Home » Jakarta Pedestrian » Jakarta Kota Paling Tak Aman di Asia

Jakarta Kota Paling Tak Aman di Asia

Mungkin Jakarta hanya aman para KORUPTOR
Koran Tempo
RABU, 09 DESEMBER 2015

 Jakarta Kota Paling Tak Aman di Asia

JAKARTA – Kota Jakarta menjadi kota paling tak aman se-Asia. Sebab, sistem keamanan di DKI Jakarta berada di posisi terakhir atau peringkat ke-50 dalam kategori kota besar se-Asia.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengatakan indikator penilaiannya adalah Ibu Kota tak memiliki sistem keamanan digital. “Tak ada CCTV yang komprehensif di Jakarta,” kata Tito pada Senin lalu.

Menurut dia, kamera pengawas yang ada hanya dari National Traffic Management Center dan beberapa milik pribadi. Untuk itu, Tito meminta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memasang 6.000 kamera tahun depan. “Sehingga seluruh Jakarta bisa terpantau,” ujarnya.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, setuju kamera CCTV dapat menjadi salah satu alat pencegah tindak kejahatan. “Karena orang akan berpikir, kalau melakukan kejahatan akan ketahuan,” kata Kisnu.

Selain itu, menurut Kisnu, CCTV dapat membantu mengungkap tindak kejahatan yang sudah terjadi. Syaratnya, CCTV berfungsi. “Sekarang kebanyakan CCTV mati,” kata dia.

Menanggapi permintaan Tito, Gubernur Basuki tengah mempersiapkan pengadaan 4.000 kamera CCTV untuk disebar ke seluruh area publik di DKI Jakarta. Targetnya, CCTV itu sudah akan terpasang pada Juni 2016.

Basuki menginginkan CCTV tersebut dapat mendeteksi wajah setiap orang yang tertangkap kamera. Menurut dia, keberadaan CCTV sangat penting untuk meningkatkan keamanan di Jakarta. Karena itu, perlu didukung dengan integrasi data digital penduduk lainnya, seperti dengan sistem e-KTP.

Selain data penduduk, Basuki berencana mengintegrasikannya dengan data lainnya, seperti usaha dan penghasilan seseorang. Beberapa tempat yang akan menjadi prioritas pemasangan CCTV adalah permukiman yang rawan tawuran dan tindak kriminal serta kawasan yang berkaitan dengan kepentingan publik, misalnya waduk. CCTV itu akan dihubungkan dengan satuan kerja perangkat daerah terkait untuk mempercepat penanganan masalah.

Saat ini CCTV yang sudah terpasang di sungai dan pintu air berjumlah 12 unit, kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu 8 unit, serta kawasan Johar Baru di Jakarta Pusat 26 unit. Dua lokasi ruang publik terpadu ramah anak juga dipasangi CCTV dan 128 lokasi lainnya yang tersebar di lima wilayah.

Selain CCTV, menurut Tito, sistem keamanan lain yang belum dimiliki adalah emergency call. Sistem panggilan darurat sangat dibutuhkan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan pada saat darurat. Misalkan seorang wanita yang sedang berjalan tengah malam dibuntuti seseorang atau seseorang terkena serangan jantung.

Gubernur DKI, kata Tito, sudah memiliki ide yang dinamakan one one nine (119) untuk panggilan darurat. Nantinya nomor itu akan diintegrasikan kepada polisi, ambulans, dan petugas kebakaran. “Penanganan kecelakaan akan lebih baik kalau sistemnya satu atap,” kata dia. MAYA AYU PUSPITASARI | GHOIDA RAHMAH | LINDA HAIRANI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s