Home » keamanan » Ahok: Kenapa Sekarang Mimbar Dipakai untuk “Ngatain” Plt Gubernur Kafir?

Ahok: Kenapa Sekarang Mimbar Dipakai untuk “Ngatain” Plt Gubernur Kafir?

Rabu, 29 Oktober 2014 | 11:45 WIB
KOMPAS.com/Andri Donnal PuteraUnjuk rasa Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin salah satunya oleh perempuan, Jumat (10/10/2014). Unjuk rasa ini dalam rangka menolak Basuki Tjahaja Purnama jadi Gubenur DKI Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan kekecewaannya di hadapan ratusan ulama dan umara, dalam silaturahim Tahun Baru Hijriah. Kekecewaannya itu disampaikan karena melihat simbol agama justru disalahgunakan oleh segelintir oknum untuk kegiatan politis.

“Mimbar itu seharusnya digunakan untuk mengajarkan yang baik, mengajarkan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan. Akan tetapi, sekarang ada beberapa oknum yang menggunakan mimbar untuk dipakai politik dan cuma dipakai untuk ngatain Plt Gubernur sebagai seorang kafir,” kata Basuki di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (29/10/2014).
Menurut dia, hal itu tidak terkandung dalam nilai-nilai yang diajarkan Islam. Ia mengaku tak habis pikir pada segelintir oknum yang masih tidak bisa menerima Basuki menjadi gubernur DKI. 

Padahal, dia melanjutkan, naiknya Basuki menjadi gubernur DKI sudah berdasarkan peraturan yang berlaku. Menurut dia, oknum-oknum yang menolaknya menjadi gubernur memanfaatkan latar belakang Basuki untuk membicarakan hal-hal yang tidak benar. 

“Saya curiga, sekelompok ini mengajarkan yang tidak baik atau hanya aksi karena diiming-imingi duit. Front Pembela Islam, saya enggak tahu Islam mana yang dibela? Islam yang saya tahu, tidak membunuh dan tidak mengajarkan kekerasan. Saya mohon maaf sengaja curhat di sini,” kata Basuki.

Dalam kesempatan itu, ia juga ingin mewujudkan warga Muslim Jakarta yang tidak buta membaca Al Quran. Oleh karena itu, ia mengimbau Kepala Biro Pendidikan Mental dan Spiritual DKI Budi Utomo untuk segera merumuskan kebijakan itu.

++++

Rabu, 29 Oktober 2014

Sikap Toleransi Wajib Diwarisi

Pemuda Harus Jadi Perintis Pemberdayaan

SLEMAN, KOMPAS — Generasi muda Indonesia kini hendaknya mewarisi sikap keterbukaan, toleransi, dan kebersamaan yang tertanam pada diri pemuda di era pergerakan kemerdekaan. Generasi muda juga diharapkan turut melakukan revolusi mental agar Indonesia menjadi bangsa besar. Demikian cuplikan pidato Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Selasa (28/10), dalam upacara peringatan Sumpah Pemuda 2014 yang dipusatkan di Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta. Peringatan berlangsung semarak dengan diikuti ratusan pemuda perwakilan dari sejumlah daerah.

Puncak peringatan Sumpah Pemuda itu dimanfaatkan Imam yang baru dilantik sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, Senin lalu, untuk mengobarkan semangat persatuan generasi muda sekaligus mendorong peningkatan kompetensi dan daya saing.

Dalam pidatonya, Imam menegaskan pentingnya peningkatan kualitas generasi muda karena Indonesia akan turut memasuki era persaingan global pada ASEAN Community 2015. ”Para pemuda kita harus sudah memiliki kompetensi dalam perspektif global agar bisa bersaing dengan kompetitor dari negara lain, khususnya di Asia Tenggara. Kita harus memiliki kekuatan dalam menghadapi ASEAN Community dan para pemuda harus memiliki kualitas yang hebat agar dapat membangun Indonesia menjadi negara yang hebat pula,” ujar Imam.

Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia Taufan Rotorasiko juga meminta para pemuda untuk meneladani semangat persatuan yang digelorakan para pendahulu dalam peristiwa Kongres Pemuda II, 86 tahun lalu.

Puncak peringatan Sumpah Pemuda tersebut diselenggarakan di pelataran sisi selatan Candi Prambanan. Rangkaian acara dibuka dengan penampilan atraktif marching band Gita Dirgantara yang beranggotakan para karbol atau kadet Akademi Angkatan Udara.

Acara tersebut juga dimeriahkan sajian orkestra dari murid SMK Negeri 1 Kasihan, Bantul, yang menampilkan lagu daerah dari berbagai belahan bumi Nusantara. Namun, suguhan atraksi pemuncak berupa tari kolosal oleh ratusan murid sekolah tersebut justru diletakkan di bagian akhir acara atau seusai pidato Imam Nahrawi.

Hal itu membuat penampilan tari tersebut menjadi antiklimaks karena penari baru dapat tampil pukul 17.46, saat cahaya matahari sudah meredup. Imam pun meninggalkan acara saat para penari baru mencapai separuh dari total waktu penampilan mereka.

Energi besarDi Tasikmalaya, Jawa Barat, tokoh muda pemberdayaan masyarakat, Sandri Susdiana, menilai, pemuda berperan sebagai perintis pemberdayaan potensi sumber daya manusia dan sumber daya daerah.

Menurut Sandri, pendiri Sukapura Incorporated, inkubator agrobisnis berbasis ayam petelur di Tasikmalaya, Selasa, pemuda memiliki energi besar untuk mengumpulkan dan mengolah ide menjadi karya yang berdaya guna.

”Pemuda pada umumnya memiliki semangat besar (dalam) belajar mengikuti perkembangan yang ada. Bukan karena generasi tua tidak berkualitas, melainkan pemuda kemungkinan besar punya gagasan yang kreatif dan inovatif,” kata Sandri.

Ia menambahkan, salah satu kreativitas pemuda Tasikmalaya terlihat dari kemauan mereka memelihara ayam petelur di sekitar tempat tinggal yang diintegrasikan dengan budidaya jagung, ikan lele, dan industri pakan. Usaha itu mampu menyerap 300 orang yang mayoritas berusia muda. Omzet usaha yang dikembangkan sejak empat tahun lalu itu kini mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

”Usaha pemberdayaan ini bisa memberikan (penghasilan) Rp 1,5 juta per orang per bulan. Jauh lebih besar ketimbang upah minimum regional Kota Tasikmalaya,” kata Sandri.

Pemberdayaan masyarakat serupa juga dilakukan Dadang Gunawan lewat pemeliharaan buah manggis di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Dari hanya bekerja sebagai penyortir buah, ia kini mampu menjadi pengepul manggis yang menampung hasil panen 30 petani. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan 30 ton dengan harga jual Rp 27.000 per kilogram.

Dadang mengatakan, sebagai pemuda, ia tidak ingin menikmati semua itu sendiri. Dalam beberapa bulan terakhir, bersama 70 orang, ia mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bertani, mulai dari pengaturan ukuran tanaman hingga pemupukan yang baik.

”Kami sebagai pemuda merasa bertanggung jawab untuk saling meningkatkan kemampuan. Tidak ingin bekerja dan sukses sendirian, lebih indah jika bersama-sama,” ucapnya. (DRA/CHE)

+++++

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: