Home » Bandung Pedestrian » Trotoar Bandung Jadi Lebih Asri

Trotoar Bandung Jadi Lebih Asri

Pemkot Perlu Perbanyak Ruang Publik

BANDUNG, KOMPAS — Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, terus menata trotoar untuk pedestrian menjadi lebih bersih, indah, dan asri. Ini untuk mewujudkan Bandung sebagai kota yang manusiawi, yang memanusiakan warganya, sehingga memiliki ruang yang memadai untuk berinteraksi.

Beberapa pengunjung sedang melihat papan peta kawasan kota yang dipasang di salah satu titik di trotoar Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (28/12). Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, kemarin, meresmikan trotoar di kawasan tersebut. Pemkot Bandung menata trotoar sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan Bandung sebagai kota yang manusiawi.
KOMPAS/SAMUEL OKTORA
Beberapa pengunjung sedang melihat papan peta kawasan kota yang dipasang di salah satu titik di trotoar Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (28/12). Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, kemarin, meresmikan trotoar di kawasan tersebut. Pemkot Bandung menata trotoar sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan Bandung sebagai kota yang manusiawi.
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dalam peresmian trotoar di Jalan RE Martadinata, Senin (28/12), mengatakan, kota yang manusiawi adalah yang warga kotanya dapat sering berinteraksi di luar. Urusan penataan trotoar untuk pedestrian (pejalan kaki) ini juga sebagai upaya memanusiakan warganya, sebab kondisi kota umumnya membuat stres. “Nah, salah satu cara untuk mengurangi stres adalah dengan memperbanyak ruang bagi warga untuk bergerak, tetapi bukan dengan kendaraan atau di dalam gedung. Dengan demikian, fasilitas publik seperti ruang terbuka hijau, taman, atau pun trotoar itu menjadi kebutuhan,” kata Ridwan.

Trotoar yang diresmikan, ujar Ridwan, berstandar internasional, yakni menggunakan granit, juga ditambah marmer guna memberikan kenyamanan kepada kalangan difabel. Jalan RE Martadinata merupakan kawasan wisata belanja yang banyak terdapat distro, factory outlet, kafe, dan restoran.

Di sepanjang trotoar hingga Taman Pramuka dilengkapi lampu dan kursi bernuansa klasik, tempat sampah, serta bola besar dari batu alam untuk melindungi trotoar dari parkir liar.

Pemkot Bandung merencanakan menata trotoar secara menyeluruh di semua wilayah kota. Akan tetapi, trotoar yang dibangun dengan granit dikhususkan hanya di jalan protokol atau di pusat kota yang banyak dikunjungi publik. Di wilayah nonprotokol, trotoar akan ditata menggunakan beton berpola.

Beton berpola itu seperti yang kini dipasang di Jalan Dalem Kaum. Direncanakan tahun depan (2016) penataan trotoar meliputi 12 lokasi, di antaranya kawasan Dago, Jalan Merdeka, Jalan Buah Batu, Jalan Moch Toha, Jalan Achmad Yani, dan Jalan Gatot Subroto. Dengan penataan trotoar itu diharapkan dapat menghidupkan budaya jalan kaki atau bepergian tidak menggunakan kendaraan bermotor.

Sejak memimpin Kota Bandung tahun 2013, Ridwan sangat memperhatikan penataan fasilitas publik, salah satunya adalah merevitalisasi sekitar 10 taman menjadi taman tematik. Dari total 604 taman yang ada direncanakan revitalisasi dilakukan secara bertahap, dan ditargetkan hingga 2018 mencapai 16 taman tematik yang memiliki jaringan internet. Taman tematik yang sudah beroperasi, antara lain, Taman Jomblo, Taman Super Hero, Taman Foto, dan Taman Musik.
KOMPASTV
Pemerintah Kota Bandung meresmikan trotoar granit di Jalan Riau, Bandung. Peresmian jalur pedestrian ini untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki di sepanjang Jalan Riau yang merupakan salah satu tujuan wisata di Kota Bandung.
“Dengan penataan trotoar ini suasana Kota Bandung menjadi lebih asri. Tetapi, ini juga harus dijaga dan dipelihara dengan baik,” ujar Dani Supratman (52), warga Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengatakan, penataan trotoar di Jalan RE Martadinata menghabiskan biaya sekitar Rp 15 miliar. “Untuk tahun 2016 akan dialokasikan sekitar Rp 75 miliar untuk penataan trotoar di sejumlah titik,” ujar Iskandar.

Sempat terbengkalai

Pembangunan trotoar di Jalan RE Martadinata sempat terbengkalai, karena semula proyek itu ditargetkan selesai pada Desember 2014. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, kontraktor hanya mampu menyelesaikan pekerjaan hingga 50 persen. Proyek tersebut kemudian dilanjutkan dan baru selesai saat ini.

Belum lama ini, pengajar Program Studi Antropologi FISIP Universitas Padjadjaran, Budi Rajab, mengemukakan, Kota Bandung masih kekurangan institusi sosial pada tempat-tempat publik. Untuk itu, Pemkot Bandung perlu lebih banyak membangun ruang publik, tak cukup hanya menata taman atau trotoar. Misalnya, sarana untuk bermain, gedung atau tempat berolahraga dan berkesenian, tempat berdiskusi, pembelajaran, pameran-pameran, tempat hiburan sampai tempat berdagang yang bisa diakses semua warga Kota Bandung.

“Ruang publik sangat berguna, penting, dan strategis bagi pembelajaran warga kota utuk membangun keadaban. Belajar di ruang publik juga lebih cepat terhayati dibandingkan dengan pembelajaran dalam keluarga. Sebab mereka akan langsung belajar berinteraksi dengan warga lain yang berbeda usia, jender, asal-usul, kelas sosial-ekonomi, jabatan, tingkat pendidikan, profesi, maupun perbedaan etnik,” kata Budi. (SEM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s