Home » Bandung Pedestrian » Banjir besar di Bandung alias “kota lautan sampah”

Banjir besar di Bandung alias “kota lautan sampah”

Ini kota memang kebanyakan kosmetik dan citra doang..Kawasan tadah hujan di perbukitan kota Bandung, jadi perumahan mewah semua.. Nggak heran air meluncur deras kalau hujan lebat. Belum lagi sungai dan kali di kota Bandung juga penuh sampah dan dangkal. Kamana wae pemerintah kota dan provinsi ???? Belum ada tindakan tegas membereskan kawasan dan penertiban kawasan aliran sungai..
Kota ini disebut kota  kreatif   tapi tidak jelas.. apa yang kreatifnya ya.??. kreatif destruktif jejaknya bisa dilihat disetiap sudut kota nyaris nggak ada urusan estetika.  belum lagi urusan kebersihan , coba deh WC di Jawa Barat sih paling ngeri. Belum pernah saya menikmati WC umum yang bersih di sana.. yang paling “bersih “pun masih bau pesing.  Sampah, kejorokan dan  kesemerawutan terlihat jelas oleh kasat mata, belum lagi urusan kriminalitas (geng motor).
Pemerintah kota dan Provinsi Jabar  lebih sibuk urusan citra dan materi    (sok agamis, sok  kreatip,koruptif) daripada urusan nata kota dan nata kawasan. Sekarang jelas urusan citra saja hasilnya Jeblok total.. alias ngerakeun !
COBA deh contoh si(KAFIR) AHOK DEH.

 

Senin 24 Oct 2016, 19:44 WIB

Hujan Besar Datang Saat Sungai Citepus Belum Dikeruk, Bandung Banjir Parah

Avitia Nurmatari – detikNews
Hujan Besar Datang Saat Sungai Citepus Belum Dikeruk, Bandung Banjir ParahFoto: Foto Warga/M Wildan Fadillah

Bandung – Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung mengaku rutin mengeruk sungai Citepus yang melintasi Jalan Pasteur. Namun kali ini terlambat, banjir datang sebelum sungai dikeruk.

“Biasanya itu kan Pasteur kita pengerukan dalam dua minggu sekali. Minggu sekarang jadwal ngeruk. Tapi keburu hujar besar,” ujar Kepala DBMP Kota Bandung, Iskandar Zulkarnaen, saat dihubungi melalui telepon, Senin (25/10/2016).

Ke depan pihaknya akan melakukan pengerukan satu minggu sekali di kawasan Pasteur. Sehingga aliran sungai lancar dan tidak menyebabkan banjir.”Saat Sungai Citepus deras dan membawa banyak material dari atas memang menghambat aliran. Nanti sebagai antisipasi kita keruk satu minggu sekali,” ujar pria yang karib disapa Zul tersebut.

Hujan Besar Datang Saat Sungai Citepus Belum Dikeruk, Bandung Banjir ParahFoto: Kiriman Pembaca (Heny Firdawati)

Hujan yang mengguyur Kota Bandung sejak siang membuat debit air Sungai Citepus meningkat. Tak hanya banjir di Jalan Pasteur saja, namun benteng sungai di samping SMAN 9 juga jebol. SMAN 9 sendiri letaknya sekitar 1 kilometer dari Jalan Raya Pasteur.

Tak hanya di Pasteur, luapan air Sungai Citepus juga menggenangi Jalan Pagarsih. Di mana sebuah mobil dan motor hanyut hilang terbawa arus. Hingga kini kedua kendaraan itu belum ditemukan.
(avi/ern)

+++++++++++++++++++++++++++

Selasa 25 Oct 2016, 13:05 WIB

Target Atasi Banjir Akhir Tahun Ini, Ridwan Kamil: Kami Terus Berupaya

Avitia Nurmatari – detikNews
Target Atasi Banjir Akhir Tahun Ini, Ridwan Kamil: Kami Terus BerupayaFoto: detikcom

Bandung – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil angkat bicara terkait persoalan banjir yang melanda Kota Bandung khususnya di Jalan Dr Djundjunan (Pasteur) dan Jalan Pagarsih.

Sambil berdiri, pria yang karib disapa Emil itu melayani pertanyaan wartawan terkait banjir. Sebelumnya, Ia menyampaikan permintaan maaf kepada warga Kota Bandung soal peristiwa banjir yang tidak diduga sebelumnya.

“Kalau bicara situasi kemarin, Pemkot Bandung sudah meminta maaf terkait banjir. Kami tidak paham, karena secara ilmiah ini sudah berbulan-bulan tidak pernah banjir. Kemarin ada situasi di luar dugaan. Saya sebagai wali kota, saya bertanggung jawab,” ujar Emil di Pendopo Wali Kota Bandung, Jalan Dalemkaum, Selasa (25/10/2016).

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung, Emil menyebutkan target penyelesaian banjir yakni akhir tahun ketiga kepemimpinannya. Artinya, akhir tahun ini seharusnya sudah tuntas masalah banjir di Kota Bandung.

“Iya seharusnya akhir tahun ini. Makanya kita terus berupaya,” ucap Emil.

Namun peristiwa kemarin seolah mengejutkan. Emil mengaku jajarannya sudah berupaya menangani banjir. Ia berjanji akan terus berupaya mencari solusi agar dua lokasi itu tidak kembali banjir.

“Kami menyesali musibah ini. Tapi kami ini bekerja loh. Pagarsih itu gorong-gorongnya sudah 2×2 meter dua buah. Tapi memang enggak cukup ternyata. Apakah aliran sungai dari utaranya melebihi kapasitas atau bagaimana kita akan cari upaya lagi,” ungkapnya.Sebagai antisipasi selanjutnya, Emil mengatakan, pihaknya berencana akan membongkar bangunan yang berada di jalur air. “Salah satunya jalan masuk ke Hotel Topas di Pasteur,” tandasnya.
(avi/ern)

+++++++
Selasa 25 Oct 2016, 14:13 WIB

Kota Bandung Dilanda Banjir

Tentang Sungai Cianting dan Terendamnya Jalan Pasteur

Masnurdiansyah – detikNews
Tentang Sungai Cianting dan Terendamnya Jalan PasteurFoto: Masnurdiansyah/detikcom

Bandung – Jalan Pasteur dan sekitarnya mendadak terendam banjir setelah hujan deras, Senin (24/10) kemarin. Diduga banjir disebabkan luapan air Sungai Cianting. Sungai ini mengalir ke Sungai Citepus.

Saat hujan deras turun di kawasan tersebut, Senin (24/10), debit air Sungai Cianting yang berada tepat di Jalan Babakan Jeruk terus naik. Air mengalir sangat deras, tak sebanding dengan kolong jembatan. Apalagi air saat itu membawa tumpukan sampah.

Tak lama kemudian sekitar pukul 11.30 WIB, air yang naik ke permukaan mulai tumpah ke jalan dan menutup Jalan Pasteur. Hasilnya lalu lintas sempat terputus selama beberapa jam.

“Jadi kehambat aliran airnya, memang kemarin airnya gede. Nah dari sini airnya meluap baru turun ke jalan,” ujar Arif, salah satu warga di Babakan Jeruk, Kota Bandung, saat ditemui detikcom di lokasi, Selasa (25/10/2016).

Tentang Sungai Cianting dan Terendamnya Jalan PasteurFoto: Masnurdiansyah/detikcom

Arif sendiri mengetahui air sudah menggenangi Jalan Pasteur dari tetangganya. Menurut dia, genangan air di kawasan Pasteur kerap terjadi jika hujan besar. Namun pada hari kemarin banjir setinggi lutut orang dewasa tersebut baru kembali terjadi.

“Tapi tidak lama kalau air naik di sini. Hanya sekitar 2 jam ya sekitar segitulah lamanya, tapi surut lagi. Cuman ya itu repotnya kalau udah naik kan dari arah tol ke kota jadi harus muter dulu ke arah Setiabudi kalau tidak ke Sukajadi,” tuturnya.

Saat banjir surut pada hari kemarin, Jalan Pasteur dihiasi sampah dan lumpur. Sementara itu di seberang jalan tepatnya di depan Hotel Topas, satu buah alat berat backhoe sedang mengeruk dasar aliran sungai tersebut. Penyebab utama banjir diakibatkan sampah yang menumpuk di dasar sungai.

“Kemarin surutnya sekitar jam 5 sore air sudah turun. Warga sama petugas kebersihan langsung bersih-bersih sisa banjir,” kata dia.

Hari ini, kondisi air sungai pada siang ini terpantau surut. Pantauan detikcom di lapangan debit air yang mengalir ke Sungai Citepus tidak terlalu tinggi. Beberapa petugas dari Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung terlihat sibuk mengangkut karung berwarna kuning yang isinya batu dan pasir.

+++++++++++++++++++++++++
Selasa 25 Oct 2016, 14:22 WIB

Kota Bandung Dilanda Banjir

Setelah 6 Jam, Bangkai Mobil Livina yang Hanyut Akhirnya Berhasil Dievakuasi

Mukhlis Dinillah – detikNews
Setelah 6 Jam, Bangkai Mobil Livina yang Hanyut Akhirnya Berhasil DievakuasiFoto: Mukhlis Dinillah

Bandung – Setelah enam jam berusaha dievakuasi, akhirnya bangkai mobil Grand Livina yang berada di bawah jembatan Jalan Pasikoja, Kota Bandung, berhasil diangkat. Proses evakusi menggunakan dua unit mobil crane.

Berdasarkan pantaun detikcom, Selasa (25/10/2016) bangkai mobil berhasil diangkat dari dasar aliran sungai Citepus sekitar pukul 13.30 WIB. Proses pengangkatan body mobil dilakukan secara perlahan-lahan.

Mobil berwarna hitam itu kondisinya rusak parah. Seluruh bagian body mobil penyok dan baret-baret. Kap mesin terbuka. Terlihat pasir sungai serta batu-batu berukuran sedang terlihat memenuhi bagian depan mobil saat berhasil diangkat.

Baca juga: Cerita Pemilik Mobil Livina yang Hanyut Terseret Banjir di Pagarsih Bandung

Untuk memudahkan proses pengangkatan bangkai mobil, pembatas jembatan terpaksa dihancurkan oleh petugas gabungan dari Polda Jabar dan Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (DPPK) Bandung.

Meski sudah berada di atas jembatan, namun ada beberapa bagian body mobil yang menyangkut di pondasi penyangga jembatan. Sehingga petugas masih berusaha melepaskannya agar bisa diangkut ke tempat lain.

Kasi Pammat Sabhara Polda Jabar Kompol Nana S mengatakan setelah dievakuasi, nantinya bangkai mobil tersebut diserahkan kepada pemiliknya. Tugasnya hanya sampai mobil tersebut terangkat dari dasar sungai.

“Setelah ini kami serahkan kepada pemilik. Nanti dia (pemilik) mungkin manggil mobil derek buat angkut ke rumahnya,” jelas dia di lokasi.

Saat proses pengangkatan, tidak terlihat pemilik mobil, Irma (42), yang tadi pagi datang sebentar untuk melihat proses evakuasi.

Sebelumnya, proses evakuasi bangkai mobil ini berlangsung sejak pukul 08.00 WIB. Mobil tersebut terseret arus banjir di Jalan Pagarsih hingga mencapai satu kilometer ke lokasi penemuan yaitu jembata Jalan Pasirkoja.
(ern/ern)

+++++++++++++++++++++++++

Normalisasi Hulu Sungai Dapat Menanggulangi Banjir

Kepala Bidang Pelaksanaan DBMP Kota Bandung Lisa Suryalestari/DOK. HUMAS PEMKOT BANDUNG

HUJAN yang cukup deras mengakibatkan volume air meningkat, Selasa, 24 Oktober 2016 sore menyebabkan banjir di Jalan Pagarsih dan Pasteur Kota Bandung.

“Dengan kejadian tersebut, tentunya dari DBMP, sudah rutin sebenarnya mengadakan pembersihan, operasi dan pemeliharaan saluran sungai maupun drainase terutama di dearah yang rawan banjir,” kata Kepala Bidang Pelaksanaan DBMP Kota Bandung Lisa Suryalestari dalam kegiatan Bandung Menjawab di Ruang Media Lounge Balai Kota Bandung, Selasa, 25 Oktober 2016.

Ia menjelaskan, kejadian itu diakibatkan daerah hulu sungai Kota Bandung yang sudah berkurang area resapannya.

“Hal ini disebabkan aliran air yang tadinya harus diresapkan makin ke bawah makin kurang, ternyata setelah diketahui aliran air mengalir begitu deras sehingga mengakibatkan luapan pada jalan khususnya di Pasteur,” ujarnya.

Menurutnya dengan kondisi yang cukup parah kemarin di wilayah Pasteur, terdapat perubahan tata guna lahan,

“Memang seharusnya di darerah utara itu lebih banyak resapan hijaunnya. Nah pengalihan ini dengan diakibatkan seperti adanya pembangunan hotel dan perumahan,” tutur Lisa.

Lanjut lisa menjelaskan, untuk banjir di daerah Pagarsih adanya penyempitan aliran sungai,

“Dengan jumlah penduduk yang cukup padat, ditambah lagi lahan aliran sungai yang sempit mengakibatkan bajir yang cukup parah,” ujarnya.

Lisa menambahkan, dengan kejadian demikian, DBMP Kota Bandung akan mengkaji untuk menempatkan Tol Air atau mesin pompa,

“Alat ini digunakan di daerah yang rawan banjir, dengan kegunaan untuk menyedot air yang berada di wilayah rawan banjir lalu di buangnya ke sungai, dengan catatan pembuangan air tersebut harus aman dan tidak mengakibatkan luapan air yang besar,” katanya.

Dengan demikian, dibutuhkan normalisasi untuk mencegah terjadinya banjir di kawasan tersebut.

“Selain normalisasi, upaya yang cukup baik untuk mencegah banjir yaitu peninggian tanggul dan pembuatan jembatan,” pungkasnya.***

++++++++++++++++

Pemkot Bandung Pastikan Tolak Teknologi Insinerator

Ilustrasi/MARISA ELFITRI

BANDUNG, (PR).- Dari 37 perusahaan yang berminat berinvestasi proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Bandung, hanya sembilan yang menawarkan teknologi bukan pembakaran (insinerator). Pemerintah Kota Bandung menargetkan memilih satu dari sembilan perusahaan itu sebelum ganti tahun.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengisyaratkan, Pemkot Bandung membuka pintu pada teknologi selain biodigester. Yang ia tolak adalah teknologi insinerator. Teknologi gasifikasi termasuk yang diseleksi.

“Poin saya, yang berminat silakan datang. Ada tim yang akan menyeleksi. Pertimbangannya, mereka punya pengalaman atau tidak. Kita pilih yang paling murah, ramah lingkungan, dan berpengalaman,” ujar Ridwan, Senin 3 oktober 2016 siang, di Pendopo Kota Bandung.

Siang itu Ridwan menerima satu lagi perusahaan yang menawarkan teknologi waste to energy. Datang dari Tiongkok, mereka menjanjikan teknologi milik mereka tidak akan menghasilkan secuil pun gas buang. Pemkot Bandung bakal menindaklanjuti kedatangan perusahaan ini dengan mengirimkan perwakilan untuk mengecek lokasi dan kinerja perusahaan.

Ridwan menyatakan, pemkot memiliki kewenangan penuh untuk memilih investor mana yang bakal dipercaya membangun dan mengelola PLTSa di lahan seluas 4 hektare di Gedebage. Tidak perlu lagi ada tender.

Perihal nasib kerja sama dengan PT BRIL (Bandung Raya Indah Lestari), Ridwan mengaku tidak khawatir. Ia bakal tetap mengajak perusahaan pemenang tender tahun 2013 tersebut sebagai rekanan lokal. Namun, ajakan ini bisa diterima atau ditolak.

“BRIL akan kita tawari menjadi partner lokal. Kalau tidak mau ya tidak masalah. Ini diskresi wali kota yang menghargai proses lelang (dahulu). Namun, BRIL harus ikut gimana maunya pemkot. Kalau selama ini kan ikut gimana maunya mereka,” tutur Ridwan.

Ridwan menegaskan, Pemkot Bandung berpegang pada keputusan KPPU yang telah membatalkan keabsahan proses lelang karena adanya praktik kongkalingkong. Meski BRIL masih mengajukan keberatan, Ridwan meyakini hal itu tidak lantas menjadi ganjalan. Pemkot dan BRIL belum menandatangani kontrak kerja sama.***

+++++
koran tempo
SENIN, 21 NOVEMBER 2016

Bandang Bandung Akan Berulang

Budi Brahmantyo

Dosen teknik geologi ITB dan koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung

Secara mengejutkan dan seolah-olah luput dari antisipasi warga Bandung, pada akhir Oktober dan awal November 2016 terjadi peristiwa yang dikenang sebagai banjir bandang Bandung. Banjir dengan aliran cepat dan berarus deras yang sebenarnya merupakan luapan Sungai Citepus itu secara alamiah memang merupakan peristiwa alam yang berhubungan dengan hujan besar di daerah aliran sungai (DAS) hulu Citepus. Dengan karakteristik seperti itu, banjir Citepus dapat dikategorikan sebagai banjir bandang.

Banjir bandang (flash flood) didefinisikan banyak institusi, kamus, ataupun ensiklopedia sebagai peristiwa alam naiknya secara tiba-tiba debit sungai dengan kecepatan tinggi yang disebabkan curah hujan besar. Banjir bandang berbeda dengan banjir (flood). Banjir adalah peristiwa meluapnya air sungai yang menggenangi wilayah bantaran sungai. Datangnya tidak secara tiba-tiba, relatif bertahap, dan dapat terpantau. Sementara banjir umumnya menggenang cukup lama, banjir bandang hanyalah aliran besar sesaat, tapi sangat besar dengan arus kuat.

Dari peristiwa banjir bandang Citepus, banyak yang heran mengapa peristiwanya baru sekarang terjadi? Banyak yang menduga bahwa, selain memang pola curah hujan yang menjadi besar di utara Bandung, dicurigai terjadi perubahan tata guna lahan di DAS hulu Citepus. Kecurigaan ini bisa benar karena fakta lapangan menunjukkan bahwa di DAS hulu Citepus di atas Jalan Dr Junjunan (Terusan Pasteur) terjadi pembangunan permukiman yang rapat dan bahkan hingga hulunya di wilayah Lembang.

Melalui penelusuran dari peta Street Atlas Bandung (Periplus, 2004-2005), Citepus, yang bermuara ke Citarum di sekitar Cangkuang, mempunyai aliran ke arah hulu, ke utara, melalui Terminal Leuwipanjang, Nyengseret, Pekuburan Astanaanyar (dan di sini bergabung Ci Kakak), memotong terusan Jalan Pasirkoja, Jalan Pagarsih, Jalan Jenderal Sudirman di sekitar Andir, Ciroyom, Jalan Bima, hingga Pekuburan Sirnaraga. Di sekitar Lapangan Terbang Husein Sastranegara, Citepus bercabang dua, satu ke arah barat laut sebagai sungai utama dan bernama Cibeureum, satu lagi berupa cabang pendek Cipedes.

Cabang utama Cibeureum adalah aliran sungai cukup besar yang mengalir melalui permukiman padat di daerah Setra Duta, mengalir di sebelah barat UPI, dan wilayah Cihideung tempat aliran Cihideung juga bergabung. Ke arah hulu, aliran terus hingga sebelah barat Lembang, dan ujung sungai-sungai ini berada di lereng selatan Gunung Tangkubanparahu.

Dari kondisi morfologi ini dapat digambarkan bahwa gradien sungai (kemiringan aliran) relatif landai dari muaranya di selatan hingga di sekitar Husein Sastranegara. Di atas itu, gradien sungai meninggi selari dengan memasuki kawasan perbukitan yang semakin tinggi di Setra Duta, Cihideung, dan semakin tinggi setelah Lembang. Dalam proses terjadinya banjir bandang, kondisi morfologi seperti ini sangat tipikal. Hal itu tidak hanya terjadi pada Citepus, tapi juga sungai-sungai yang berhulu di perbukitan Kawasan Bandung Utara (KBU).

Analisis morfologi menunjukkan wilayah-wilayah yang rawan terjadi banjir bandang adalah wilayah tempat perubahan gradien sungai dari tinggi ke rendah. Bayangkan arus deras yang menggelontor di daerah perbukitan dengan lembah sungai curam mendadak memasuki lereng landai dengan lembah mendangkal. Luapan dengan dorongan arus keras akan terjadi di tempat-tempat, seperti ini. Maka tidak mengherankan jika wilayah-wilayah rawan itu terjadi kebetulan sejalan dengan poros Terusan Pasteur, Surapati, Cicaheum, Ujungberung, hingga Cileunyi.

Sebuah penelitian kecil pernah dilakukan Sagara, Riono, Adityo, dan Brahmantyo pada 2010 untuk dua DAS, yaitu Cidurian dan Cisaranten. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bentuk DAS Cidurian yang cenderung lurus dan sempit lebih rawan mengalami banjir bandang dibanding DAS Cisaranten, yang berbentuk membundar dan lebar. Hal ini selaras juga dengan penelitian yang dilakukan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) yang menunjukkan bahwa dalam curah hujan yang sama, DAS yang menyempit akan dengan cepat meningkatkan debit secara tiba-tiba dibanding DAS yang melebar.

Secara geologi, batuan utama di wilayah perbukitan KBU merupakan hasil endapan letusan Gunung Sunda Purba berupa breksi dengan sisipan lava yang kompak dan keras. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa uji infiltrasi air sangat kecil di wilayah perbukitan dengan lereng-lereng terjal ini. Dapat disimpulkan bahwa perbukitan KBU mempunyai daya resap air hujan rendah sehingga, saat hujan besar, akan lebih banyak limpasan permukaan. Kondisi ini diperparah hilangnya hutan di KBU dan digantikan permukiman atau ladang-ladang terbuka. Perubahan tata guna lahan ini semakin meningkatkan limpasan air permukaan. Padahal, hasil penelitian Leopold yang dikutip dalam Morisawa (1985) menjelaskan bahwa kenaikan debit sungai secara cepat dalam waktu jeda yang singkat akan terjadi pada DAS dengan permukaan yang impermeabel atau relatif kedap air.

Dari beberapa kajian geologi dan morfologi wilayah utara Bandung, terang bagi kita bahwa banjir bandang akan terus mengancam Bandung. Sungai-sungai yang berhulu di utara Bandung, yang mempunyai batuan dasar breksi-lava yang kompak dan keras, apalagi ditambah berubahnya hutan menjadi permukiman atau ladang, serta DAS yang relatif lurus, akan sangat rawan tertimpa banjir bandang. Jadi, dengan perubahan tata guna lahan yang luar biasa di perbukitan KBU, kejadian banjir bandang akan lebih sering kita alami di masa depan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s