Home » Kualitas Air dan sungai » Soal normalisasi Ciliwung

Soal normalisasi Ciliwung

Koran Tempo RABU, 11 NOVEMBER 2015
6 Kilometer Bibir Sungai Tak Dibeton

JAKARTA – Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Teuku Iskandar, mengatakan beberapa titik dalam proyek normalisasi Kali Ciliwung akan tetap dipertahankan hijau dan tidak menggunakan beton. “Dari 19 kilometer normalisasi, sekitar 6 kilometer tidak memakai beton. Tetap tanah,” kata Iskandar kepada Tempo di kantornya, kemarin.

Meski tak merinci di titik mana saja bantaran Kali Ciliwung tetap menggunakan turap tanah, Iskandar memastikan di daerah Condet tak akan dibeton. “Yang jelas dari Kalibata ke hulu dan Kalibata ke hilir harus dibeton karena sudah ekstrem,” ujar dia. Di Kampung Pulo, misalnya, kata Iskandar, harus dibeton dan dipasang tanggul dari beton setinggi 2 meter agar air tidak melimpas ke jalan dan permukiman penduduk. Selain itu, Iskandar menambahkan, akan ada 20 titik ruang terbuka hijau di sepanjang Kali Ciliwung yang dinormalisasi.

Kepala Bidang Pelaksana Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung- Cisadane, Bastari, mengatakan, meski diturap beton, konstruksi di bagian atas turap tetap akan dibuat dengan grassblock sehingga rerumputan bisa tetap tumbuh. Di lokasi yang tidak dibeton, konstruksinya dibangun dengan konsep hijau. “Misalnya pakai rumput akar wangi atau brojong,” ujar dia.

Ketua Komunitas Ciliwung, Abdul Kodir, mendukung pemerintah dalam menormalisasi Kali Ciliwung. Namun, menurut dia, normalisasi seharusnya tidak menggunakam beton. “Normalnya Kali Ciliwung itu tidak ada benda asing, yang ada keanekaragaman hayati,” kata Kodir. Benda asing yang dimaksud Kodir adalah sampah, rumah penduduk, dan beton. “Kalau pakai beton, arti nya sudah tidak normal.”

Tak cukup dengan turap tanah, Kodir menambahkan, ruang terbuka hijau di sekitar Kali Ciliwung perlu ditambah. Dia mencontohkan wilayah Condet yang sejak 1974 dijadikan tempat pelestarian lingkungan keanekaragaman hayati oleh Gubernur Ali Sadikin.

Setelah pemerintah menggusur sejumlah bidang tanah di Kampung Pulo pada Agustus lalu, Teuku Iskandar mengatakan, proses normalisasi selanjutnya akan menuju Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. “Kami sudah mulai sosialisasi,” ujar dia. Di kelurahan itu, nantinya pemerintah akan membebaskan tanah di sepanjang bibir Kali Ciliwung dan membetonnya.

Saat ini, Iskandar menjelaskan, pengerjaan normalisasi Ciliwung masih berlangsung di wilayah Kalibata; Kampung Pulo, Jatinegara; Condet; serta Rindam Jaya dan BIN, Pasar Minggu. Adapun wilayah yang sudah selesai dinormalisasi adalah Kebon Baru, Tebet; Jembatan Bukit Duri��“ Kampung Melayu; dan sisi kiri Ciliwung di Jalan MT. Haryono.

Proyek Normalisasi Kali Ciliwung sepanjang 19 kilometer ini akan mengha biskan dana sebesar Rp 1,18 triliun. Normalisasi bertujuan mengembalikan lebar sungai dari 10��“20 meter menjadi 35��“50 meter. Pengerjaan ini terbagi dalam empat paket, yakni paket 1 sepanjang 4,89 kilometer, dari Manggarai sampai Jembatan Kampung Melayu; paket 2 sepanjang 6,61 kilometer, dari Jembatan Kampung Melayu sampai Jembatan Kalibata. Kemudian, paket 3 sepanjang 6,49 kilometer, dari Jembatan Kalibata sampai Jembatan Satu Condet; dan paket 4 sepanjang 6,18 kilometer, dari Jembatan Satu Condet sampai jembatan Tol JORR TB. Simatupang. AFRILIA SURYANIS

Memperingati Penemuan Senggawangan

Hari ini menjadi momen spesial bagi Kali Ciliwung. Tepat empat tahun lalu, seekor senggawangan atau bulus raksasa ditemukan di sungai yang membelah Ibu Kota itu. “Momentum penemuannya dijadikan sebagai Hari Ciliwung.” kata anggota Komunitas Ciliwung Tandjoeng Oost, Danoe Winarya, kemarin. Binatang yang hampir punah itu kini menjadi maskot Komunitas Ciliwung.

Peringatan Hari Ciliwung identik dengan kegiatan menyusuri sungai. Tapi kali ini, Komunitas Ciliwung tak akan menyusuri kali sepanjang 120 kilometer dari Bogor sampai Jakarta itu. “Tahun ini kami ambil tema Wisata Plastik,” ujar Ketua Komunitas Ciliwung Condet, Abdul Kodir. Penyusuran sungai juga akan dilakukan dari TB. Simatupang hingga Condet.

Kodir menjelaskan tema “Wisata Plastik” dipilih agar masyarakat mengetahui sampah plastik yang dominan mengapung di sungai beserta bahayanya. Dia menjelaskan, selain merusak lingkungan karena sulit terurai, sampah plastik dapat membuat biota di Kali Ciliwung terperangkap dan tak dapat bernapas. Beberapa jenis ora yang dilestarikan Komunitas Ciliwung di Condet adalah pohon salak, duku, gandaria, dan jengkol. Adapun jenis faunanya antara lain ayam, ular, dan senggawangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s