Home » kasus » Soal Lift Arkadia :Pekerjakan Teknisi yang Tak Bersertifikat

Soal Lift Arkadia :Pekerjakan Teknisi yang Tak Bersertifikat

Naik lift gedung pencakar langit di Jakarta sama resikonya dengan naik Metro Mini bersopir SIM tembak atau tanpa SIM..
Pemerintah mesti sangat keras untuk urusan keamanan publik. Jangan karena takut tidak populer jadi membiarkan hal yang sangat penting mengenai keamanan publik. Sudah berapa lama urusan pemeriksaan lift tidak dicek oleh dinas atau instansi terkait ( Dinas Tata Kota ?) untuk memastikan bahwa setiap pengecekan lift dilakukan oleh montir /pekerja yang sudah bersertifikat dan mengerti sekali mengenai lift/eskalator. Sekarang ini sepertinya dinas/instansi yang terkait hanya menunggu saja sampai terjadi suatu bencana, baru mereka kelimpungan dan mulai “mikir” dan bekerja .
Kinerja yang sama seperti Dinas Perhubungan di Pemprov DKI, mereka membiarkan PT Metro Mini (konon ada 2 versi, ckck), sejak 1995 , terus beroperasi.  Luar biasa  bukan !  Dan ketika  ada musibah baru mereka kelihatan”bekerja” dengan merazia bus butut Metro Mini. Tapi setelah wartawan/publik mulai lupa, bus busuk ini lepas kembali ke jalanan.
Sama halnya dengan fenomena ojek di kala krismon 1997-1998. Ojek muncul dimana mana.. Dan dibiarkan alasannya itu adalah “safety net” bagi yang kena PHK.. Terus berlangsung, sampai OJEK seolah oleh menjadi “Angkutan UMUM” .  Ketika ada  orang kreatif membuat aplikasi OJEK ..baru Dinas Perhubungan  bangun dari tidur mengenai Ojek.. Dan tanpa konsultasi  langsung main larang.. padahal Ojek sudah sangat meraja lela yang membuat peran pemerintah tidak akan bisa lagi dengan efektif  menegakan aturan…
Walhasil secara de facto  kendaraan roda dua (motor bebek) dianggap / diterima masyarakat sebagai angkutan umum.. Ini baru benar benar KONYOL.. Kita tinggal tunggu saja jika ada kecelakaan apakahkan ada pihak asuransi ( Jasa Raharja dsb) mau menanggung ??

 

 

Jadi melihat bisa kita simpulkan bahwa untuk urusan  keamanan publik negeri ini masih belum menjadi hal prioritas (nomor 100 khan),  para pemangku kepentingan hanya menimbang urusan keamana publik dengan urusan popularitas publik. Dalam kasus Gojek jelas yang menang adalah soal populeritas,  dan yang kalah adalah akal sehat soal keamanan publik ! Semoga urusan lift tidak akan tergelicir seperti kasus Gojek !

 

 

Sabtu 19 Dec 2015, 05:52 WIB

Polisi: Tersangka Kasus Lift Jatuh Pekerjakan Teknisi yang Tak Bersertifikat

Aditya Fajar Indrawan – detikNews
Polisi: Tersangka Kasus Lift Jatuh Pekerjakan Teknisi yang Tak BersertifikatFoto: Jabbar Ramdhani/detikcom
Jakarta – Polres Jaksel sudah menetapkan 3 orang tersangka kasus jatuhnya lift di Wisma Nestle di Perkantoran Hijau Arkadia. Polisi menyebut teknisi yang mengurusi lift, tidak bersertifikat. 

“Murni karena kelalaian. Jadi berdasarkan Peraturan Menteri tentang persyaratan teknisi lift, di situ mensyaratkan teknisi lift harus bersertifikat. Kemudian kedua orang itu SF dan HR yang tidak bersertifikat direkrut oleh SM Direktur Utama PT Eltek Indonesia, dan memerintahkan mereka untuk memeriksa lift Arkadia,” kata Kasat Reskrim Polres Jaksel, AKBP Audie Latuheru saat dihubungi detikcom, Jumat (18/12/2015) malam.

Ketiga tersangka ini adalah SF dan HR yang merupakan teknisi dan SM Direktur Utama PT Eltek Indonesia. SF dan HR tidak memiliki izin operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 Permenakertrans RI Nomor: PER.03/MEN/1999 tentang syarat keselamatan dan kesehatan kerja lift untuk pengangkut orang dan barang. 

Sementara SM ditetapkan sebagai tersangka karena menandatangani surat tugas untuk SF dan HR yang tak memiliki izin operasi.

Audie, menyebut SM juga diduga lalai dan memberikan perintah kepada teknisi yang tidak bersertifikat untuk memeriksa lift Arkadia.

“Direktur utamanya tahu kalau mereka mekanis yang tidak bersertifikat, tapi malah diberikan perintah untuk memeriksa lift tersebut. Jadi sudah ada alasan yuridisnya,” jelas Audie.

Audie menambahkan jatuhnya lift di Arkadia bukan dikarenakan faktor kesengajaan, namum murni ketidaktahuan teknisi. 

“Bukan karena mereka sengaja, tapi karena ketidaktahuan dan tidak memilikinya sertifikat pengetahuan tentang instalasi lift. Makanya mereka memasang kabel berukuran 6 mm,” ujar Audie.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 359 dan 360 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun.

(adit/fdn)

 

Sabtu 19 Dec 2015, 08:16 WIB

Polisi Akan Periksa Lift Perusahaan Lain yang Dirawat PT Eltek

Aditya Fajar Indrawan – detikNews
Jakarta – Polisi menetapkan tiga orang tersangka atas jatuhnya lift di Wisma Nestle di Perkantoran Hijau Arkadia. Polisi juga membuka kemungkinan memeriksa lift di perusahaan lain yang diperiksa dan dirawat oleh PT Eltek Indonutama. 

“Ya tidak menutup kemungkinan. Kita akan periksa perusahaan lain, yang liftnya diperiksa dan dirawat oleh PT Eltek Indonutama, karena tugas polisi itu juga mencegah kejadian agar tidak terulang lagi,” kata Kasat Reskrim Polres Jaksel, AKBP Audie Latuheru saat dihubungi detikcom, Jumat (18/12/2015).

PT Eltek Indonutama merupakan perusahaan yang bertugas memperbaiki dan merawat lift. Perusahaan itu juga tidak memperpanjang SK Penunjukan Perusahaan Jasa Teknik Instalatir Lift yang dikeluarkan oleh Dirjen P2K3 yang izinnya  mati sejak 18 Februari 2010. 

Terkait hal itu polisi akan melakukan pendalaman setelah pengungkapan kasus ini selesai. “Tapi fokus dulu ke pengungkapan kasus ini, karena masih belum sempurna dan belum selesai penyelidikannya,” sambung Audie.

Ketiga tersangka yaitu SF dan HR tidak memiliki izin operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 Permenakertrans RI Nomor: PER.03/MEN/1999 tentang syarat keselamatan dan kesehatan kerja lift untuk pengangkut orang dan barang. 

Sementara SM Direktur Utama PT Eltek Indonutama, ditetapkan sebagai tersangka karena menandatangani surat tugas untuk SF dan HR yang tak memiliki izin.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 359 dan 360 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun. 

Lift privat Nestle yang melayani lantai 7 hingga 3 di Perkantoran Hijau Arkadia anjlok pada Kamis (10/12/2015). Dua karyawan Nestle tewas yakni sales training Diah Setyoningrum (26) dan Kiagoes Rio Meristiwa (33) yang merupakan tenaga profesional Nestle. Sementara korban luka yakni Abdul Rahman, petugas cleaning service. 
(adit/fdn)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s