Home » Kualitas Perumahan » Laporan soal Penyelewengan di Rumah Susun

Laporan soal Penyelewengan di Rumah Susun

Rabu, 11/09/2013 15:26 WIB

Akal-akalan ‘Menggangsir’ Jatah Subsidi di Rusun Marunda

Idham Khalid – detikNews

Suasana di salah satu sudut rumah susun sederhana sewa Marunda. (Fotografer: Hasal Alhabsy)

Jakarta – Sejumlah syarat yang diberlakukan bagi calon penghuni rumah susun sewa sederhana Marunda, Jakarta Utara nyatanya gampang ‘dipermainkan’. Banyak penyalahgunaan yang dilakukan oleh penghuni, atau orang yang sekadar mencari keuntungan sesaat.

Ada praktik jual beli hak sewa, sewa di atas sewa, hingga memegang dua unit rumah susun sekaligus. Padahal syarat menghuni rumah susun tersebut sudah sangat jelas. (lihat infografis). Sebagian besar warga penghuni rusunawa pun mengetahui adanya praktik itu.

Sayang mereka tak berani melapor, karena ada ancaman dari para preman dan mafia di sana. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga sudah mengetahui adanya praktik tersebut. Namun hingga kini belum ada langkah untuk mencegahnya.

Praktik penyelewengan di rusunawa Marunda berjalan sangat rapi, dan sulit tecium oleh pihak luar. Modus operandi mereka kebanyakan hanya dari mulut ke mulut. Calon pembeli dan penyewa datang langsung dan berkeliling di rusunawa Marunda, mencari unit rumah susun yang akan dialihkan.

“Sekitar dua minggu kemarinlah, ada ibu – ibu yang datang ke tempat saya, nanya mau dijual atau tidak (rusunnya). Ya langsung saya jawab ngggak, saya dapetinnya aja susah,” kata Ade, 30 tahun warga blok 1 Cluster B kepada detikcom, Rabu (4/9) pekan lalu.

Praktik jual beli hak sewa dilakukan tanpa menggunakan sarana pomosi seperti pamflet, melainkan dari mulut ke mulut. Apalagi tidak semua pemilik hak sewa menempati rusunnya.

Rabu, 11/09/2013 15:26 WIB

Penyelewengan di Rumah Susun

Akal-akalan ‘Menggangsir’ Jatah Subsidi di Rusun Marunda

Idham Khalid – detikNews

Jakarta – Ada sebagian unit rumah susun tersebut disewakan kembali atau diisi keluarganya. Ini dilakukan agar tidak kena pemutihan. “Kalau kosong tiga bulan (rusun) langsung disegel,” kata Ade.

Warga lainnya menyebut, banyak juga orang yang sengaja mencari keuntungan di rusunawa Marunda. Biasanya mereka bekerjasama dengan pihak pengelola atau dinas perumahan. Tak jarang terjadi praktik suap untuk mendapatkan surat perjanjian sewa.

Misalnya, meski tidak memiliki kartu tanda penduduk DKI Jakarta, orang bisa menyewa di rusunawa Marunda dengan membayar sejumlah uang. Besarnya uang suap berkisar antara Rp 3 juta sampai Rp 11 juta.

Angka itu jelas tak seberapa jika dibandingkan dengan keuntungan yang akan didapat. “Sebentar saja juga bisa balik modal,” kata seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya itu kepada detikcom.

Maklum setelah surat perjanjian dimiliki, sebuah unit rumah susun itu bisa disewakan. Tarif sewanya berkisar antara Rp 800.000 sampai Rp 1.500.000 per bulan.

Tak aneh jika kemudian banyak orang yang memiliki lebih dari satu unit di rusunawa Marunda. Meski jelas terjadi di depan mata, warga tak ada yang berani melapor karena ada intimidasi dari kelompok preman.

“Di setiap blok ada aja mata–matanya yang akan ngasih tahu (ke preman). Makanya warga takut, pernah ada yang dihajar karena ngomong ke wartawan,” kata sumber detikcom tersebut.

Rabu, 11/09/2013 15:26 WIB

Penyelewengan di Rumah Susun

Akal-akalan ‘Menggangsir’ Jatah Subsidi di Rusun Marunda

Idham Khalid – detikNews

Jakarta – Menurut Ade, warga lebih memilih mencari aman dan tinggal dengan tenang di rusunawa. Mereka tak mau ribut dengan para mafia tersebut.

“Ya warga lebih memilih diam, kalau di sini nanti terus diintimidasi kami mau tinggal di mana?,” kata dia.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengakui adanya mafia di rusunawa Marunda. Termasuk preman–preman bayaran para penghuni yang memiliki unit rusun lebih dari satu.

Pria yang akrab disapa Ahok ini pun bisa memahami ketakutan warga penghuni rusunawa karena adanya intimidasi. Namun Ahok tetap meminta agar segala persoalan yang dialami penghuni tetap dilaporkan kepada dirinya.

“Makanya kalau takut (mafia atau preman), (kirim) SMS saja ke saya diam-diam,” kata Ahok saat ditemui detikcom di Balai Kota DKI, Jumat (6/9) lalu. Warga bisa mengirimkan SMS ke nomor 0811944728 dan 08128223900.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s