Home » Nata de Kota » Cara Baru Memoles Kota Tua

Cara Baru Memoles Kota Tua

Ternyata belum ada kemajuan signifikan ya..
Koran Tempo
JUM AT, 05 FEBRUARI 2016

 Cara Baru Memoles Kota Tua

Direktur Utama PT Pembangunan Kota Tua, Lin Che Wei, mundur. Ia tak setuju dengan permintaan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang memintanya mementingkan fasad alias wajah Kota Tua untuk menarik minat pengunjung. “Tugas kami bukan itu,” kata Lin, pengamat ekonomi yang terjun mengurusi Kota Tua sejak dua tahun lalu, kemarin.

PT Pembangunan, kata Lin, bertugas mencari pendanaan untuk kegiatan Jakarta Old Town Revitalization Corp (JOTRC), perusahaan yang mengurus teknis revitalisasi. Di JOTRC, Lin menjadi Ketua Dewan Eksekutif. Tugas JOTRC ada tiga: menyiapkan Kota Tua sebagai warisan budaya dunia menurut PBB, menjalin kerja sama dengan badan usaha milik negara sebagai pemilik gedung sebelum merevitalisasi gedung, dan menata pedagang. “Tak pernah ada tugas menata ruang publik,” kata Lin.

Adapun Gubernur Basuki menginginkan Kota Tua menjadi tempat nongkrong baru warga Ibu Kota. Ia mengatakan Kota Tua harus dilengkapi fasilitas penunjang supaya citranya berubah menjadi tempat yang nyaman. Karena itu, ia ingin menambah banyak fasilitas di tempat publik, seperti tempat duduk dan lampu. 

Selama ini, JOTRC sebagai konsorsium swasta yang menggarap revitalisasi Kota Tua hanya berfokus pada perbaikan gedung. “Sedangkan saya mau hasilnya langsung terlihat satu deret,” kata dia kemarin. Basuki sedang mencari konsep yang pas. Ia tak menyoal pengunduran diri Lin Che Wei, yang sudah berbeda pendapat dengannya sejak tahun lalu dalam soal penanganan pedagang kaki lima.

Menurut Basuki, revitalisasi gedung yang dilakukan bergantian membutuhkan waktu lebih dari setahun. Adapun daya tarik Kota Tua terletak di pemandangan luar. Lagi pula, kelak tak semua gedung bisa dikunjungi dengan bebas.

Meski mundur, Lin menjamin revitalisasi 85 gedung di kawasan Kota Tua akan tetap berlangsung. Dari jumlah itu, 18 gedung sudah selesai direvitalisasi. “Saya tak mau berada di antara pemerintah dan para shareholder,” kata Lin.

Konsep itu akhirnya ditemukan Basuki. Ketika menonton televisi, ia melihat seorang arsitek memaparkan konsep ruang publik Kota Tua. “Konsepnya bagus, maka saya undang dia,” kata Basuki.

Arsitek itu adalah Budi Lim dari PT Budi Lim Architects, arsitek senior yang banyak membangun konsep urban dan gedung di perkotaan. Pada 2001, ia mendapat penghargaan UNESCO atas revitalisasi Gedung Arsip Nasional. Budi mengajukan konsep penataan sepanjang Jalan Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur. Dia ingin mengubah keduanya menjadi ruang terbuka publik. “Transformasi dari jalan menjadi taman,” kata Budi.

Salah satu caranya, kata Budi, memperlambat laju kendaraan menjadi 12-15 kilometer per jam. Jalan sepanjang 300 meter yang semula lurus itu bakal diubah menjadi berkelok dengan menciptakan tempat-tempat persinggahan atau node di sisi kiri dan kanan jalan. Dengan begitu, pengendara bisa menikmati pemandangan.

Saat kondisi lalu lintas lengang, node dan dua ruas jalan itu bisa beralih fungsi menjadi pusat keramaian. Komunitas seniman bisa memanfaatkan node untuk memamerkan karya. “Prosesnya setahun selesai,” kata Budi.

Strategi lainnya adalah menyediakan toilet, tempat parkir sepeda, dan pusat informasi. Budi mengatakan penyediaan fasilitas itu bertujuan menambah keragaman pengunjung Kota Tua. “Filosofinya, taman bukan hanya untuk sebagian golongan, tapi untuk semua orang,” kata dia. 


Tujuh Jurus Budi Lim

Arsitek Budi Lim menganggap bangunan layaknya manusia. Kota yang sehat berarti berisi manusia-manusia sehat yang kondisi fisik dan sistem di dalamnya terjaga. Itu sebabnya, ia tertarik kepada komponen penyusun kota, khususnya luar ruangan seperti jalur pedestrian, jalan, dan taman.

1. Memperlambat laju kendaraan

Mengubah bentuk jalan menjadi berkelok dengan membuat node di kedua sisi jalan. Lapisan aspal di ruas Jalan Kali Besar Barat sepanjang 300 meter diganti dengan batu andesit untuk menambah kenyamanan pejalan kaki.

2. Pencahayaan lingkungan

Pemasangan lampu di titik-titik yang tinggi untuk meningkatkan keamanan. 

3. Ruang terbuka publik dengan beragam fungsi

Ruas Jalan Kali Besar Barat dan Jalan Kali Besar Timur berfungsi sebagai jalan umum pada pukul 08.00-12.00 dan ruang terbuka publik untuk pementasan atau pameran pada pukul 12.00-18.00 WIB. 

4. Menyediakan fasilitas pendukung

Menyediakan kursi panjang, tempat sampah, dan tempat parkir sepeda di banyak titik serta membangun toilet yang nyaman. Pada bangunan yang sama akan didirikan pusat informasi tentang kawasan Kota Tua. 

5. Taman kota

Menanam pohon flamboyan di node, pohon palem raja di antara bangunan untuk membuat kesan teduh tapi tetap terang, dan 600 jenis tanaman sebagai sarana edukasi.

6. Membangun lima jembatan penghubung kedua ruas jalan

Jembatan berfungsi menambah akses pejalan kaki supaya tak perlu memutar hingga ujung jalan. Ruas jalan di antara jembatan sekitar 150 meter. Dengan begitu, sirkulasi jalan di Kota Tua menyerupai cincin. Jarak 150 meter dianggap ideal dan tak membuat pejalan lelah.

7. Membangun tepian sungai

Masyarakat bisa turun ke tepian Kali Krukut yang memisahkan dua ruas jalan itu. Air Kali Krukut yang berwarna hitam akan disaring sejak dari kawasan Cideng, Jakarta Pusat.LINDA HAIRAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s