Mantan Tim Sukses Jadi Makelar, Jokowi Salahkan Proses Lelang

sudah jauh  diimpor dari Solo, kualitasnya sami mawon..Bagaimana jadi RI 1 ?????

baru saja jadi DKI 1,  lingkaran (mau tim sukses, relawan dan partai ) dekatnya sudah berkorupsi ria !

Ingat PDIP  itu juaranya korupsi  mengalahkan Golkar, PKS, PAN, PPP dan Partai  Demokrat .

News / Megapolitan

Senin, 10 Maret 2014 | 16:34 WIB
DOK. KOMPAS.comGambar 1: Bus Transjakarta baru dengan nomor polisi B 7724 IV. Gambar 2: Instrumen dashboard tidak dibaut. Gambar 3: Kaca spion kanan rusak. Gambar 4: Tutup panel speedometer kendur.
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, kelemahan pengadaan barang dan jasa melalui proses lelang adalah kemunculan makelar. Salah satunya pada pengadaan ratusan transjakarta dan bus kota terintegrasi busway(BKTB) pada APBD tahun 2013.”Lelang itu risikonya banyak. Yang menang bisa tetangga, bisa kawan, bisa juga musuh saya,” ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Senin (10/3/2014) siang.Jokowi menegaskan, sejak awal menjabat sebagai Gubernur DKI, ia telah mewanti-wanti kepada kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan unit kerja perangkat daerah (UKPD) untuk berhati-hati jika ada seseorang yang mengaku kenal dan dekat dengannya datang untuk meminta mengurus proyek tertentu.”Kan banyak yang bilang, saya orang dekat Jokowi, saya keluarga dekat Jokowi, temannya Jokowi, ada juga yang bawa nama tim sukses Jokowi. Hati-hati itu,” lanjut Jokowi.Jokowi mengaku kewalahan terhadap aktivitas oknum itu. Pasalnya, Jokowi mengaku tidak mungkin memantau satu per satu kenalannya, keluarganya, atau bahkan mantan tim suksesnya. Terlebih lagi, jumlah tim suksesnya, baik di Surakarta maupun di DKI Jakarta, berjumlah ribuan.

Solusinya, Jokowi menegaskan untuk menyerahkan kasus itu ke ranah hukum. “Kalau ada yang melanggar, kita gebug,” ujarnya.

Munculnya nama seorang mantan anggota tim sukses Jokowi ketika dia masih menjabat sebagai Wali Kota Surakarta tersebut berawal dari pemberitaan salah satu media massa nasional. Di dalam artikel itu disebutkan, sang oknum ditengarai menjadi makelar dalam pengadaan bus.

Sebanyak 5 dari 90 transjakarta dan 10 dari 18 BKTB yang didatangkan Pemprov DKI terbukti mengalami kerusakan beberapa komponen. Misalnya, banyak komponen berkarat dan berjamur, sementara beberapa instalasi tampak tidak dibaut. Bahkan, ada bus yang tidak dilengkapi dengan fanbelt mesin dan AC.

Akibat kondisi tersebut, beberapa bus tidak dioperasikan meskipun sudah diluncurkan oleh Jokowi beberapa waktu lalu. Banyak mesin bus yang cepat panas, mesin sulit dinyalakan, dan proses kelistrikan yang sulit karena korosi di kepala aki. Bahkan, ada bus yang tabung pendingin mesinnya tiba-tiba meledak.

Setelah diusut, ditemukan juga kejanggalan dalam proses pengadaan bus. Pihak yang mendatangkan bus, yakni PT San Abadi, bukan pemenang tender. Terungkap bahwa PT San Abadi merupakan subkontrak PT Saptaguna Dayaprima, salah satu dari lima pemenang tender.

Hal ini dipertanyakan karena situasi tersebut memungkinkan adanya penggelembungan dana anggaran tender. Kasus itu telah ditangani Inspektorat Pemprov DKI Jakarta. Beberapa pejabat yang terlibat pengadaan bus telah diperiksa, antara lain mantan Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono dan Sekretaris Dinas Perhubungan Drajat Adhyaksa.

+++

RABU, 12 MARET 2014 | 06:56 WIB

Siapa Bimo Putranto, Eks Tim Sukses Jokowi

Siapa Bimo Putranto, Eks Tim Sukses Jokowi

Seorang petugas saat melintasi bus TransJakarta gandeng bekas dari Cina di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (4/12). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO Jakarta:–Michael Bimo Putranto, sosok yang dituding bermain itu sebenarnya bukan orang asing bagi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Mereka sama-sama politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dari Solo, Jawa Tengah. Ketika Jokowi terpilih menjadi wali kota pada 2005, laki-laki 41 tahun itu duduk di Dewan Perwakilan Daerah kota yang sama.

Sebagai Wakil Ketua PDI Perjuangan Solo, Bimo termasuk dalam tim sukses Jokowi yang berpasangan dengan F.X. Hadi Rudyatmo, Ketua PDI Perjuangan Solo, pada pemilihan wali kota. Meskipun pada Pemilihan Umum 2009, Bimo gagal kembali ke kursi Dewan. Tapi peran politiknya tak pernah jauh dari Jokowi. Apalagi ia kemudian ditunjuk menjadi Wakil Ketua PDI Perjuangan Jawa Tengah.
“Selama di Solo, mereka memang terlihat dekat, tapi saya tak tahu seperti apa kedekatannya,” kata Bambang Wuryanto, Ketua PDI Perjuangan, tentang hubungan Jokowi dan Bimo. (Baca:Jokowi: Banyak Orang Klaim Dekat dengan Saya)
Bimo ikut pindah Jakarta ketika Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminta Jokowi ikut bertarung pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012. (Baca: PDIP Bantah Bimo Tim Sukses Jokowi)
Bimo bergabung dengan tim relawan Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama–politikus Partai Golkar yang diajukan Partai Gerakan Indonesia Raya. Pasangan ini memenangi pemilihan dalam dua putaran.
Bimo tak menyangkal kabar tentang hubungan politiknya yang dekat dengan Jokowi. Menurut dia, hubungan itu sebatas kolega partai. “Kami dari daerah yang sama,” ujar alumnus Teknik Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.  (Baca: Kata Jokowi Soal Eks Tim Suksesnya di Proyek Busway dan Jokowi: Serangan Politik Sudah Biasa)

Nama  Michael Bimo Putranto disebut-sebut terlibat dalam Proyek pembelian bus Transjakarta senilai Rp 1,5 triliun oleh pemerintah DKI Jakarta yang  diduga bermasalah. Bimo yang juga Presiden Pasoepati, klub pendukung Persis Solo, seperti dikutip laporanmajalah Tempo edisi Senin, 10 Maret 2014, disinyalir turut bermain dalam proyek pengadaan busway.
Persoalan proyek ini meledak awal Februari 2014, ketika ditemukan banyak kerusakan pada sebagian dari 90 bus baru yang diparkir di Unit Pengelola Transjakarta di Cawang, Jakarta Timur. Baru sehari diresmikan pengoperasiannya oleh Gubernur Jokowi, yakni pada 15 Januari 2014, beberapa bus mogok. (baca: Aneka Masalah Bus Transjakarta Baru Jokowi  )

Dari 30 bus gandeng yang diluncurkan itu, 12 di antaranya tak bisa berjalan keesokan harinya. Pengelola Transjakarta menemukan macam-macam kerusakan. Yang “ringan” adalah pintu sulit dibuka dan penyejuk udara sering mati. (baca: Aneh, Lelang Busway Cacat Tak Libatkan BPKP)

Pada 12 Februari 2014, Udar Pristono diberhentikan dari jabatan Kepala Dinas Perhubungan DKI, yang didudukinya sejak Juni 2010–pada pemerintahan Fauzi Bowo. Kini dia “diangkat” menjadi anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan. (baca: Bus Berkarat, Jokowi Copot Kepala Perhubungan)

++++++++++++++++

DTKJ: Bimo Pernah ke China Mewakili Jokowi

Rabu, 12 Maret 2014 | 23:19 WIB
Alsadad RudiMichael Bimo Putranto saat berada di Balaikota Jakarta, Rabu (12/3/2014)
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor Nainggolan mengatakan, Michael Bimo Putranto pernah mewakili Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menghadiri seminar tentang penerapan sistem bus rapid transit(BRT) di Guangzhou, China, 31 Oktober-3 November 2013.

Menurut Tigor, di Negeri Tirai Bambu itulah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Bimo. Bimo merupakan pria yang disebut-sebut dekat dengan Jokowi.Menurut pemberitaan salah satu media massa nasional, ia merupakan makelar proyek pengadaan bus berkarat transjakarta.”Undangan workshop-nya berasal dari LSM China terkait sistemdirect service BRT di China. China sudah menerapkan sistem BRT yang terintegrasikan dengan bus biasa. Saya saat itu mewakili tim Fakta ada empat orang, pihak LSM, Kepala Kopaja, dan tiga perwakilan dari DKI,” kata Tigor di Balaikota Jakarta, Rabu (12/3/2014).

“Dia bilang sendiri kalau utusan Pak Jokowi dan kenal dekat sama Pak Jokowi, tanpa saya tanya. Waktu itu Pak Jokowi tidak bisa datang,” katanya lagi.

Sebelumnya, Bimo memang sempat mengakui jika ia pernah berkunjung ke China menjelang akhir tahun lalu. Namun, kunjungan tersebut bukan dalam rangka berkunjung ke pabrik bus Ankai di Hefei. Ankai merupakan produsen bus transjakarta yang terletak di Hefei, Provinsi Anhui.

“Ke Ankai bareng Dishub itu ndak pernah. Kalau bareng Azas Tigor pernah, tapi jalan-jalan tok,” ujarnya.

Belum ada keterangan dari Jokowi maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait informasi bahwa Bimo mewakili Jokowi saat seminar di China itu.

++++++++=

TransJakarta Bermasalah, Pengamat: Pengawasan Jokowi Lemah

“Mereka seakan-akan dipermainkan sama anak buah.”

ddd
Kamis, 13 Maret 2014, 19:09 Finalia Kodrati, Rohimat Nurbaya
Bus baru Transjakarta bermasalah

Bus baru Transjakarta bermasalah (VIVAnews/Muhamad Solihin)
VIVAnews – Pengadaan 656 bus transJakarta dan Bus Kota Terintergrasi Busway (BKTB) yang bermasalah, dinilai karena lemahnya pengawasan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo terhadap anak buahnya. Ditambah lagi salah satu rekanan bisnis Jokowi ketika di Solo, yakni, Michael Bimo Putranto diduga ikut terlibat dalam proyek pengadaan bus tersebut.
Bimo diduga pernah ke Ankai, China untuk memantau proses pengadaan bus. Akibatnya, kasus tersebut mencuat dan berdampak pada citra Jokowi sebagai Gubernur dan politisi.
Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna mengatakan, kasus pengadaan bus tersebut merupakan bukti sistem pengawasan Jokowi terhadap anak buahnya sangat lemah. Kemudian yang patut disalahkan juga adalah anak buah Jokowi yang mudah percaya dengan orang yang mengaku dekat dengan Jokowi
“Kenapa banyak yang mengaku orang dekat Jokowi? Karena sistem yang dijalankan Jokowi lemah. Makanya banyak orang yang pernah dekat dengan Jokowi memanfaatkan itu,” kata Yayat, Kamis, 13 Maret 2014.
Disampaikan Yayat, terkait dengan pernyataan Jokowi dan Ahok yang mengaku merasa dipermainkan oleh para pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, itu dianggap karena kesalahannya sendiri. Menurutnya, dengan adanya kasus tersebut bisa jadi bukti kelemahan sistem pengawasan yang dilakukan Jokowi.

“Itu jelas pengawasan lemah. Mereka seakan-akan dipermainkan sama anak buah. Kenapa bisa begitu, karena pengawasannya lemah,” tuturnya. (umi)

++++

SELASA, 11 MARET 2014 | 08:28 WIB

Pengawas PengadaanTransjakarta Pakai Alamat Palsu

Pengawas PengadaanTransjakarta Pakai Alamat Palsu   

Sebuah Bus Transjakarta baru asal cina tiba di Pelabuhan Indonesia Kendaraan Terminal, Tanjung Priuk, Jakarta, (23/12). Sebanyak 12 Bus Transjakarta baru asal China tersebut didatangkan untuk menambah armada transportasi massa warga Jakarta. Tempo/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.COJakarta –  Satu di antara perusahaan pemenang tender pengawas pengadaan bus-bus baru Transjakarta yang belakangan ditemukan banyak rusak ternyata menggunakan alamat palsu.

Perusahaan ini, PT Citra Murni Semesta, tercatat sebagai pengawas untuk pengadaan dua paket bus gandeng oleh importir PT Korindo Motor dari pabrikan Yutong Bus (30 unit) dan PT Ifani Dewi dari Ankai Bus (30 unit)–keduanya dari Cina–senilai total lebih dari Rp 240 miliar. (Baca: Ada Eks Tim Sukses Jokowi Bermain di Busway Karatan?)

Dalam dokumen lelang yang diperoleh Tempo, perusahaan ini beralamat di Jalan Tebet Timur Dalam Raya Nomor 59, Tebet, Jakarta Selatan. Namun, yang didapat pada alamat itu adalah sebuah kios fotokopi. “Kalau Nomor 59, Jalan Tebet Timur Dalam Raya, memang di sini. Tapi, kalau PT itu, ada di perumahan belakang,” kata pegawai kios itu, Senin, 10 Maret 2014.

Pegawai tersebut menunjuk sebuah rumah bergarasi dan terdiri atas dua lantai yang berjarak 200 meter dari lokasinya saat itu. Di rumah itu tak ada satu pun papan petunjuk sebagai kantor PT Citra.

“Tidak tahu kenapa PT Citra pakai alamat kios ini,” ujar pegawai fotokopi itu. Namun, dia mengakui, sebelumnya banyak yang kebingungan saat mencari perusahaan tersebut. “Sudah enam tahun mereka pakai alamat sini.”

Kantor PT Citra ada di lantai dua rumah itu. Ada sejumlah komputer meja di sana, tapi tak ada aktivitas. Hanya ada satu karyawan.

Si karyawan membenarkan kantor itu milik PT Citra. Namun, dia tak bersedia bicara berkaitan dengan pengawasan terhadap pengadaan bus-bus baru Transjakarta asal Cina itu. “Direktur sedang rapat di luar, saya tidak berwenang bicara,” ujarnya sambil meminta Tempopergi.

Sumber Tempo di lingkungan Balai Kota mengatakan para pengawas juga menjadi sorotan dalam kisruh pengadaan total 656 bus baru Transjakarta yang berasal dari lelang tahun lalu. Mereka diduga lalai sehingga bus yang berkarat dan rusak bisa lolos. “Hal ini sudah disebutkan dalam laporan Inspektorat ke Gubernur,” ujar sumber tadi. (BPKP Audit Pengadaan Bus Transjakarta)

TIM TEMPO

 

Onderdil Tak Sesuai Standar

KAMIS, 6 MARET 2014

kompas logo

Di DKI apa sih yang sesuai dengan standar ???

Bajaj butut aja masih beroperasi dengan onderdil entah apa ? Metro Mini ?  Nah sekarang ditambah lagi Buscin  ” Transjakarta (eks impor dari China) ??  Nanti ada monorel juga eks China dan subway entah eks apa (japan ?) . Yang terakhir  Subway, jika sistem pemeriksaan dan pengujiannya masih seperti sekarang, alat transportasi masal di DKI justru mengundang bencana yang masif !

 

Mesin Bus Berbahan Bakar Gas Lebih Mudah Panas

JAKARTA, KOMPAS —  Beberapa bus transjakarta yang terbakar belakangan ini dipicu korsleting pada instalasi listrik. Kondisi itu diduga terjadi akibat mesin bus yang memanas. Spesifikasi mesin bus transjakarta yang berbahan bakar gas selama ini tidak sesuai dengan standar spesifikasi.Kepala Seksi Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Lukman Iskandar, Rabu (5/3), mengatakan, dari analisis sementara tim penguji kendaraan diketahui, bus transjakarta yang terbakar tersebut lebih disebabkan korsleting pada kabel listrik bus. Diduga korsleting itu terjadi akibat mesin bus yang memanas.

Sebagai bus berbahan bakar gas, kata Lukman, mesin transjakarta akan lebih mudah panas dibandingkan mesin diesel yang berbahan bakar solar. Dengan kondisi mesin yang mudah memanas, seluruh jaringan kabel di bus itu harus dilindungi dengan kulit kabel yang tebal.

”Analisis sementara kami, kemungkinan kabel yang digunakan adalah kabel untuk bus bermesin diesel, bukan kabel untuk mesin berbahan bakar gas,” katanya.

Untuk keselamatan penumpang, menurut Lukman, tim penguji kendaraan di PKB Dishub DKI kini sedang merumuskan spesifikasi suku cadang bus berbahan bakar gas yang aman. Rumusan itu nanti digunakan untuk kepentingan impor bus angkutan massal selanjutnya.

Menurut Lukman, sejauh ini tidak ditemukan masalah pada transjakarta yang menjalani pengujian kendaraan bermotor. Sebagai unit yang menguji kendaraan, PKB juga hanya memeriksa kondisi bus secara terbatas saat pengujian berlangsung.

”Kami tak menjamin bus-bus itu layak sampai enam bulan ke depan sesuai masa berlaku uji PKB. Sebaliknya, masing-masing operator bertanggung jawab merawat bus-bus itu,” katanya.

Namun, Lukman mengakui, sejumlah operator transjakarta tidak menjalankan pengujian kendaraan bermotor.

Mengenai spesifikasi bus, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menanyakan mengapa hanya bus dari China yang dipakai untuk transjakarta. Menurut Basuki, DKI memiliki modal yang cukup membeli bus dengan spesifikasi lebih tinggi, seperti produk buatan Eropa.

Terikat perdaSpesifikasi transjakarta yang dijalankan tidak lepas dari amanat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Sesuai amanat perda tersebut, angkutan umum didorong menggunakan bahan bakar bas.

Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub Provinsi DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, bus penumpang yang menggunakan bahan bakar gas lebih banyak diproduksi perusahaan asal China dan Korea. Produsen bus dari Eropa lebih banyak memproduksi bus berbahan bakar solar kualitas tinggi. Kalaupun ada, produsen otomotif Eropa memproduksi bus dalam bentuk rangka.

Tulus Abadi dari Dewan Transportasi Kota Jakarta meyakini, masalah spesifikasi suku cadang transjakarta tetap berawal dari ketiadaan standar pelayanan minimal (SPM). ”SPM itu juga mengatur bahwa kalau mau aman dan performa bus terjaga, operator harus memiliki spesifikasi mesin serta fasilitas bengkel dan teknisi ahli sesuai standar bus berbahan bakar gas,” katanya.

Rudy Thehamihardja dari Masyarakat Transportasi Indonesia sebelumnya mengingatkan agar transjakarta diperiksa ulang agar kejadian rusak, mogok, hingga terbakar tidak terjadi setiap hari. (MDN/NEL/NDY)

Wah, Penggelembungan Pengadaan Bus Transjakarta Capai Rp53M

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penggelembungan pengadaan Bus Transkjakarta mencapai Rp53 miliar, kata Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azas Tigor Nainggolan.
“Penggelembungan sudah terdeteksi sebanyak Rp53 miliar lebih,” kata Azas di Gedung KPK, Jakarta, Senin.

Menurut Azas, kedatangannya ke KPK merupakan bagian dari upaya melengkapi data terkait pengaduan dugaan “mark-up” pengadaan Bus Transjakarta yang dilakukan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Penggelembungan itu terjadi untuk bus-bus Transjakarta tipe “single” (tunggal), “medium” (bus kota terintegrasi busway) dan gandeng (articulated) mencapai Rp53.476.770.800476.770.800.

Berdasarkan penghitungan fakta, kerugian tersebut disebabkan adanya perbedaan angka dalam lima paket lelang. “Telah terjadi kecurangan dan kolusi dalam pengadaan bus sebanyak 656 unit,” katanya.

Penggelembungan itu, kata Azas, muncul lantaran dalam proses lelang pihak panitia lelang Dinas Perhubungan membuat klasifikasi melalui lima paket lelang dengan daftar harga yang berbeda-beda. Maka setiap perusahaan pengadaan bus otomatis ikut mendapatkan harga yang berbeda.

Dengan kata lain, pelelangan itu menjadi terpecah-pecah dan potensi “mark-up” semakin terlihat.

“Berbagai opsi lelang sebenarnya bisa dilakukan. Salah satunya dengan hanya membuka lelang untuk satu paket per tipe bus. Dengan hanya membuka lelang satu paket saja, maka potensi keberagaman harga dapat hilang.”

“Maka jika satu kali lelang saja dengan spesifikasi yang sama, dapat mengirit keuangan sampai Rp53 miliar,” katanya

Dishub DKI ingin ubah prilaku sopir metromini

 Hehe.. sulitlah. mengubah prilaku PNS Dishub  yang doyan  “ngutip dan korup” saja tidak bisa ! Apalagi mau ubah prilaku sopir Metro mini .    Sudah bertahun tahun mereka dibiarkan berlaku seenaknya sendiri, mana bisa ditertibkan. Mungkin lebih baik mereka dikirim dan diberi modal agar bisa menarik angkot di kampung halamannya saja.
Jika Dishub masih ngotot untuk mengubah prilaku sopir, sama saja buang buang uang rakyat dan bikin masalah saja !  Nanti masalah ke depannya adalah sopir Metromini ini ugal ugalan dengan bus rongsokan dari China. Apa jadinya ibukota tercinta ?????

Dari Kontan online..

Selasa, 25 Februari 2014 | 10:50 WIB
Telah dibaca sebanyak 273 kali
Dishub DKI ingin ubah prilaku sopir metromini

JAKARTA. Prilaku berkendara para sopir metromini dan kopaja menjadi sorotan Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Rencananya, mereka akan diberi pelatihan mengemudi agar lebih disiplin dan taat pada aturan lalu lintas.

“Memang kan bus-bus kopaja dan metromini sudah tua-tua, jadi nanti mau diganti dengan bus-bus sedang milik transjakarta. Secara perilaku mengemudi juga harus berbeda. Sistemnya juga nanti bukan lagi sistem setoran, tapi nanti digaji,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Muhammad Akbar kepada Kompas.com, Selasa (25/2/2014).

Menurut Akbar, rencana tersebut juga merupakan bagian dari program perekrutan sopir bus transjakarta, yang menyediakan lowongan untuk sekitar 1.500 orang. Demi menyukseskan pelatihan tersebut, kata Akbar, pihak Dishub akan menggandeng beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM).

“Sebagai produsen, mereka pasti punya training center untuk produk-produk mereka,” ujar Akbar.

Kemarin, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, rencana pelatihan untuk sopir-sopir kopaja dan metromini akan dilakukan jika bus-bus yang dibeli oleh Pemerintah  DKI sudah datang.

“Nanti kita akan minta dari Hino atau dari Skania untuk latih,” kata Basuki di Balaikota Jakarta.

Tahun ini, Pemprov DKI berencana akan mendatangkan sekitar 4.000 bus baru dari China. Kedatangan bus baru diharapkan dapat menggantikan bus-bus tua yang sudah tidak layak beroperasi. (Alsadad Rudi)

Ahok: Maunya Standar Internasional, Nyatanya. WEICHA!

Gimana Hok aparat birokrasi lue emang budaya korup dan munafik sudah dari sono nya.  mereka didandani hari Jumat pakai baju koko biar keliatan Islami, tidak mempengaruhi apapun, malah tambah dosa!

 

RABU, 19 FEBRUARI 2014 | 17:30 WIB

Ahok: Maunya Standar Internasional, Nyatanya...

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Tempo/Aditia Noviansyah

TEMPO.COJakarta – Setelah pengadaan bus TransJakarta dianggap bermasalah, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mulai mempermasalahkan pengadaan bus tingkat yang akan dijadikan bus pariwisata.(baca:Pengadaan Busway Diduga Ada Kesalahan Prosedur)
“Bus pariwisata juga masalah. Kami maunya standar internasional. Tapi nyatanya yang standar internasional cuma luarnya,” kata Ahok. “Misalnya, bodinya lisensi Australia, mesinnya Weichai, terus masih mau diuji lagi di Dirjen Perhubungan Darat. Kan, konyol beli mobil kayak gitu.”

Padahal, menurut Ahok, DKI meminta pembelian bus tingkat berkualitas bagus seperti yang ada di Solo atau Singapura. “Beli tuhkayak di Solo atau di Singapura. Kan, tinggal pesen Mercedes-Benz, Volvo, atau Scania, udah jelas, kan? Kenapa mesti beli bus dengan mesin baru yang di Indonesia pun gak punya onderdilnya? Mana ada orang bodoh kayak gitu?” katanya.(baca: Hari Ini, Inspektorat Lapor soal Busway ke Jokowi)
AW | ANT

Ahok Ternyata “Pernah” Minta Tender Bus Transjakarta Dihentikan

Lha kenapa tidak dihentikan saja ??  Sekarang barang sudah datang  dan di approve oleh para birokrat pencoleng dari Dishub Pemprov DKI, mau diapakan ?

Diperbaiki seperti usul BPPT ?   Konyol sekali. ( peran BPPT disini juga sangat mencurigakan )

Terus masyarakat yang berharap dengan layanan transportasi yang baik dan nyaman harus tunggu lagi ??

Dokumen tender baru ente baca setelah ketahuan publik, Hok ??
Rabu, 19 Februari 2014 | 17:54 WIB

Ahok Ternyata Pernah Minta Tender Bus Transjakarta Dihentikan

Seorang petugas memperhatikan Bus Transjakarta jurusan Pinang Ranti-Pluit yang ditembak orang tidak dikenal di Polda Metro Jaya, Jakarta, (11/02). Tempo/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pernah meminta penghentian proyek pengadaan bus Transjakarta buatan Cina. Dia beralasan ketika itu para pemenang tender tak bisa memenuhi tenggat pengadaan.

“Saat itu saya tanya ke Dinas Perhubungan soal keterlambatan ini,” kata Ahok–sapaan akrab Basuki–di Balai Kota, Rabu, 19 Februari 2014. Ahok menemui Dinas Perhubungan pada Desember 2013, sedangkan tender sudah selesai sejak akhir Juli.

Menurut Ahok, Dinas Perhubungan berpendapat masih ada masa tenggang keterlambatan selama 50 hari, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa. Ahok mengungkapkan celah inilah yang diduga dimanfaatkan Dinas. “Makanya saya akan meminta tafsir dari Lembaga Pengawas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) soal tafsir keterlambatan ini,” ujar mantan Bupati Belitung Timur ini.

Ahok berpendapat pembelian bus tidak bisa disamakan dengan konstruksi. “Kalau itu proyek bangun jembatan atau gedung tidak masalah telat 50 hari, tapi ini bus, bukan konstruksi,” kata Ahok. Ini juga yang menjadi alasan Ahok tidak mau melunasi pembayaran ratusan bus asal Cina tersebut. (Baca: Tidak Dilindungi, Busway Pasti Karatan)

Setelah ada tafsir dari LKPP, Ahok ingin Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan melakukan audit.  Dengan begitu, pemerintah DKI bisa mengetahui jumlah kerugiannya atas proyek ini. (Baca: Ahok : Maunya Standar Internasional, Nyatanya..)

SYAILENDRA

+++++++++++++++

Rabu, 19 Februari 2014 | 17:35 WIB

Geram Ahok Soal Busway: Bus Rp 1 M Ditulis Rp 3 M

Geram Ahok Soal Busway: Bus Rp 1 M Ditulis Rp 3 M   

Sejumlah Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) yang dirusak saat diamankan di Polsek Penjaringan, Jakarta, (11/2). 4 BKTB dirusak oleh sejumlah supir yang menolak atas diberlakukannya trayek yang melewati jalur angkot KWK U11 dan KWK 01. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengaku sudah membaca laporan Inspektorat Jenderal Provinsi DKI. Hasil pengendusan ditemukan sejumlah indikasi kecurangan dalam proses lelang pengadaan bus TransJakarta gandeng, juga Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB).

“Saya sudah terima laporan. Ada kecurangan dalam pengadaan bus TransJakarta dan BKTB. Kecurangan itu pada proses lelang,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2014. (Baca: Hari Ini, Inspektorat Lapor soal Busway ke Jokowi)

Menurut Ahok,  dari dokumen lelang itu ditemukan ada penggelembungan luar biasa pada harga. Pemenang tender pun juga sudah ditentukan. “Kecurangan itu, misalnya, harga bus yang harga aslinya di Cina sebesar Rp 1 miliar tapi dalam dokumen malah ditulis Rp 3 miliar,” kata Ahok. Selain itu, kata Ahok, pemenang tender juga sudah ditentukan. “Ini kan curang namanya.” (Baca: BPPT: Vendor Wajib Ganti Komponen Bus TransJakarta)

Karena itu, Ahok menduga ada sejumlah pihak terlibat dalam kasus pengadaan itu. Sebagai pemegang kuasa anggaran sekaligus panitia lelang, Dinas Perhubungan Jakarta diminta bertanggung jawab. “Mereka yang pegang anggaran, mereka juga panitia lelangnya TransJakarta dan BKTB,” kata Ahok.

Ahok menegaskan bahwa untuk mengetahui kecurangan-kecurangan yang terjadi secara lebih rinci, dia meminta Inspektorat Provinsi DKI turut melibatkan BPKP DKI Jakarta. “Perlu ahli audit keuangan, terutama penyelenggaraan proyek,” ujarnya. “Sekarang kan kita sudah bisa melihat mark up anggaran,” Ahok menambahkan. (Baca: BPKP Minta Dilibatkan Proses Tender Busway Karatan)

Sebanyak lima unit bus gandeng TransJakarta dan sepuluh unit bus BKTB impor dari Cina ditemukan dalam keadaan berkarat. Sebelumnya diduga penyebab karatan itu karena penggunaan suku cadang bekas atau rekondisi tapi dinyatakan dengan harga suku cadang baru.

Sebetulnya beberapa merek ternama dan sudah teruji dari Eropa juga mengajukan diri turut dalam lelang pengadaan bus TransJakarta itu dengan harga wajar. Informasi menyebutkan harga satu unit bus gandeng benar-benar baru merek Eropa berada pada kisaran Rp 3 miliar termasuk ongkos kirim.

AW | ANT

 

++++++++++++++

DKI JAKARTA Baru 50% Bus Trans-Jakarta Siap Pakai

sumber :
http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2014/02/19/ArticleHtmls/DKI-JAKARTA-Baru-50-Bus-Trans-Jakarta-Siap-19022014008006.shtml?Mode=1#

Bus yang sudah sempurna baru 50%, sisanya belum boleh beroperasi. Meski
hanya ada kerusakan kecil, kalau dampaknya bisa membahayakan di jalan,
belum diizinkan beroperasi.

HINGGA saat ini hanya sekitar 50% dari 170 bus baru TransJakarta yang
sempurna dan siap dioperasikan. Sisanya masih dalam perbaikan beberapa
komponen yang rusak.
Direktur Pusat Teknologi Industri dan Sistem Transportasi Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Prawoto mengatakan pengadaan
bus Trans-Jakarta dan bus sedang terdiri dari 14 paket. Enam paket di
antaranya di bawah pengawasan BPPT, yaitu sekitar 170 unit.

“Yang sudah sempurna baru 50%, sisanya belum boleh jalan. Meski hanya
ada kerusakan kecil, kalau dampaknya bisa membahayakan di jalan, belum
kita beri izin,” kata Prawoto di BPPT, Jakarta, kemarin.

Menurutnya, bus TransJakarta harus melewati dua tahap pengujian sebelum
diizinkan beroperasi, yakni uji fungsi dan uji tipe. Bus dinyatakan
sempurna jika lulus dua pengujian. “Misalnya sensor pintu tidak
berfungsi dengan baik, tetap kami larang beroperasi dan harus
diperbaiki,” ujarnya.

Selain itu, masih ada masa perawatan satu tahun atau 100 kilometer yang
dibebankan kepada vendor. Hingga saat ini, menurut Prawoto, pihaknya
bersama Dinas Perhubungan DKI tengah melakukan evaluasi menyeluruh
terhadap bus-bus yang baru didatangkan dari China tersebut. “Rekomendasi
sementara memang masih terdapat bus yang belum selesai dan kualitas
pekerjaan kurang baik,” ujarnya.

Dalam pengadaan armada angkutan massal itu, BPPT juga berperan saat
perenca naan spesifikasi teknis bus articulated, singel, dan medium.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa spesifikasi bus diubah
berdasarkan Peraturan Pemerintah No 55/2012 tentang Dasar Penentuan
Spesifikasi dan Performance Kendaraan.
Spesifikasi diubah Spesifikasi yang diubah di antaranya beban bus dari
semula 31 ton menjadi 26 ton.
Selain itu, tipe tabung gas untuk bahan bakar diubah dari semula tipe
dua menjadi tipe empat. “Tabung yang digunakan sekarang lebih bagus dan
lebih ringan. Nantinya BBG bisa digunakan dari pagi sampai malam
sehingga bus tidak perlu mengisi BBG saat melayani penumpang seperti
saat ini,” ungkapnya.

Mengenai harga bus yang dinilai terlalu mahal, menurut Prawoto, harga
penawaran sementara (HPS) sudah sesuai dengan aturan, yaitu berdasarkan
daftar harga pabrikan, biaya kontrak sebelumnya, dan laju inflasi
sebelumnya.
Daftar harga yang dikeluarkan pabrikan diperoleh dari Inobus (PT Inka),
Scania (Eropa), Yutong (China), Zhongtong (China), Ankai (China), dan
Hino (Jepang).

Selain itu, lanjut Prawoto, penilaian bahwa harga bus terlalu mahal
harus dibandingkan dengan spesifikasi serupa. (Ssr/Nda/J-4)

Busway Gandeng (eks China) Berasap di Jalan Hayam Wuruk

Mau tunggu lagi sampai kapan ?? Bus gandeng eks China ini mirip dengan Mochin (motor bebek eks China) > Dipakai sebentar langsung jadi barang kiloan.. Nah bus gandeng baru tapi bekas ini mendingan dijadikan rumpon saja bersama dengan bus PPD yang sudah busuk.
 
Kenapa ya Jokowi yang dulu beli mobil Esemka ( sekarang gmn nasib itu mobil tidak jelas, setelah digadang gadang si Joko) biar dapat pencitraan Nasionalis dan cinta produk Indonesia, tapi sudah menjabat jadi orang no 1 DKI menjadi cinta produk China ?? 
Project pembelian bus gandeng semuanya eks China, dengan alasan perlu cepat (DADAKAN). Si Joko pikir buat bus seperti bikin sambel colek.. Ampyunnn dah
Nah sekarang yang datang bus gandeng rongsokan ! Si Joko hebatnya langsung menyalahkan anak buahnya yang notabene juga korup (peninggalan Foker dan Suti) mana ada yg tidak korup. Si Joko masih adem ayem aja seperti tanpa merasa malu..  Gimana dia jadi Presiden ya ??  saya takut kalau PDIP dan Joko menang jadi Presiden, Indonesia bakal digulung oleh produk China semua, mulai dari ketan sampe  pesawat terbang. Orang sepertinya sudah lupa bahwa PDIP dan GOLKAR adalah partai yang paling korup di Indonesia  !
 
 
 
 
Warga jakarta ya .. kau suruh naik sepedah saja , Joko ! 
 
 
Selasa, 18 Februari 2014 | 10:31 WIB

 

Busway Gandeng Berasap di Jalan Hayam Wuruk  

Peluncuran layanan Bus TransJakarta Koridor XI berlangsung di Jatinegara-Kantor Walikota Jakarta Timur, Rabu (28/12). Berbeda dengan koridor-koridor TransJakarta lainnya, Koridor XI yang berjarak 11,76 km dan dilayani 21 bus gandeng tersebut menyediakan fasilitas khusus pendukung untuk tuna netra. Ditargetkan koridor ini melayani 40.000 penumpang setiap hari. TEMPO/Tony Hartawan

 

TEMPO.CO, Jakarta -Sebuah Bus Transjakarta gandeng terlihat berasap di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Selasa pagi 18 Februari 2014.

Informasi dari akun twitter Polda @TMC menyebutkan Bus Transjakarta dengan nomor  TransJ B 7539 TGA terbakar di bagian mesin, di dpn SPBU Gajah mada arah harmoni sekitar pukul 9.40 WIB. (Baca: Busway Baru tapi Bekas Bahayakan Penumpang)

Kejadian terbakar bukan kali ini saja. Sebelumnya, Bus Transjakarta koridor IV jurusan Pulogadung-Dukuh Atas terbakar di Jalan Raya Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat siang, 24 Januari 2013. Api diduga berasal dari panasnya mesin radiator.

Menurut Pengamat transportasi Djoko Setijowarno, bus-bus Transjakarta yang rusak berbahaya bagi keselamatan penumpang. Dia mendesak Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk serius menelisik pengadaan bus ini. “Jangan sampai ada kejadian dulu baru turun serius,” kata Djoko, ketika dihubungi pada Senin, 10 Februari 2014. “Ini bisa berakibat fatal seperti bus terbakar.” (Baca: Busway Baru Jokowi dari Cina Barang Bekas?)

Sebab, menurut Djoko, kondisi bus tersebut sudah parah dan terkesan seperti tidak dirawat. Misalkan, kepala aki yang berkarat dan kabel yang mengelupas sehingga rawan ada hubungan arus pendek.

Jangka panjangnya, menurut  Setijowarno, masyarakat bisa semakin antipati menggunakan bus Transjakarta. Sebab, mereka khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Padahal, ini merupakan bagian dari pengadaan angkutan massal DKI Jakarta,” ujarnya. (baca: Jokowi Diminta Audit Busway ‘Baru tapi Bekas’)

Seperti diberitakan sebelumnya, bus-bus baru Transjakarta diketahui bermasalah. Penelusuran Tempo soal kondisi busway baru, fanbelt-nya mudah putus, AC sering mati atau bocor, mesin sering terlalu panas, beberapa bagian vital, seperti aki, turbo, dan radiator berkarat.

TMC| Tempo

 

++++

Pejabat Kemenperin: Kita Punya 2 Pabrik Bus, Jadi Buat Apa Impor?

Rista Rama Dhany – detikfinance
Senin, 25/11/2013 13:28 WIB
 
 
 
 
https://i2.wp.com/images.detik.com/content/2013/11/25/1036/buswaydalam.jpg
Jakarta -Pihak kementerian perindustrian (Kemenperin) menegaskan Indonesia sudah punya 2 pabrik produksi bus termasuk untuk keperluan angkutan busway. Namun kenyataanya banyak kebutuhan bus di dalam negeri masih dipasok dari impor.

Misalnya Pemerintah DKI Jakarta tahun depan akan menambah 1.000 unit bus untuk transJakarta (busway) yang sebagian besar dipasok dari impor. Bahkan pada Desember tahun ini saja akan datang 60 unit bus dari China.

“Kita itu punya 2 perusahaan pembuat bus, termasuk busway, kapasitas produksi kita bisa 300.000 unit bus dan truk per tahun,” kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi, dihubungi, Senin (25/11/2013).

Budi mengatakan 2 produsen bus tersebut diantaranya PT Industri Kereta Api (INKA) dengan produksi bus dengan nama Inobus, PT Asian Auto International yang memproduksi Bus Komodo.

“Industri bus dan truk Indonesia semakin berkembang pesat, apalagi produsen mendapatkan insentif dari pemerintah berupa penghapusan PPnBM 0%, makanya industri ini tumbuh bahkan kita sudah ada 1.000 pabrik karoseri (pembuat kerangka atau chasis mobil, bus dan truk),” ujarnya.

Budi mengungkapkan harus ada sikap tegas untuk mendukung produk dalam negeri, agar industri dalam negeri berkembang pesat, caranya dengan membeli dan memakai produk dalam negeri.

“Kita punya pabriknya disini, jadi buat apa impor, kalau alasannya karena produksi dalam negeri tidak cukup memenuhi kebutuhan, bukan masalahnya kita tidak bisa, cuma karena pesannya dadakan tentu tidak bisa, kalau bilangnya saya pesan 100 bus 6 bulan, industri kita tentu mempersiapkan segalanya, kalau pesannya dadakan ya siapa yang siap, kan harus siapkan dana investasinya, siapkan kerangka chasisnya, yang siap ya bus-bus impor yang tinggal masuk, ya itu kalau kita cinta produk dalam negeri ya,” katanya.

Seperti diketahui Pemerintah DKI Jakarta ingin menambah 1.000 unit bus untuk bus TransJakarta untuk menambah jumlah armada TransJakarta yang saat ini baru 310 unit.

 

(rrd/hen) 

 
+++++++++++++
 

MS Hidayat Mengaku Sempat Tawarkan Bus Lokal ke Jokowi

Rivki – detikfinance
Kamis, 27/02/2014 19:52 WIB
 
 
 
 
https://i1.wp.com/images.detik.com/content/2014/02/27/1036/195505_busway_gandengc.jpg
Jakarta -Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengaku sempat menawarkan produk bus lokal kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). Ia berharap produk lokal menjadi prioritas pengadaan kendaraan bus di DKI Jakarta.

Masalah pengadaan bus impor merek Zong Tong asal China pada 2013 lalu sempat menjadi polemik. Beberapa produk mengalami kerusakan padahal kondisinya masih baru.

“Saya menawarkan, tapi dulu kalah tender, nggak tahu pakai PT apa, mudah-mudahan ini dia (Jokowi) teringat kembali,” katanya di Istana Negara, Kamis (27/2/2014)

Hidayat menegaskan, industri dalam negeri sudah bisa memasok bus dan produk mobil segmen komersial lainnya. Saat ini sudah ada produk-produk bus lokal seperti Inobus, Komodo dan lain-lain.

“Kalau commercial vehicle, truk bus, 95% itu dibuat di dalam negeri, perakitan, semua kendaraan dalam negeri ini kalau komersial, dibuat di dalam negeri,” katanya.

Indonesia sudah punya 2 pabrik produksi bus termasuk untuk keperluan angkutan busway. Dua produsen bus tersebut di antaranya PT Industri Kereta Api (INKA) dengan produksi bus dengan nama Inobus, PT Asian Auto International yang memproduksi Bus Komodo.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi pernah mengatakan perlu sikap tegas untuk mendukung produk dalam negeri, agar industri dalam negeri berkembang pesat, caranya dengan membeli dan memakai produk dalam negeri. 

“Kalau alasannya karena produksi dalam negeri tidak cukup memenuhi kebutuhan, bukan masalahnya kita tidak bisa, cuma karena pesannya dadakan tentu tidak bisa, kalau bilangnya saya pesan 100 bus 6 bulan, industri kita tentu mempersiapkan segalanya, kalau pesannya dadakan ya siapa yang siap,” kata Budi beberapa waktu lalu.

 

(hen/dnl)