Home » Jakarta Pedestrian » Solusi Cepat untuk Sampah Jakarta

Solusi Cepat untuk Sampah Jakarta

Masih pada level “omdo” mirip dengan penanganan Metro Mini . Sampai sekarang urusan sampah masih ditimbun  di Bantar Gebang atau tempat lain. Metro Mini sialan itu sampai sekarang juga masih dibiarkan berkeliaran memakan korban jiwa.. Birokrat – Politisi Indonesia hanya doyan dan mampu omong doang  (OMDO) !
Koran TempoKAMIS, 18 FEBRUARI 2016
FREE!

 Solusi Cepat untuk Sampah Jakarta

Dalam rapat terbatas kabinet yang diadakan Jumat pekan lalu, Presiden Joko Widodo meminta percepatan realisasi pengelolaan sampah sebagai sumber energi listrik. Menurut Presiden, sampah merupakan salah satu sumber untuk menambah pasokan listrik negara. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengajukan sejumlah solusi.

Menurut Ketua Tim Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Rudi Nugroho, keinginan Presiden itu dapat terpenuhi dengan memanfaatkan teknologi pengelolaan sampah termal. “Sampah dibakar menjadi abu dan asap dalam waktu singkat. Proses ini juga menghasilkan bonus listrik 30 kWh per ton sampah,” kata dia di kantornya, Rabu lalu.

Pertama-tama, pemerintah harus membangun incinerator (tungku pembakaran) di tengah kota, yang mampu membakar minimal 500 ton sampah per jam. Idealnya, setiap kota memiliki minimal satu tungku. Selanjutnya, setiap sampah yang masuk akan segera dibakar tanpa dibiarkan menumpuk. Listrik yang dihasilkan pun dapat dijual atau dimanfaatkan untuk rumah penduduk.

Untuk membangun tungku perlu disiapkan lahan seluas minimal 15 hektare dengan biaya sekitar Rp 1,3 triliun. Pembangunannya, menurut Rudi, bisa berlangsung 2-3 tahun, dan listrik yang dihasilkan mencapai 84.599 MWh per tahun.

Meski cepat, sebenarnya solusi ini bukan yang terbaik. Dari 6.500 ton sampah yang setiap hari masuk ke penampungan, 70-80 persen adalah sampah organik basah. “Sampah seperti ini tak cocok masuk incinerator,” kata Rudi.

Kadar air yang tinggi membuat tungku sulit mencapai suhu ideal, yakni 1.000-1.500 derajat Celsius. Bila suhu itu gagal tercapai, pembakaran akan menghasilkan emisi gas beracun, seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, dan dioksin, yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia.

Untuk tetap mencapai suhu ideal, operator harus menambah bahan bakar solar atau batu bara ke dalam tungku. Tentu ini berarti ada tambahan biaya lagi. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) belum menetapkan batas maksimal emisi gas beracun yang aman dari incinerator. “Seharusnya dalam dua atau tiga tahun ini, sampai fasilitas siap, aturan itu bisa mulai disiapkan,” kata Rudi.

Peneliti madya persampahan, Wahyono, berpendapat, metode biogas dan biodigester lebih tepat untuk sampah organik. Metode ini tak membakar, melainkan mengolah sampah dengan ditimbun atau diproses kembali, lalu gasnya dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Proses ini juga bisa dilakukan di skala kecil, seperti tingkat RT atau RW.

Cara ini juga efektif untuk kota kecil yang tak memiliki dana besar. Salah satu contoh kota yang telah berhasil mengelola sampah adalah Surabaya dengan Bank Sampah-nya. BPPT sendiri juga memiliki biodigester di beberapa kota kecil, seperti Probolinggo. “Kepala daerahnya harus dimotivasi supaya mau menjadikan pengelolaan sampah sebagai prioritas utama,” kata Wahyono. “Tapi, karena yang diminta saat ini solusi cepat, ya, mau tak mau harus termal.” URSULA FLORENE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s