Home » Nata de Kota » Sekitar 70 Persen Pusat Perdagangan Gagal

Sekitar 70 Persen Pusat Perdagangan Gagal

Hasil karya besar Si Sutiyoso dan Foker cs. Pejabat ini dengan seenaknya memberikan ijin IMB pembangunan MALL  hasilnya tata kota abrudabrul dan kerugian ekonomi.

Nah terus mau diapakan oleh Jokowi- Ahok ??

 

 

Belasan Ribu Kios Sia-sia

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah pedagang pasar yang sulit mendapatkan tempat berjualan, belasan ribu kios di pusat perdagangan kelas menengah ke bawah ternyata kosong tak terpakai. Ketimpangan di Jakarta dan sekitarnya itu disebabkan perencanaan kota yang salah dan penerapan konsep pusat perdagangan yang melenceng.

Pantauan Kompas di beberapa pusat perdagangan di Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis hingga Minggu (17-20/4) memperlihatkan belasan ribu kios kosong tidak terpakai.

Kondisi itu kontras dengan beberapa pasar yang ramai hingga pedagang sulit mendapatkan kios. Pasar Jatinegara, yang terletak tepat di depan sebuah pusat grosir yang tutup, dipenuhi pedagang yang akhirnya membuka toko di pinggir jalan karena tidak tertampung di dalam pasar. Di Pasar Tanah Abang, pedagang pakaian meluber hingga ke gang-gang sempit di depan Blok G. Selain di Tanah Abang, pedagang di Pasar Palmerah dan Pasar Kebayoran Lama juga meluber hingga ke tepi jalan.

Di pusat perdagangan Wholesale Trade Center (WTC) Mangga Dua, Pademangan, Jakarta Utara, yang luasnya 120.000 meter persegi itu sudah sembilan tahun ditinggalkan pedagang dan pembeli. Ribuan kios kosong melompong, tak lagi digunakan untuk berjualan.

Manajer Senior Pemasaran WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih mengatakan, sekitar sembilan tahun silam mal ini berubah segmen menjadi pusat jual beli mobil bekas. Pergeseran jenis barang dagangan itu diklaim terjadi secara alamiah akibat usaha sandang di WTC mandek. Maklum saja, di kawasan Mangga Dua terdapat tujuh pusat perbelanjaan yang sama-sama menawarkan produk pakaian.

Herjanto tak memungkiri usaha kebutuhan ritel pakaian, sepatu, tas, dan aksesori lain yang lebih dulu berjalan sekarang ini meredup. Dari total 4.000 kios yang tersedia, hanya 750-1.000 kios yang buka.

Karyawan toko di tempat itu, Mia (30) dan Diana (18), yang berjualan pakaian, masih membuka kiosnya. Mereka enggan menyebutkan omzet yang mereka dapatkan setiap bulan. Namun, biaya listrik dan air yang mereka keluarkan untuk dua kios berukuran 3 meter x 4 meter itu senilai Rp 2 juta per bulan.

”Cukup tidak cukup, ya harus dibayar,” kata Mia yang mengaku memiliki kios tersebut.

Kondisi serupa terlihat di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Ratusan kios kosong ditinggalkan pedagang. Sejumlah pedagang yang masih bertahan mengatakan, para pedagang yang keluar tidak sanggup membayar biaya sewa yang dikenakan pengelola MGK. Pasalnya, jumlah pengunjung yang masuk ke MGK ini sangat minim.

Kios yang tutup juga banyak ditemui di beberapa pusat perdagangan dengan nama international trade center(ITC).

Samsudin, anggota staf pelayanan konsumen ITC Permata Hijau, menyebutkan, dari 1.200 kios, sekitar 460 kios tidak buka. Ia mengakui, ketatnya persaingan menuntut pengelola untuk membuat sesuatu yang khas sehingga menarik minat orang untuk datang.

Salah seorang pemilik kios di ITC Permata Hijau, Wati, memutuskan menjual kiosnya. Ia beralasan, jumlah pengunjung di ITC Permata Hijau menjadi salah satu alasan menjual kios.

Masih di kawasan Jakarta Selatan, kios yang tutup juga banyak terdapat di ITC Cipulir. Kebanyakan kios yang tutup terdapat di lantai tiga dan empat. Pusat perbelanjaan ini terdiri atas lima lantai, lantai dasar sampai empat. Seorang penjaga kios persewaan mainan di lantai lima, Dewi, mengatakan, sejak ia bekerja di tempat itu setahun lalu, kios di tempat itu memang sudah tutup.

Situasi yang lebih buruk terjadi di Pusat Grosir Jatinegara (PGJ) yang sudah tutup sejak tiga tahun lalu. Sepinya pengunjung membuat pedagang satu per satu rontok. Mereka mengaku sulit menjual produk sehingga terpaksa pindah berjualan di tempat lain. Pengelola pun akhirnya menutup bangunan itu satu tahun kemudian.

Suasana sepi juga terlihat di gedung Senayan Trade Center (STC). Pada Sabtu lalu hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang di lantai 1 dan 2 gedung itu. Naik ke lantai atas suasana semakin sepi.

Kondisi pusat perdagangan kelas menengah-bawah yang sepi juga terdapat di Tangerang, Bekasi, Depok, dan Tangerang Selatan

Pengamat properti dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, mengemukakan, pembangunan pusat perbelanjaan dengan konsep pusat perdagangan ini sering kali tidak memperhitungkan aspek sejarah. Kawasan perdagangan yang tumbuh di Jakarta, menurut dia, tumbuh atas sejarah perdagangan yang panjang. ”Pengembang hanya membangun mal dan menjual konsep baru kepada pedagang dan konsumen. Tanpa basis ekonomi yang kuat, mal tersebut tidak mudah untuk berhasil,” kata dia.

Sementara itu, Tutum Rahanta, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, berpendapat, pusat perbelanjaan yang sepi itu karena latah. Pengusaha itu sengaja ikut-ikutan membuka pusat perbelanjaan tanpa memikirkan konsep dan pasarnya.

Menurut penelitiannya, hanya 30 persen pusat perdagangan itu yang berdiri benar-benar sukses. Sebanyak 70 persen sisanya tidak menarik dan cenderung sepi. Hal ini terjadi karena konsep dagangnya tidak berbeda dengan pusat perbelanjaan lain.

”Yang namanya pusat perdagangan seharusnya berbasis industri, menjual produk industri. Namun, yang terjadi banyak pusat perdagangan berdiri hanya ikut-ikutan atau latah. Mereka seperti toko yang bergabung dalam satu tempat di pusat perbelanjaan,” kata Tutum. (A12/A13/A14/NDY/NEL/WIN/HRS/ARN)

KOMENTAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: