan? dan Udar Pristono Diperiksa Kejaksaan, Ahok:Jalani Saja)

Kasus Korupsi Transjakarta, Jokowi-Ahok Mungkin Diperiksa Jaksa

Sumber : http://news.liputan6.com/read/2032458/kasus-korupsi-transjakarta-jokowi-ahok-mungkin-diperiksa-jaksa#sthash.fKQHcqWj.dpuf

Kasus Korupsi Transjakarta, Jokowi-Ahok Mungkin Diperiksa Jaksa Comments 0 Jumat, 04 April 2014 15:43 Edward PanggabeanGubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. (Liputan6.com/Faisal R Syam/Herman Zakharia) 323 9 Liputan6.com, Jakarta – Tim Jaksa Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung telah menetapkan 2 tersangka kasus pengadaan Bus Transjakarta dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) di Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 2013 sebesar Rp 1,5 triliun. Kedua tersangka yang merupakan anak buah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi itu adalah Drajat Adhyaksa dan Setyo Suhu.Jaksa Agung Basrief Arief mengatakan, tak menutup kemungkinan bagi pihaknya untuk memeriksa siapa pun yang terkait kasus korupsi tersebut, termasuk Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atapun Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. “Saya katakan, kalau ada keterkaitan akan kita undang,” kata Basrief di Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (4/4/2014). Dia menjelaskan, siapapun orangnya atau jabatannya apabila terkait kasus tersebut dan harus diperiksa, maka pihaknya tak segan-segan untuk memanggil mereka. “Soal yang mau diperiksa jika nanti ada keterkaitan tentunya nanti akan diambil keterangannya. Kalau ada keterkaitannya, ada keterangan yang perlu diambil, pasti kita akan ambil,” tegas Basrief. Dia menambahkan, sejauh ini pihaknya telah memanggil 10 orang untuk diperiksa terkait kasus korupsi bus di Jakarta. Namun baru sekitar 5 atau 6 orang yang memenuhi panggilan. “10 saksi yang dipanggil, tapi yang baru diperiksa 5-6 saksi. Jadi itu prosesnya, penyidikan masih berlanjut,” tandas Basrief. Dari hasil penyelidikan oleh Kejagung, ditemukan adanya dugaan penyelewengan dalam kegiatan pengadaan armada bus senilai Rp 1 triliun dan pengadaan bus untuk peremajaan angkutan umum reguler senilai Rp 500 miliar. (Yus Ariyanto) – See more at:
+++++++++++++

Skandal Busway Berkarat, Kejagung Periksa Anak Buah Jokowi

Senin kemarin, kejaksaan memeriksa mantan Kadishub DKI Udar Pristono.

ddd
Kamis, 10 April 2014, 14:42Desy Afrianti, Stella Maris
Mahasiswa saat melakukan aksi unjuk rasa korupsi TransJakarta di Bundaran HI

Mahasiswa saat melakukan aksi unjuk rasa korupsi TransJakarta di Bundaran HI(VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews – Tim penyidik Kejaksaan Agung menjadwalkan pemeriksaan terhadap Kepala Inspektorat Provinsi DKI Franky Mangatas Panjaitan. Dia diperiksa terkait dugaan korupsi pengandaan bus TransJakarta berkarat di Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun anggaran 2013. Pemeriksaan dijadwalkan hari ini.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Setia Untung Arimuladi membenarkan hal tersebut. “Ya, kami mengagendakan pemeriksaan pada dua saksi (salah satunya Franky-red),” ujar Untung di Jakarta, Kamis 10 April 2014.

Selain Franky, penyidik juga akan memanggil Direktur Pusat Teknologi Industri dan Sistem Transportasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Prawoto. Meski demikian, Untung enggan membeberkan kapan waktu pemeriksaan Prawoto dilakukan. “Yang jelas dia akan diperiksa sebagai saksi,” kata Untung.

Sebelumnya pada hari Senin 7 April 2014, Kejagung telah memeriksa mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono dan dua orang lainnya yaitu Iwan Herianto Arman selaku Direktur CV Laksana dan Paidi selaku Sekretaris Panitia Lelang.

Dalam kasus pengadaan bus TransJakarta itu, Kejagung sudah menetapkan dua tersangka, yaitu Drajat Adhyaksa selaku Pejabat Pembuat Komitmen dalam pengadaan bus Peremajaan Angkutan Umum Reguler dan Kegiatan Pengadaan Armada TransJakarta.

Tersangka lainnya, Setyo Tuhu, Ketua Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Bidang Pekerjaan Konstruksi I Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Mereka ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik menemukan adanya penyalahgunaan dalam kegiatan pengadaan armada TransJakarta senilai Rp1 triliun, dan pengadaan bus untuk peremajaan angkutan umum reguler senilaiRp500 miliar oleh Dishub DKI Jakarta tahun anggaran 2013.

Kisruh TransJakarta itu mencuat awal Februari lalu, ketika ditemukan banyak kerusakan pada sebagian dari 90 bus baru yang disimpan di pool Unit Pengelola TransJakarta di Cawang, Jakarta Timur.

Baru sehari diresmikan pengoperasiannya oleh Gubernur Jokowi pada 15 Januari 2014, beberapa bus sudah mogok.

Dari 30 bus gandeng yang diluncurkan itu, 12 di antaranya tak bisa jalan esok harinya. Pengelola TransJakarta menemukan macam-macam kerusakan. Masalah yang berat yakini mesin sering terlalu panas dan pada bagian-bagian penting sudah karatan.

Letak unit pengendali elektronik yang merupakan bagian dari sistem kelistrikan pun hanya 30 cm dari permukaan tanah, terlalu dekat dengan jalan yang sering banjir. (adi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s