Home » Transportasi Publik Jakarta » Integrasi Perluas Cakupan Transjakarta

Integrasi Perluas Cakupan Transjakarta

Penataan Transpakuan Mendesak

JAKARTA, KOMPAS — Integrasi sejumlah moda angkutan umum dengan transjakarta dinilai bakal meningkatkan area pelayanan dan jaringan, jumlah penumpang, serta mengurangi transfer penumpang dan jarak kedatangan bus. Oleh karena itu, integrasi angkutan-angkutan umum di DKI Jakarta diharapkan lebih cepat terwujud. Penumpang pun tidak perlu repot berganti-ganti angkutan.Direktur Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Yoga Adiwinarto, Kamis (5/2), mengatakan, berdasarkan kajian lembaganya, integrasi sembilan rute kopaja dan metromini dengan Koridor 1 (Blok M-Kota) dan Koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas) transjakarta dapat menambah cakupan area layanan sepanjang 55 kilometer di luar koridor. Selain itu, jumlah pengguna transjakarta meningkat hampir dua kali lipat.

Integrasi juga sekaligus dapat memperbaiki pelayanan angkutan umum nontransjakarta, termasuk menghilangkan kebiasaan ngetem yang memicu kemacetan. Integrasi akan lebih efektif dampaknya terhadap pelayanan pengguna jika diikuti penyatuan pengelolaan dan sistem tiket. Pengguna angkutan umum akan lebih nyaman karena jarak kedatangan bus lebih pendek.

Menurut Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan, integrasi dengan transjakarta di jalur kopaja jurusan Ragunan-Pasar Senen sejak dua tahun lalu bisa menjadi pertimbangan. Integrasi memang belum sempurna, antara lain, karena penerapan tiket berbeda, tetapi pengguna lebih terlayani karena jarak antarbus relatif pendek.

Shafruhan menilai, rencana uji coba penyatuan pengelolaan kopaja S66 rute Blok M-Manggarai yang sedang dimatangkan saat ini kurang efektif untuk melihat hasil keseluruhan. Uji coba idealnya dilakukan di sejumlah trayek angkutan umum, baik yang bersinggungan maupun tidak bersinggungan dengan jalur transjakarta.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Benjamin Bukit mengatakan, pada prinsipnya tidak banyak perbedaan antara rencana uji coba kali ini dan rekomendasi yang pernah disampaikan ITDP ke Pemprov DKI Jakarta tahun 2012.

Selain menyiapkan rencana integrasi antar-moda transportasi, PT Transportasi Jakarta kemarin juga menguji coba penerapan tiket elektronik di Koridor IV (Pulogadung-Dukuh Atas) dan Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas).

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Antonius NS Kosasih mengatakan, tinggal dua koridor itu yang belum menerapkan tiket elektronik. ”Di 10 koridor lain sudah diterapkan tiket elektronik lebih dulu. Khusus di dua koridor ini, kami uji coba tiket elektronik bus transjakarta sekaligus bus APTB,” katanya.

Penumpang yang naik bus transjakarta tidak perlu lagi membayar dua kali untuk naik bus APTB. Mereka cukup menempelkan kartu satu kali dan membayar Rp 6.000.

Kosasih menargetkan, sampai akhir Februari semua halte di sepanjang Koridor IV dan Koridor VI menerapkan tiket elektronik. Penerapan tiket elektronik diharapkan mengurangi antrean calon penumpang di loket.

Menunggu realisasiAdapun Dinas Perhubungan Kota Tangerang masih menunggu realisasi 40 unit bus transjabodetabek bantuan Kementerian Perhubungan. Sepuluh bus di antaranya akan melayani warga Tangerang dari Poris Plawad hingga Kemayoran, Jakarta Pusat, dan 30 unit bus lainnya dengan rute Poris Plawad-Blok M, Jakarta Selatan.

”Busnya sudah ada. Saat ini sudah memasuki tahap proses hibah ke operator. Kami tinggal menunggu proses penggantian plat menjadi kendaraan umum,” kata Kepala Bidang Pengembangan Sistem Transportasi Dinas Perhubungan Kota Tangerang Agus Wibowo.

Agus mengatakan, selain transjabodetabek, di Kota Tangerang juga terdapat angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta (APTB). Transjabodetabek diberikan pemerintah pusat, sedangkan APTB berasal dari bantuan Pemprov DKI Jakarta. Saat ini ada 10 unit bus APTB, 6 unit di antaranya dioperasikan, 2 dalam perbaikan, dan 2 bus berfungsi sebagai bus cadangan.

Di Bogor, Pemerintah Kota Bogor berencana segera merestrukturisasi Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) transpakuan yang terus merugi.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman mengatakan, penyelamatan transpakuan sudah mendesak sebab layanan itu diproyeksikan sebagai angkutan umum masa depan Kota Bogor.

Restrukturisasi akan ditempuh dengan mengganti manajemen yang ada, kemudian meminta bantuan hibah bus dari Kementerian Perhubungan agar jumlah bus transpakuan bertambah. Bentuk usaha transpakuan sedang dipertimbangkan, apakah tetap sebagai operator atau sebagai penyedia trayek angkutan umum di Kota Bogor.

Ketua Badan Pengawas PDJT Transpakuan Suharto mengungkapkan, keuangan unit usaha ini hanya sanggup untuk beroperasi sampai akhir Februari 2015.

Transpakuan sejauh ini hanya melayani tiga koridor dengan kekuatan 27 bus sedang, yakni Cidangiang-Bubulak, Cidangiang-Ciawi, dan Cidangiang-Bellanova. Transpakuan masih kalah bersaing dengan angkutan kota dan angkutan umum lain yang melayani trayek yang sama.

Ketua Tim Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Kota Bogor Yayat Supriatna mendorong agar restrukturisasi transpakuan dapat dijalankan bersamaan dengan program penataan kembali trayek, peremajaan angkot, dan perubahan status kepemilikan angkot dari pribadi ke badan hukum.

(BRO/FRO/PIN/MKN)

KOMENTAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: