Home » Kualitas Transportasi Publik » Sidak 6 Terminal, Tak Satu pun Bus Penuhi Syarat

Sidak 6 Terminal, Tak Satu pun Bus Penuhi Syarat

Hmmm no wonder

SELASA, 24 MARET 2015 | 16:42 WIB

TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Perhubungan sejak kemarin menggelar inspeksi keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan pada enam terminal bus yang dipilih secara acak. Hasilnya, dari 150 kendaraan yang diinspeksi, tidak ada satu pun armada bus yang mempunyai seluruh item persyaratan yang diwajibkan.

Sebanyak 78 bus atau 52 persen armada yang diinspeksi boleh berangkat dengan syarat dan 72 bus atau 48 persen tidak boleh berangkat. “Dari gambaran ini, terlalu prematur kalau diambil kesimpulan. Tetapi kita perlu melakukan upaya yang lebih serius lagi,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono di kantornya, Selasa, 24 Maret 2015.

Untuk inspeksi teknis, Kementerian Perhubungan melakukan pengecekan sistem penerangan, komponen pendukung, perlengkapan kendaraan, dan sistem alat kemudi. Untuk persyaratan mutlak yang harus dipenuhi adalah lampu utama, penunjuk arah, lampu posisi, lampu rem, penghapus kaca, kondisi ban, dan kondisi fisik pengemudi yang sehat.

Item yang paling banyak tidak terpenuhi adalah keberadaan lampu belakang. Menurut Djoko, padahal lampu belakang ini penting karena sangat berguna untuk perjalanan di malam hari dan penanda pengereman. Selain itu, komponen lain yang paling banyak tidak terpenuhi adalah buku panduan penumpang, sabuk keselamatan penumpang, dan ban vulkanisir. “Ini adalah persyaratan peraturan menteri baru,” kata Djoko. Armada bus diberi waktu tiga tahun untuk memenuhi standar persyaratan pelayanan tersebut.

Keenam terminal yang diinspeksi adalah Terminal Kampung Rambutan, Jakarta; Terminal Tirtonadi, Solo; Terminal Purabaya, Surabaya; Terminal Amplas, Medan; Terminal Antar Lintas Batas Negara (ALBN) Kubu Raya, Pontianak; dan Terminal Daya, Makassar.

Terminal dengan hasil terburuk adalah Terminal Daya, Makassar, yang sebanyak 72 persen armadanya tidak boleh berangkat, dan Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, yang 58 persen armadanya tidak boleh berangkat. Sedangkan terminal dengan catatan baik adalah Terminal Purabaya, Surabaya, yang 73 persen busnya boleh berangkat dengan syarat. Di posisi kedua, Terminal Tirtonadi, Solo, 63 persen busnya boleh berangkat dengan syarat. Adapun Terminal Kubu Raya, Kalimantan, 62 persen busnya boleh berangkat dengan syarat.

ALI HIDAYAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s