Home » SOAL BANJIR » Penggusuran Ditolak Warga, Ahok Jalan Terus

Penggusuran Ditolak Warga, Ahok Jalan Terus

Pemukiman kumuh di bantaran Kali Sekretaris, Kebon Jeruk, Jakarta. DOK/TEMPO/Dimas Aryo

Berita Terkait

TEMPO.CO, Jakarta – Dua ibu bergegas mendekati Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang tengah berjalan ke mobilnya, di sisi kiri gedung Balai Kota, Selasa petang, 23 Desember 2014. Mereka meminta Ahok–sapaan Basuki–membatalkan rencana penertiban rumah warga di bantaran Kali Sekretaris, RT 04 RW 05, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. 

Alasannya, warga RT 04 RW 05, bersedia menata sendiri lahan dan bangunan di bantaran Kali Sekretaris agar tidak kumuh. Namun Ahok dengan tegas menolak permintaan itu. “Tak bisa, itu harus tetap dibongkar,” kata Ahok kepada ibu yang bernama Nurul Adhaini, 48 tahun, dan Nikmatul Mushofah, 38 tahun, itu. (Baca juga: Ahok Ubah Strategi Penggusuran)

Dua ibu itu mengaku mewakili warga RT 04 RW 05, Kelurahan Kebon Jeruk. Warga resah karena menerima surat untuk mengosongkan tempat tinggal mereka. Padahal mereka saat ini belum menerima kunci untuk menempati rumah susun Daan Mogot.

Ahok menjelaskan proyek normalisasi Kali Sekretaris tak hanya membersihkan kali saja. Ke depan, kali akan dibuat lebih dalam 12 meter dengan trase jalan delapan meter dari pinggir kali. “Nanti semua itu ada jalan inspeksi,” kata Ahok. Menurut Ahok, tak ada pilihan lain selain pembongkaran bangunan supaya proyek normalisasi Kali Sekretaris tak terhambat.

Tak puas dengan jawaban orang nomor satu di Jakarta ini, Nurul pun memberondong dengan alasan ada 160 KK yang belum mendapatkan kepastian kunci, bahkan tak pernah ada perundingan dengan warga perihal penggusuran ini. Namun, Ahok menjelaskan ia menyetujui pembongkaran karena sudah melakukan pengecekan secara detail. “Untuk kasus Ciliwung, itu kami ganti duit karena enggak ada shield pile. Itu alam,” kata Ahok.

Sementara untuk kasus di Kali Sektretaris berbeda. Shield pile di sungai itu sudah ada lebih dulu sebelum bangunan warga berdiri di bantaran. Keberadan bangunan di bantaran sungai membuat pemerintah kesulitan membersihkan Kali Sekretaris. “Belanda dulu itu membangun sungai pasti ada di jalan di sisi kiri-kanan supaya alat berat bisa ngambil tanah, bisa turun,” katanya.

DINI PRAMITA

++++++++++++++++

RABU, 24 DESEMBER 2014

Jalan Inspeksi Menambah Ruang Kota

Akses untuk Perawatan Sungai Tersedia, Jumlah Ruang Publik dan Ruas Jalan Meningkat

JAKARTA, KOMPAS — Selain untuk menormalisasi sungai, pembongkaran rumah warga di belasan lokasi sepanjang bantaran kali juga untuk mewujudkan kembali keberadaan jalan inspeksi. Jalan inspeksi adalah akses untuk perawatan sungai sekaligus bisa menambah ruang publik di Ibu Kota.Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta sampai saat ini belum memiliki data pasti berapa total panjang dan luas jalan inspeksi yang sudah terealisasi. Akan tetapi, Koordinator Normalisasi Waduk dan Kali Heryanto, Selasa (23/12), mengatakan, sejak pemerintahan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, sudah banyak jalan inspeksi dibangun di wilayah DKI Jakarta.

Realisasi pembangunan jalan inspeksi tersebut di antaranya di Kali Sunter, Tugu Tani (Kali Ciliwung), Danau Sunter, Kali Tanah Abang (Kanal Barat), Kali Sunter-Pulogadung, Tubagus Angke, dan Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat. Di bantaran kali tersebut, rata-rata sudah terbangun jalan inspeksi selebar sekitar 7,5 meter.

Menurut Heryanto, belum semua jalan inspeksi selesai dikerjakan. Di Kali Sunter, misalnya, sudah terbangun jalan inspeksi sepanjang 1,5 km. Di Kali Ciliwung yang melintasi kawasan Tugu Tani sudah terbangun jalan inspeksi sepanjang 1 km dari target pembangunan 2 km. Di Danau Sunter terbangun jalan inspeksi sepanjang 1,5 km dengan lebar 13 meter.

Adapun di Kali Tanah Abang (Kanal Barat) sudah terbangun jalan inspeksi sepanjang 2 km dari target 6 km dengan lebar sekitar 7,5 meter. Di Kali Sunter-Pulogadung terbangun jalan inspeksi sepanjang 1 km dari target 2 km. Di Kali Tubagus Angke terbangun 1,5 km dari target 3 km jalan inspeksi. Di Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat, terbangun jalan inspeksi sepanjang 1,5 km dari total target 3 km.

”Masih ada sekitar 100 lokasi yang akan dibangun jalan inspeksi,” ujar Heryanto.

Selain memperlebar akses alat berat untuk proyek normalisasi dan nantinya menjadi jalur utama untuk perawatan sungai, jalan inspeksi di Jakarta bisa digunakan sebagai jalur alternatif untuk mengurai kemacetan.

Menurut Kepala Bidang Pembangunan Jalan Dinas Pekerjaan Umum DKI Heru Panatas, jalan inspeksi dirancang dengan lebar minimal 6 meter supaya bisa dilalui dua lajur kendaraan bermotor. Menurut rencana, jalan inspeksi ini juga akan dihubungkan dengan jembatan-jembatan sehingga bisa berfungsi secara optimal.

Selama ini, jalan inspeksi banyak diokupasi warga sehingga alat-alat berat ini kesulitan masuk ke lokasi. Saat kebakaran, kendaraan pemadam kebakaran juga sulit memasuki lokasi permukiman padat penduduk.

”Mereka yang sudah direlokasi kini tidak lagi tinggal di lingkungan kumuh. Kali pun menjadi lebih mudah dikeruk lumpur dan sampahnya karena alat berat mudah masuk,” ujar Heru.

Kali PesanggrahanDari pantauan di Kali Pesanggrahan, khususnya di wilayah Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan, pembangunan jalan inspeksi sebagian sudah rampung dan sebagian lagi masih berlangsung.

Warga yang berdiam di sekitar sungai mengaku diuntungkan dengan keberadaan jalan tersebut. Selain memudahkan akses, tepian kali yang bersih dilengkapi fasilitas jalan telah membentuk ruang publik baru.

Normalisasi Kali Pesanggrahan direncanakan sepanjang 26,74 km dari total panjang kali utama yang mencapai 66,7 km.

Namun, masalah pembebasan lahan di sejumlah lokasi membuat pengerjaan normalisasi kali berlangsung sepotong-sepotong. Jalur inspeksi yang sudah selesai, misalnya, terbentang di Perumahan Bukit Pratama, Cirendeu, Tangerang Selatan. Di lokasi pengerjaan di Perumahan Sekolah Polwan, penguatan dinding kali terlihat hampir beres, tetapi jalan inspeksi belum dibangun.

Di tempat lain, sepanjang bantaran di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, jalan inspeksi di kedua sisi kali sudah mulai dimanfaatkan warga.

Lokasi pemakaman tidak lagi terlihat angker karena kini banyak warga yang menjadikan pinggiran kali yang sudah ditanggul untuk bersantai dan bermain. Sebagian warga juga memancing di embung yang dibangun di tepi kali.

Sejumlah proyek normalisasi kali lainnya, yaitu di Kali Angke Hulu dan Kali Sunter. Di Kali Angke Hulu sepanjang 101 km, proyek normalisasi saat ini direncanakan menyasar sebagian kali sepanjang 20 km saja. Jenis pengerjaannya selain pengerukan dan penguatan tebing, juga termasuk menyediakan fasilitas jalan inspeksi.

Proyek normalisasi Kali Sunter tak ketinggalan digenjot. Dari total panjang sungai utama 37 km, dilakukan normalisasi sepanjang 18,75 km. Jenis pengerjaannya sama seperti di Kali Angke dan Pesanggrahan.

Kualitas hidupWarga yang digusur dari bantaran sungai kini dapat merasakan peningkatan kualitas hidup. Lingkungan sekitar yang semula kumuh karena berada di bantaran kali menjadi lebih bersih dan tertata saat pindah ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa).

Di bantaran Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat, misalnya, setiap tahun rumah warga terendam banjir. Akibatnya, warga harus merogoh kocek sendiri untuk memperbaiki rumah yang rusak karena banjir. Kondisi ini berulang setiap tahun. Akhirnya, saat penertiban beberapa waktu lalu, sebagian warga justru senang karena bisa pindah ke lokasi yang lebih aman dari ancaman banjir. (DEA/RAY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: