Home » Bogor Pedestrian » Kota Bogor Tak Ramah Pejalan Kaki

Kota Bogor Tak Ramah Pejalan Kaki

Walikotanya hanya jualan janji.. Urusan Angkot saja belum beres. Nggak heran kota Bogor dijuluki kota 1000 angkot..
KAMIS, 17 DESEMBER 2015

 Kota Bogor Tak Ramah Pejalan Kaki

BOGOR – Warga Kota Bogor menilai kota mereka tidak ramah untuk pejalan kaki. Wali Kota Bima Arya dianggap belum bisa memenuhi janji kampanye setahun lalu. “Pedestrian jadi lahan parkir dan pedagang,” kata Ketua Koalisi Pejalan Kaki Bogor Irna Kusumawati pada Selasa lalu.

Menurut Irna, pada malam hari, pedestrian juga tak diberi penerangan cukup, termasuk di sekeliling Kebun Raya, yang menjadi pusat kota, bahkan area di depan kantor Wali Kota. Karena remang-remang, area trotoar di depan Gedung DPRD bahkan menjadi tempat mangkal para pekerja seks.

Trotoar kian tak layak untuk penyandang disabilitas. Menurut Irna, banyak pedestrian yang berkelok, dibangun terlalu tinggi tanpa jalan kursi roda, serta di tengahnya tertanam tiang listrik dan pohon. “Pemerintah bukan menertibkan, malah ikut tak tertib,” kata Irna.

Dia mencatat beberapa titik pedestrian yang tidak layak bagi pejalan kaki dan kaum difabel, di antaranya di sekitar Stasiun Bogor, seperti Jalan Nyi Rajapermas, Jalan Kapten Muslihat, dan Jalan Djuanda (depan kantor Balai Kota Bogor).

Irna tak menampik ada beberapa pedestrian yang bersih dan layak bagi pejalan kaki, seperti di depan Bank Mandiri, Bank BJB, Hotel Salak, dan Balai Kota. “Bank BJB salah satu yang peduli dengan pejalan kaki,” ujarnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengakui pedestrian di kotanya banyak tak layak. “Kami bertugas untuk membangun infrastruktur pedestrian, sedangkan untuk merawat bukan hanya tugas Pemkot, tapi juga masyarakat,” ujarnya.

Bima membenarkan bahwa beberapa pedestrian, seperti di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, kerap dijadikan tempat mangkal pelacur. “Karena penerangan yang kurang pada malam hari,” tuturnya.

Bima mengatakan pemerintah kewalahan menggusur pedagang yang buka lapak di trotoar. “Kami pun sering melakukan penertiban atau pengusiran. Tapi, jika petugas tidak ada, mereka balik dan beraktivitas lagi,” katanya.

Selain pedestrian yang kacau, lalu lintas Bogor tetap semrawut kendati Wali Kota sudah berganti kepada Bima, yang merupakan peneliti politik dari Universitas Paramadina lulusan doktor dari Australia. Lalu lintas di depan Stasiun Bogor tetap semrawut dengan pedagang dan angkutan kota.

Becak dan sepeda motor dibiarkan melawan arus sehingga kerap membuat macet lalu lintas di sekitar Pasar Anyar yang padat. Selama setahun, Bima berfokus membuat taman di pelbagai tempat. Dalam wawancara dengan Tempo, ia mengakui belum bisa mengubah banyak Kota Bogor. Ia mengeluhkan kecilnya anggaran untuk menata Kota Hujan menjadi lebih baik.

Bima Arya juga kerap dikritik sebagai wali kota yang intoleran. Ia melarang perayaan Asyura dengan alasan keamanan. Bima juga tak kunjung menyelesaikan konflik Gereja Kristen Indonesia Yasmin yang terkatung-katung.

Soal kemacetan, Bima berencana mengganti tiga angkutan kota dengan satu bus. Ia selalu beralasan Bogor penuh oleh angkutan Kabupaten yang bukan kewenangannya. “Tahap awal adalah membuat angkutan berbadan hukum agar mudah menatanya,” kata dia. M SIDIK PERMANA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s