Home » Nata de Kota » Pasar Tradisional Masih Menarik

Pasar Tradisional Masih Menarik

Sutiyoso– FOKER  yANG MENGHANCURKAN PASAR TRADISIONAL . MEREKA MENERIMA SETORAN DEVELOPER MALL.

SENIN, 26 MEI 2014

JAJAK PENDAPAT

Pasar tradisional di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya terus terdesak oleh kehadiran pasar modern, seperti hipermarket, supermarket, dan minimarket. Program revitalisasi dan peremajaan yang dilakukan belum bisa mengangkat pasar tradisional dari keterpurukan.

Penyediaan fasilitas yang lengkap, mendekati yang ada di pasar modern, disertai komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegakkan aturan akan mempertahankan kelangsungan hidup pasar tradisional.

Pasar modern terus bermunculan di Jakarta. Sepuluh tahun terakhir ini, jumlah hipermarket telah menjadi 58 unit dari awalnya 16 unit. Sementara itu, jumlah pasar tradisional tidak bertambah, yaitu 153 unit.

Pasar modern memiliki daya tarik yang umumnya tak ditemukan di pasar tradisional. Hasil survei LitbangKompas pada November 2013 mencatat alasan utama responden belanja ke pasar modern adalah tempatnya yang bersih. Alasan lain, fasilitas dan jenis barang yang dijual di pasar modern dinilai lebih lengkap dengan harga tak kalah bersaing dengan pasar tradisional. Pasar modern juga dinilai memberikan keleluasaan dalam memilih barang belanjaan dan bisa dianggap sebagai kegiatan rekreasi.

Untuk mengontrol menjamurnya pasar modern, Pemprov DKI sebenarnya telah mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2002 mengenai perpasaran swasta. Hipermarket, supermarket, dan minimarket bisa dibangun dengan jarak 0,5 kilometer sampai 2,5 kilometer dari pasar tradisional.

Kenyataannya, aturan tersebut tidak diindahkan. Pasar modern terus muncul berdekatan dengan pasar tradisional. Akibatnya, sejumlah pasar menjadi tidak produktif, seperti Pasar Blora, Bidadari, Cipinang Baru, serta Kramat Jaya.

Revitalisasi

Meski terus didesak pasar modern, tempat dagang tradisional masih punya peminat dan tetap berpotensi berkembang. Separuh responden dalam jajak pendapat mengaku masih membeli sayur, daging, serta ikan di pasar tradisional karena harganya dianggap murah.

Sejauh ini, Pemprov DKI sudah berusaha meningkatkan daya saing pasar tradisional dengan program revitalisasi dan peremajaan. Dalam sepuluh tahun terakhir, PD Pasar Jaya telah melakukan program peremajaan pasar.

Dari 153 pasar tradisional yang ada, tersisa 30 persen pasar yang belum dibenahi (Kompas, 26 April 2014).

Lewat program peremajaan dan revitalisasi, bangunan fisik diperbarui meski konsep tawar-menawar dan interaksi antara konsumen dan pedagang tetap dipertahankan.

Menurut Agus Lamun dari bagian Humas PD Pasar Jaya, ada sejumlah faktor penentu suatu bangunan pasar bisa direvitalisasi atau diremajakan atau tidak. Faktor itu antara lain kondisi bangunan, hak pemakaian tempat usaha, keinginan dan kemampuan pedagang, serta potensi pasar bersama lingkungan.

Jika kerusakan fisik pasar tidak terlalu parah, revitalisasi atau perbaikan beberapa komponen gedung bisa dilakukan. Pasar Jatinegara, HWI Lindeteves, serta Blok F Tanah Abang adalah contoh pasar yang telah direvitalisasi.

Apabila kondisinya terlalu parah, peremajaan pasar menjadi bangunan baru akan dilakukan, seperti di Pasar Mayestik, Bata Putih, Santa, dan Gondangdia.

Sayangnya, upaya peremajaan yang mengubah bangunan menjadi lebih modern, nyaman, dan bersih sering tidak memuaskan.

Dari hasil pengamatan Litbang Kompas terhadap tiga pasar yang sudah diremajakan, sejumlah pedagang berkeluh kesah soal sepinya pengunjung dan fasilitas bangunan yang kurang lengkap jika dibandingkan dengan pasar modern.

Pasar Santa yang megah dengan tiga lantai ternyata aksesnya tertutup karena terletak di belakang Supermarket Santa. Hampir semua kios di lantai tiga pasar itu kosong.

Mustofa (49), pedagang barang kelontong, mengeluhkan berkurangnya pengunjung setelah pasar berubah wajah. Pelanggannya yang berusia lanjut tidak lagi berkunjung karena bangunan bertingkat tersebut tidak dilengkapi dengan lift ataupun eskalator.

Lain cerita dengan pasar Gondangdia yang sudah mengalami renovasi. Pasar yang ada di sisi Stasiun Gondangdia ini juga diimpit oleh tiga hipermarket dan puluhan supermarket atau minimarket.

Menurut Warsi (52), seorang pedagang sayur-mayur, selama sepuluh tahun terakhir ini ada perubahan pembeli.

”Dulu, pembelinya adalah penduduk yang bermukim di sekitar pasar. Sekarang, pembeli mayoritas berasal dari penjual kantin di perkantoran dan pertokoan”, ujar perempuan yang sudah bermukim di Jakarta selama 30 tahun ini.

Jumlah pembeli yang menyusut tidak saja imbas dari peningkatan minat warga untuk belanja di pasar modern, tetapi juga dipengaruhi penurunan jumlah penduduk di Kelurahan Gondangdia.

Tahun 2000 masih ada 5.327 jiwa yang bermukim di Gondangdia. Sepuluh tahun kemudian, penduduk berkurang menjadi 4.508 jiwa karena area permukiman di kawasan ini berubah fungsi menjadi perkantoran serta perdagangan dan jasa.

Pasar Bata Putih di Kebayoran Lama adalah contoh peremajaan yang relatif sukses. Pasar yang berfungsi sebagai pasar grosir sayur, buah, daging, dan ikan ini terlihat ramai meski diimpit oleh pasar modern.

Sebelum diremajakan, aktivitas bongkar muat pasar grosir sering meluber sampai ke pinggir rel kereta api dan akses ke stasiun. Setelah berganti wajah, bongkar muat barang dagangan yang berlangsung dari siang sampai dini hari tidak mengganggu perjalanan kereta ataupun pengguna jalan.

Keberadaan gedung berlantai dua itu telah menjadi wadah para pedagang kaki lima (PKL) meski masih ada saja PKL yang berdagang di sekitar rel kereta api dan di bawah jalan layang Kebayoran Lama.

Lantas, apalagi strategi yang dilakukan Pemprov DKI. Salah satunya adalah membuat pasar tematis. Pasar tematis dianggap bisa menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional, terutama pasar yang berlokasi di lingkungan non-permukiman.

Konsep pasar tematis yang hanya menjual barang-barang tertentu saja ini terbukti efektif menaikkan daya saing beberapa pasar tradisional. Salah satunya pasar batu akik dan permata di Rawabening, Jatinegara, yang menjadi pasar batu permata terbesar di Asia.

Pasar berlantai empat yang rampung diremajakan dari sebuah pasar umum pada 2010 ini dikunjungi sekitar 1.000 orang setiap hari.

Contoh pasar tematis lain adalah Pasar Pramuka yang terkenal sebagai pusat grosir obat dan alat kesehatan dengan harga murah.

Berbagai kisah peremajaan pasar menjadi pembelajaran penting bagi pengambil kebijakan. Pengalaman ini mengajarkan bahwa tidak mudah membangun kembali sebuah pasar. Pasar tidak hanya membutuhkan pembangunan ulang gedung, tetapi juga mempertimbangkan banyak hal, termasuk berbagai fasilitas yang memudahkan konsumen berinteraksi dengan pedagang.

Ketersediaan fasilitas yang mendekati pasar modern diharapkan bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung ke pasar tradisional. Selain itu, diperlukan juga komitmen kuat dari Pemprov DKI untuk menegakkan aturan pendirian hipermarket, supermarket, dan sejenisnya agar tidak mendesak keberadaan pasar tradisional. (Litbang Kompas/Albertus Krisna P)

KOMENTAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: