Home » SOAL REKLAMASI + Pulau buatan » TANGGUL LAUT Semua Dampak Proyek Perlu Dilihat dan Dihitung

TANGGUL LAUT Semua Dampak Proyek Perlu Dilihat dan Dihitung

KAMIS, 9 OKTOBER 2014


JAKARTA, KOMPAS — Gubernur DKI Jakarta yang juga presiden terpilih Joko Widodo menegaskan, semua dampak proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) di utara Jakarta harus dipelajari. Hal ini perlu dilakukan agar proyek tersebut dapat dinikmati manfaatnya oleh masyarakat luas.Persoalan lingkungan dan sosial terkait dengan proyek, menurut Jokowi, masih terus dihitung dan dianalisis lebih jauh. ”Bukan hanya persoalan ekosistem laut, dampak sosial masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek juga harus dilihat,” kata Jokowi, Rabu (8/10), di Jakarta, sehari sebelum peresmian pembangunan tanggul laut tipe A.

Walau masih memerlukan kajian lebih lanjut, Jokowi memastikan proyek ini tetap akan dilanjutkan. Tanggul laut raksasa dibutuhkan Jakarta sebagai pengendali banjir dan difungsikan sebagai cadangan air bersih. Minimnya ketersediaan air menyebabkan daya dukung lingkungan Jakarta sangat rawan.

”Penurunan muka air tanah dan muka tanah terus terjadi di sejumlah titik di Jakarta. Jika dalam kurun waktu 50 tahun dibiarkan, Jakarta bisa tenggelam,” ujarnya.

Kamis ini pemerintah memulai pembangunan tanggul tipe A sebagai bagian tanggul laut raksasa. Tanggul tipe A ini membentang sepanjang 32 kilometer di pantai Jakarta. Adapun proyek tanggul laut raksasa ini disebut juga dengan proyek Pembangunan Pesisir Terpadu Ibu Kota Negara (National Capital Integrated Coastal Development).

Pada tanggul tipe B, menurut rencana, pemerintah mereklamasi 17 pulau di Teluk Jakarta. Jokowi menyerahkan persoalan reklamasi ini kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. ”Nanti biar DKI saja yang mengurus agar tidak rumit mengelolanya ke depan,” kata Jokowi.

Sebelumnya beberapa akademisi mengkritik proyek ini terkait dampak lingkungan. Sebagian kalangan mengkhawatirkan rencana pemanfaatan air di area tanggul laut raksasa itu tidak bisa dilakukan. Itu karena kualitas air dari 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta masih buruk.

Pengajar Fakultas Teknik Lingkungan, Universitas Indonesia, Firdaus Ali, berpendapat hal itu bisa saja terjadi apabila tak ada penanganan di hulu dan daratan Jakarta. Pekerjaan ini harus dilakukan sejalan dengan pengerjaan proyek tanggul laut.

”Jika tidak ada penanganan di daratan dan hulu, laju sedimentasi akan makin tinggi. Kenyataan ini yang memperburuk kualitas air di Teluk Jakarta. Jika ini yang terjadi, saya memahami kritik para akademisi,” katanya.

Menurut Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Sarwo Handayani, proyek ini masih terbuka untuk dikritisi. Berangkat dari itu, pemerintah perlu menyosialisasikan ke masyarakat luas.

Sarwo Handayani menegaskan, tidak ada reklamasi laut pada proses pembangunan tanggul tipe A. Tanggul ini dibangun untuk mengamankan Jakarta dari banjir rob. Tanggul yang sementara ini 2,7 meter ditinggikan hingga 4 meter.

Walau Kamis ini pemerintah meresmikan pembangunan tanggul, sejumlah warga menyatakan tidak tahu banyak tentang wujud dan fungsi tanggul laut. Sebagian warga mendengar rencana pembangunan tersebut, tetapi tidak memahami kegunaannya. Mereka berharap banjir akibat rob tidak lagi terjadi. (NDY/MKN)

KOMENTAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: